
Dokter membawa ku pindah ke ruangan lain, ruangan awal saat aku baru saja datang kemari, menjadi tempat beristirahat ku untuk dua hari ke depan. Sebenarnya dokter tidak melarang jika aku akan pulang besok sore, tapi Arga menginginkan aku mendapatkan perawatan sampai aku benar-benar kuat.
Dengan menggunakan kursi roda aku dibawa ke ruang inap, tapi aku meminta kepada perawat untuk ke ruangan bayi terlebih dahulu. Ingin melihat bayiku.
Arga mengikuti dari belakang, lorong rumah sakit masih sepi, ini sekitar jam tiga pagi, hanya ada beberapa petugas piket malam yang ada di sana, sesekali berpapasan dengan kami. Ibu dan Mbak Sus terlihat sedang di depan ruangan bayi. Menempelkan wajah mereka di kaca besar.
"Yu, lihat anak kamu! Tampan sekali!" seru Ibu sambil menunjuk ke dalam sana. Aku sudah berada di depan kaca itu, Mbak Sus sedikit menyingkir, memberikan tempat untukku.
"Yang mana, Bu?" tanyaku pada ibu. Semua bayi sepertinya berwajah sama saat dia lahir, tapi aku melihat satu anak dengan mata dan hidung yang sama dengan ayahnya.
"Itu, yang kedua dari kanan," tunjuk ibu, dan aku melihatnya. Tertulis juga ada namaku dan Arga.
Sedih rasanya, malam ini harus terpisah dengan dia.
Sebentar saja kami di sana, perawat membawaku untuk pergi ke ruanganku, meninggalkan sosok anak kecil yang baru saja aku lahiran beberapa saat yang lalu. Dengan perlahan Arga memindahkan ku ke atas ranjang, dia menarik selimut untuk hingga sampai ke atas perut.
"Apa ada yang sakit?" tanya Arga padaku. Perlakuannya lembut dan selalu lembut terhadapku. Aku menggelengkan kepala.
"Kamu mau makan? mau minum?" tanyanya lagi, Aku menggelengkan kepala juga. Tidak ada keinginan untuk makan dan minum, aku ingat dengan putraku.
"kalian akan kasih nama siapa? Apa sudah cari nama?" tanya ibu yang tadi mengikuti kami.
"Sudah, Bu. Ada catatannya di hp, kami sudah mengumpulkan beberapa yang mungkin cocok," ucap Arga.
"Alhamdulillah. Kapan bisa dibawa pulang?" tanya ibu lagi terlihat tidak sabar.
"Belum tau, Bu. Belum ada keterangan dari dokter. Semoga saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan juga kita bisa cepat membawanya pulang," ucapku yang di aamiin kan oleh ibu.
Ibu dan Arga sedang membahas soal nama, tanpa tersadar aku tertidur karena sangat mengantuk dan lelah.
***
Siang aku tersadar dari tidurku, mendengar suara yang sedikit berisik. Saat aku membuka mata, ku lihat ada beberapa orang di dalam ruangan ini, sedang duduk bersama dengan Arga di sofa dan mengobrol pelan. Ku lihat, Gara juga ada di sana di atas pangkuan ayahnya.
"Mama!" seru anak itu saat melihat aku yang sudah bangun. Dia turun dari pangkuan Arga dan berlari ke arahku, dengan susah payah naik ke atas brankar dan memelukku.
"Abang, hati-hati. Awas kamu bisa menindih Mama!" teriak Bibi dengan khawatir. Bibi mendekat, juga dengan menantunya yang membawa bayi usia hampir dua tahun.
"Selamat, Ayu. Kami senang kamu sudah melahirkan. Arga baru menelepon kami, jadi tadi malam kami gak tau kalau kamu ada di sini," ucap Bibi sambil memeluk erat, tak lupa dengan ciuman hangat di puncak kepalaku.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Bi. Repot juga kalau mengabari tengah malam, kasihan kalau sampai mengganggu yang lain istirahat," ucapku.
"Heh, tidak apa-apa, Yu. Jangan kamu selalu bilang kalau merepotkan. Kamu kan sudah menjadi bagian keluarga kami, apalagi akan ada tambahan anggota baru di keluarga besar ini. Jangan sungkan kalau ada apa-apa," ucap Bibi.
"Iya, Mbak Ayu. Jangan sungkan, saya saja yang menantu tapi rasanya betah banget sama keluarga ini. Semua baik tidak membedakan menantu dan juga anaknya," ucap menantu bibi. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kami sudah lihat tadi di ruangan bayi, ganteng banget," ungkap bibi terlihat bahagia.
"Iya, lah ganteng, mama nya cantik, bapaknya ganteng." Sambar Arga dari tempatnya duduk.
"Tapi gak adil karena semua mirip sama kamu, Gara mirip kamu, si bayi juga mirip kamu, kenapa kamu borong semua?" tanya Bibi seraya melirik kepada Arga. Pria yang di lirik hanya tersenyum meringis.
"Gak apa-apa, sekarang diborong bapaknya, next yang selanjutnya mirip sama ibunya," ucap menantu bibi sambil tertawa terkekeh.
"Heh, baru saja tadi pagi lahiran dah main next aja!" jeda dulu satu atau dua tahun, biar kakaknya nanti bisa jalan dulu, baru hamil lagi," ucap bibi sambil menepuk tangan menantunya. Semua yang ada di sana tertawa termasuk aku. Aku tidak tahu apakah aku akan menambah secepat itu atau tidak, tapi aku tidak akan mencoba menghalanginya dengan apa pun.
"Mama, kenapa gak bangunkan Abang?" tanya Gara kini yang merebahkan diri di sampingku. "Abang kan cari Mama tadi, taunya Mama ada di sini. Kan Abang gak bisa jagain mama sama dedek," ucapnya dengan cemberut.
Aku menjawil bibirnya itu dan tertawa kecil. "Mama lahirannya tengah malam, kalau bangunkan Abang kan kasihan Abangnya nanti ngantuk," ucapku padanya.
"Gak akan. Abang kalau jaga Mama gak akan ngantuk kok!" ucapnya dengan semangat.
Aku kembali tertawa, dia memang anak yang baik, anak yang sangat bertanggung jawab meski terkadang juga ada nakalnya.
"Sekarang kan dedek bayinya juga udah lahir tuh, nanti Abang yang jagain ya. Dedeknya laki-laki, Sayang." Aku memberi tahunya, entah apakah dia sudah tahu atau belum.
"Iya, sudah tau. Nanti Abang yang jagain ya. Nanti malam Abang tidur di sini. Boleh kan, Pa?" teriak Gara pada Arga. Arga tidak menggubris karena sedang berbicara dengan yang lainnya.
"Papa! Kok gak denger, sih!" teriak anak itu kesal membuat yang dipanggil kini menolehkan kepalanya.
"Eh, iya apa?" tanya Arga dari tempatnya.
"Nanti malam Abang tidur di sini ya?" pintanya.
"Jangan, besok sekolah."
"Gak mau. Pokoknya Abang nanti malam tidur di sini. Mau jagain Mama!" teriak nya lagi semakin keras. Aku sampai menutup telinga karena itu.
"Eh, jangan teriak, kasihan Mama Ayu," ucap bibi memberi peringatan pada Gara.
__ADS_1
"Nenek, Abang mau tidur di sini. Bilang ke papa." Gara menatap bibi dengan sorot mata yang memohon. Bibi tidak pernah tega jika ada anak yang seperti itu, memang pada dasarnya hati bibi sangat lembut sekali.
"Iya, nanti Nenek yang bilang sama papa kamu, tapi jangan teriak ya." Pinta bibi.
Gara tersenyum sambil mengangguk dan memeluk aku dengan erat.
"Bibi terlalu manjakan dia." Arga terdengar berbicara dengan nada kesal. "Besok Gara harus sekolah, Bi."
"Kan bisa berangkat dari sini. Semalam saja gak apa-apa, lah. Orang sayang sama Mamanya kok dilarang," ucap Bibi lalu mencubit pipi tembam Gara.
"Pa, ibu kemana? Aku kok gak lihat?" tanyaku pada Arga.
"Tadi ibu pulang dulu, katanya mau ganti baju, kan dari semalam ibu di sini. Nanti malam juga balik lagi, kok buat jagain kamu."
"Oh."
"Bibi juga pengen Yu, jagain disini, tapi di rumah tuh lagi urusin si bungsu. Mau ujian, kalau gak ditungguin nanti gak akan belajar dia," ucap Bibi dengan menyesal.
"Gak apa-apa, Bi. Merepotkan juga kalau bibi sampai tidur di rumah sakit."
"Bukan merepotkan, Yu. Tapi mau tidur di mana? Gak ada tempat." Arga memotong ucapanku. Memang benar juga sih, kalau semua mau tidur di sini akan tidur di mana? Tidak ada tempat kecuali di lantai.
Bibi dan yang lainnya telah pulang dari sini, tinggal aku, Arga dan Gara yang ada di ruangan ini, sedari tadi Gara terus bertanya kapan bayi akan di bawa kemari. Dia ingin melihatnya lebih lama.
Sebelum sore, dokter dan perawat membawa putraku di dalam inkubator ke ruangan ini. Aku dan yang lain sangat senang sekali dengan adanya dia ditengah kami. Suara tangisnya keras terdengar saat dia lapar. Tangannya yang mungil terangkat ke udara sesekali dia dekatkan pada mulutnya.
"Ma kok dedeknya kecil sekali?" tanya Gara padaku.
"Iya, dedek kan memang kecil, makanya Abang harus jagain dia, ya?" pintaku padanya. Dia mengangguk paham, lalu mengetuk kaca inkubator dengan tangannya. Entah kapan dia akan bisa ada dipangkuan ku, tidur satu kasur dengannya.
Bayiku menangis dengan keras, ibu menyuruhku untuk menyusuinya, tapi saat aku mencoba memeras, tidak ada yang keluar dari sana.
"Tidak ada airnya?" tanya ibu padaku. AKu menggeleng dengan khawatir.
"Gak ada, Bu. Gimana ini?" tanyaku bingung. Ibu mendekat dan mencoba membantu ku memeras sekali lagi, meski rasanya canggung karena dipegang oleh ibu tapi mungkin saja aku salah melakukannya. Sedikit sakit aku rasakan, tetap saja tidak ada yang keluar dari sana.
"Arga, apa selama ini memang tidak ada airnya?" tanya ibu kini kepada Arga. Arga yang ditanya seperti itu menatap ibu dengan bingung.
"Eh, air apa, Bu?" tanyanya lalu mendekat, begitu juga dengan Gara.
__ADS_1
"Kalau kalian ...." Ibu menatap Gara, dengan kedua telapak tangannya menutup telinga anak itu. Gara menatap ibu tidak mengerti.
"Kalau kalian bercinta, apa kamu gak pernah menyusu? Gak pernah rasakan ada airnya atau tidak?" tanya ibu.