
Aku seperti tidak kenal dengan diriku, jika saat hamil Azka tidak suka dia dekati, justru kali ini malah aku yang terus mendekatinya. Bahkan, sedikit memaksa dia untuk bergerak dengan lebih cepat dan juga kuat.
Ah, aku malu rasanya. Permainan kami malah aku yang lebih mendominasi, sehingga ... ya, aku yang lebih aktif daripada dia.
Keringat yang keluar dari tubuh kami membanjiri kulit, rasanya sedikit tidak nyaman membuat lengket dan harus mandi sebelum pulang ke rumah. Arga hampir terlelap tidur saat aku baru saja menyelesaikan mandiku. Rasanya melihat dia masih berbaring di sana dengan tanpa pakaian sama sekali dan hanya tertutup selimut, ingin rasanya aku menerkamnya lagi dan lagi. Akan tetapi, ingat dengan anak-anak di rumah, kami sudah pergi hampir tiga jam yang lalu. Untung saja, aku sudah sedia ASI di dalam kulkas. ASI yang berlimpah membuat aku bisa memiliki stok lebih jika sedang berpergian seperti ini.
"Pa, bangun. Mandi," panggilku pada Arga. Dia membuka matanya dengan malas.
"Lemes aku, Ma. Bisa gak tidur sebentar?" tanya Arga sambil menepuk tempat di sampingnya.
"Enggak, ah. Kasihan anak-anak kalau ditinggal lama. Pulang yuk," ucapku sambil menarik tangannya dengan kuat. Terpaksa dia berdiri, membuat selimut yang ada di tubuhnya melorot dan memperlihatkan yang tadi keras kini mengkerut. Arga berjalan ke kamar mandi tanpa ada niatan untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Tidak sampai sepuluh menit, dia telah selesai dengan mandinya. Kami segera cek out dari kamar hotel. Beberapa karyawan hotel yang ada di sana menatap kami, terutama orang yang tadi mengantar kami ke sini.
Duh, sekilas aku berpikir, mungkinkah mereka mengira kami ini pasangan mes*m?
Bisa jadi. Kami cek in lebih dari satu jam yang lalu dan sekarang sudah kembali cek out.
"Kenapa?" tanya Arga saat kami keluar dari pintu hotel tersebut.
"Eh, kenapa apanya?" tanyaku bingung atas pertanyaannya.
"Kamu kok lirik-lirik pegawai hotel? Naksir?" tanyanya dengan nada yang sedikit aneh.
"Eh, apanya yang naksir?" Aku makin bingung, kenapa juga dia berpikiran aku naksir dengan pegawai hotel yang jelas usianya jauh lebih muda dariku.
"Dari tadi lirik-lirik aja sama dia," ucapnya kesal. Langkah kakinya kini sedikit lebih cepat tidak seperti tadi.
"Eh, bukan itu. Aku cuma lagi mikir, kok kita kayak pasangan mes*m gitu loh, masuk keluar hotel gak sampai dua jam," ungkapku mengatakan apa yang sedang aku pikirkan.
Tiba-tiba saja dia tertawa. "Haha, kita kan memang benar pasangan mesum. Buktinya kita bisa main bola sodok siang hari," ujarnya dengan tanpa mengurangi volume bicaranya, beberapa orang yang ada di sana menatap kami. Aku malu karena pastinya terdengar apa yang Arga katakan tadi.
__ADS_1
"Ih, bisa gak sih bicaranya jangan keras-keras," pintaku menahan malu.
"Loh, emang kenapa? Emang beneran iya kita kan emang pasangan mes*m, tapi halal," ucapnya dengan santai. Aku mengikuti langkah kakinya menuju mobil kami.
"Mau langsung pulang atau makan dulu?" tanyanya saat kami baru masuk ke dalam mobil.
"Lapar, tapi pulang aja deh. Aku khawatir sama anak-anak," ucapku padanya.
"Oke kalau begitu. Sambil pulang aja ya cari makanan, aku lapar banget ini. Sekalian juga cari makanan buat Gara," ucapnya lagi. Aku hanya mengangguk. Mobil kini berjalan menuju arah pulang dengan kecepatan sedang.
Jujur aku mengantuk, terlalu lelah diri ini akibat permainan kami tadi, dan juga kurang tidur setiap malam sehingga aku menguap lagi dan lagi.
"Ngantuk banget ya?" Aku mengangguk seraya menutup mulutku yang terbuka dengan lebar.
"Ya sudah, tidur saja kalau begitu, nanti aku bangunkan kalau sudah sampai rumah."
"Gak jadi beli makanan?" tanyaku.
"Jadi, kamu mau beli makanan apa? Biar nanti sekalian lewat aku yang turun," ucapnya.
"Gak mau nasi? Terus makan apa?" Dia bertanya sambil melirikku dengan bingung sehingga alisnya terangkat sebelah.
"Batagor enak kali, atau siomay. Apa aja lah yang bumbunya kacang," ucapku lagi.
"Oh, oke deh. Ya sudah, tidur gih."
Aku menyandarkan diriku dengan nyaman, sandaran kursi aku turunkan sehingga posisinya kini terasa nyaman untuk punggung. Tak lama aku benar-benar tidak bisa lagi menahan kelopak mata yang terasa berat.
...***...
"Yu, bangun. Ini sudah sampai ke rumah." Suara panggilan Arga terdengar di telinga. Aku membuka mata dengan malas, cukup segar karena bisa menutup mataku meski dengan waktu yang singkat.
__ADS_1
"Sudah sampai?" tanyaku. Jelas rumah sudah nampak dan kami ada di dalam garasi, tapi aku masih bertanya juga.
"Hem, sudah sampai," jawab Arga sambil tersenyum. Aku membuka pintu mobil, hendak turun, tapi rasanya tubuhku ini tertahan dan aku tidak bisa keluar dari dalam mobil.
"Hei, sabuk pengaman buka dulu dong, Sayang," ucapnya. Dia menarik tanganku agar kembali duduk di posisi semula. Aku tersenyum malu karenanya. Benar, sabuk pengaman yang aku pakai belum aku buka. Terlalu mengantuk sampai aku lupa.
"Kamu ini ...." omelnya, dia membukakan sabuk pengaman yang aku pakai.
Kami masuk ke dalam rumah, keadaan di rumah agak sepi, hanya terdengar suara vacuum cleaner yang Sari pegang, sedang membersihkan karpet dan juga sofa.
"Gara kemana, Mbak?" tanyaku saat sudah dekat dengan Sari.
"Tidur di ruang bermain sama Azka, Bu," ucap Mbak Sari.
Aku melanjutkan langkah kakiku menuju ruangan bermain anak-anak, terlihat di sana Gara sedang tidur dengan Azka dan juga Mbak Sus. Ketiganya tidur dengan sangat lelap sekali di atas kasur yang memang sengaja kami beli untuk di ruangan tersebut. Tv menyala dengan suara yang pelan.
"Pada tidur?" tanya Arga yang tiba-tiba ada di belakangku.
"Heem, tidur. Sana yuk, jangan ganggu." Aku menarik tangan Arga, tahu jika suamiku ini sukanya mendatangi Azka dan menciuminya dengan gemas jika sedang tidak berdaya seperti itu.
"Aku kangen anakku," ucapnya.
"Bukan kangen, tapi penasaran kalau belum ganggu," ungkapku dengan ketus. Arga hanya tersenyum meringis.
"Makan yuk, aku lapar."
Aku dan Arga berjalan ke arah dapur. Kami makan bersama dengan makanan yang tadi Arga belikan. Benar saja dia membelikan aku batagor dengan bumbu kacang yang enak. Tidak tahu dia beli di daerah mana tadi saat aku tertidur.
"Kurang pedes," ucapku sambil menjilat sendok dengan bumbu kacang yang menempel di sana.
"Jangan pedes-pedes, ingat apa kata dokter tadi. Makanan pedes bisa bikin kamu mual muntah lagi," ucapnya. Aku hanya mengerucutkan bibirku sebal, kurang enak rasanya makan batagor tanpa banyak rasa pedas.
__ADS_1
"Sudah, makan dulu. Nanti, kalau kamu sudah gak mual muntah lagi boleh deh makan pedes asal jangan keterlaluan," ucapnya sambil mengusap kepalaku yang tertutup dengan jilbab.
"Iya," jawabku pasrah.