
Aku terbangun saat rasa sakit yang sangat terasa kembali di perut, sama seperti tadi, tapi kali ini terasa sakit sekali dan membuat aku menggenggam bantal dengan erat.
"Astaghfirullah." Aku menggigit bibir, memejamkan mataku dengan erat agar sakit ini teredam.
"Jangan gigit bibir dan pejamkan mata, Bu. Bisa minus nanti matanya," ucap Mbak Sus dengan khawatir dan tidak menghentikan laju tangannya pada pinggang, sedikit lebih keras mengelus pinggangku.
"Sakit, Mbak. Aduh." Rasanya ingin menangis, rasa sakit di area bawah serasa ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.
"Sabar, jangan dulu mengejan, kalau belum waktunya nanti yang ada kurang tenaganya, keburu lemes," ucapnya.
Sakitnya bukan hanya satu atau dua detik, tapi ini lumayan lama menurutku.
Ku lihat pintu yang masih tertutup, berharap jika Arga telah sampai di sini. Akan tetapi, pintu itu tidak terbuka dari luar.
"Aduh." Aku mengeluh lagi, sakitnya hampir sama seperti saat aku haid, tapi berkali lipat dari itu.
"Sabar, Bu. Sabar." Mbak Sus terus mengusap pinggangku dengan tanpa lelah, setiap kali aku merintih beliau menyuruhku untuk sabar dan mengucap istighfar, juga menyuruhku untuk menarik napas dan membuangnya seperti yang dia ketahui selama ini.
Rasa itu kini mereda, aku menghela napas lega dan mengusap sudut mataku yang basah, perjuangan seorang ibu kini aku rasakan dan membuat aku sedih jika mengingatnya. Mungkin, ibu juga mengalami ini saat berjuang melahirkanku.
"Kok malah nangis, sabar, Bu. Istighfar, yuk istighfar," ucapnya lagi.
"Saya cuma keinget ibu saya, Mbak. Pasti sakit ya saat lahirkan saya juga," ujarku sambil menyusut air mata.
"Ya, namanya juga seorang wanita yang ingin anak, ya begini lah. Penuh perjuangan, harus bisa menahan sakit," ucapnya lagi.
Tepat pada saat itu pintu terbuka dan terlihat Arga yang kini berlari mendekat ke arahku. Mbak Sus berdiri dan memberikan kursinya kepada Arga. Dia menyingkir ke arah lain.
"Ma, Sayang. Kamu ...."Arga tidak melanjutkan bicaranya, tapi dia langsung memeluk dan mencium puncak kepalaku. Tangisan terdengar dari bibir laki-laki itu.
"Kamu beneran akan melahirkan?" tanyanya saat melepas pelukannya, aku mengangguk dan tersenyum. "Alhamdulillah, tapi kok bisa? Maksudku, kamu kan belum waktunya?" tanyanya lagi.
"Aku gak tau, anaknya dah pengen ketemu ayahnya kali," jawabku.
"Pa, minta tolong suruh pak sopir jemput ibu. Aku mau ditemani ibu," pintaku.
Arga mengangguk lalu menelepon sopirnya.
__ADS_1
"Apa ada yang sakit?" tanyanya.
"Sekarang gak ada, kalau tadi ada, tapi Mbak Sus yang sudah bantu uruskan." terangku. Arga kini duduk di kursi samping brankar, dia mengelus perut besar, memberikan rasa nyaman di sana. Gerakan kencang terasa kembali sehingga membuat aku meringis kesakitan.
"Dari kapan kamu mulai kerasa sakit, Yu?"
"Semenjak siang sepertinya," jawabku.
"Kamu gak bilang toh sama Mbak Sus?"
"Ibu mana bilang, Pak. Tadi ditanya kenapa pucat ya bilangnya gak apa-apa." Mbak Sus mendahului berbicara, padahal aku akan menjawab.
"Kamu itu, kalau sakit bilang, Ma. Jangan cuma diam saja, kalau ada apa-apa bagaimana?" Dia melotot menatapku. Aku hanya tersenyum meringis.
"Ya, tadi kan rasanya cuma sakit sedikit doang, makin lama kok makin sering hitu, lagian kan aku juga gak kerasa sakit-sakit amat, sih."
"Kamu itu selalu menyepelekan rasa sakit. Kamu kan sedang hamil besar, kalau ada sakit atau apa juga bilang lah sama Mbak Sus, biar ada yang bantu," ucapnya kini dengan nada dan tatapan yang lembut. Aku mengangguk lagi sambil tersenyum.
Sakit yang mengigit itu kembali muncul.
"Sakit!" Tangannya menjadi tumpuan, aku genggam dengan erat sehingga warna kulitnya yang putih kini beruam merah.
"Panggilkan dokter, Mbak!" teriak Arga pada Mbak Sus. Aku melarangnya, Dokter bilang biasanya naiknya pembukaan itu setiap satu jam sekali. Akan tetapi, Arga tidak mau mendengarkan sehingga meminta Mbak Sus untuk memanggil dokter kembali.
Tak lama dokter masuk ke dalam ruangan dan kembali memeriksa ku lagi, masih sama seperti tadi memakai sarung tangan dan lagi-lagi aku merasakan sedikit perih dan linu di bawah sana.
"Baru naik pembukaan ke enam, agak lambat sebenarnya ini, kalau dihitung dari saat tadi datang ke sini," ucap dokter menjelaskan.
"Apakah ada yang salah, Dokter?" tanya Arga khawatir, menunggu jawaban dari dokter.
"Tidak ada, ini masih wajar kok, tapi semakin cepat pembukaan justru semakin bagus karena ibu tidak merasa sakit berlama-lama."
"Caranya?" tanya Arga lagi. "Apa dokter bisa membuat kelahirannya cepat?"
"Ada caranya, tapi kalau tidak dalam keadaan gawat tentu kami juga tidak akan menyarankan memakai metode tersebut, hanya untuk beberapa kasus, sedangkan untuk Bu Ayu masih wajar," ucap dokter lagi.
"Coba saja Bu Ayu jalan-jalan kecil sekitaran kamar, atau keluar tidak apa-apa, jangan terlalu jauh," ucap dokter lagi. Aku mengangguk mengerti, menahan rasa sakit yang ada di sana. Berkali-kali beristighfar dan juga berdoa di dalam hati agar persalinan ku ini menjadi lancar.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di dalam kamar. Jilbab yang aku kenakan kini aku lepas, tidak ada laki-laki lain di sini, hanya ada Mbak Sus dan Arga saja. Tiang infus aku bawa, berjalan dengan pelan ke kanan dan kiri ranjang sampai rasanya aku sedikit bosan.
Aku berhenti melangkah saat rasa sakit itu muncul lagi. Membungkuk menahan tubuhku pada tepian ranjang, Arga dengan sabar mengikuti dan mengelus pinggang ini saat aku merasakan sakit. Napas aku hirup dan aku Huang dengan perlahan, berharap jika rasa sakit yang ada di sana sedikit berkurang.
"Bu, saya bikinkan teh hangat?" tanya Mbak Sus, aku menggeleng lagi. Ini sudah kesekian kalinya Mbak Sus menawarkan, tapi aku tidak haus, tidak ingin makan atau pun minum.
Kamu harus minum, Yu. Dari tadi keringatan, nanti dehidrasi." Arga menyodorkan air putih di dalam gelas dan aku hanya meminumnya satu tegukan. Keringat besar kini membasah di pakaianku, agak membuat tidak nyaman. Aku kembali berjalan saat rasa sakit itu kini telah menghilang.
Pintu terbuka dari luar, panggilan ibu membuat aku menoleh dan tersenyum dengan senang.
"Ayu, anak ibu!" ucap Ibu sambil memelukku dengan erat, aku juga memeluknya, menerima ciuman di kepala dan juga pipi.
"Kamu sudah mau lahiran? Ibu gak tau, kenapa kamu gak telepon ibu?" tanyanya sambil menangis. Aku mengusap air yang membasah di sana.
"Sengaja, kan sudah malam, jadi Ayu tunggu Papanya Gara pulang untuk jemput ibu sama sopir," ucapku. Ibu kembali memelukku dan berdoa agar persalinan ku lancar.
Seorang gadis masuk ke dalam kamar, dengan membawa tas besar, kantong kresek dan juga rantang makanan. Aku menatap Mbak Sus, ingin memperlihatkan kepada dia dengan apa yang aku katakan tadi. Ibu memang terlalu bersemangat.
"Ibu bawa apa? Kok banyak?" tanyaku menyelidik.
"Baju daster, sarung, baju bayi, makanan, sama minuman," jawab Ibu. "Untung saja ibu tadi sore masak banyak, sayur masih banyak, buat makan di sini. Arga belum makan pasti ya?" tanya Ibu lalu menyuruh gadis itu untuk mendekat dan membawakan rantang makanan ke arah kami.
"Eh, Bu. Kok repot." Arga mendekat, melirik makanan yang ibu bawa. Wangi aroma masakan tercium di hidungku. Tiba-tiba saja aku merasa lapar.
"Ayu makan boleh gak sih, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Boleh, lah. Justru bagus, biar ada tenaganya," ucap ibu lagi, lalu menyodorkan sebuah wadah kepadaku berisi kan nasi dan telur bulat. Yang lain juga tidak luput dari panggilan ibu termasuk Mbak Sus dan pak sopir, makanan yang ibu bawa cukup untuk kami semua.
Aku makan tidak banyak, baru tiga suapan, sakit yang tadi datang kembali. Sedikit sebal karena tengah enak mengunyah makanan, tapi terganggu karena sakit ini.
Arga menghentikan makannya dan memilih untuk membantu mengelus pinggang ini.
"Sudah, Arga. Makan saja. Biar Ibu yang urus Ayu." Ibu menyuruh Arga untuk makan kembali.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar saya yang urus Ayu. Kasihan sakit pinggangnya."
"Eh, Pa. Gak apa-apa bener kata ibu, kamu makan saja dulu, Pa. Biar nanti kalau Ibu istirahat, kamu bisa temani aku," ucapku. Arga akhirnya mengangguk dan kembali duduk di tempatnya semula bersama dengan Mbak Sus yang menghabiskan makanannya kini.
__ADS_1