Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
333. Berkabung


__ADS_3

Hampir dua jam lamanya aku menunggu. Orang-orang yang ada di sana mulai meninggalkan pemakaman. Aku dan Mbak Sus hanya menatap kepergian mereka, beberapa kerabat mendekat ke arahku. Sadar dengan kedatangan mereka, aku turun dari mobil dan menyambut uluran tangan para kerabat.


"Yang sabar, ya. Mama sudah tenang dan gak sakit lagi," ucap Bibi sambil memelukku.


"Aku gak ada saat terakhir Mama, Bi." Tak kuasa lagi menahan tangis sehingga bahu bibi menjadi sandaranku. Tepukan tangan yang lembut mencoba untuk menenangkan, tapi bukannya tenang, aku semakin tenggelam dalam kesedihan.


"Sudah. Kamu jangan merasa bersalah kayak gitu. Kamu juga lagi hamil besar. Jangan salahkan diri kamu sendiri," ucap Bibi.Yang lain pun sama, memelukku dan mengatakan bela sungkawa seta menyuruhku untuk tidak berlarut di dalam kesedihan.


"Kamu mau pulang bareng kami?" tanya Bibi menawarkan.


"Ayu tunggu Arga aja, Bi. Terima kasih sudah datang ke sini dan bantu kami," ucapku pada Bibi dan yang lainnya. Bibi mengangguk dan mengelus punggungku.


"Ya sudah, kalau begitu kami duluan pulang. Ingat, setelah ini jangan terlalu pikirkan ya. yang sudah gak ada cukup dikirim doa saja, jangan terlalu larut. Almarhum juga gak akan senang kalau yang ditinggalkan terus sedih kayak gitu," ucap bibi.

__ADS_1


"Iya, Bi. Mohon Bibi besok bantu tenangkan Arga, ya. Kayaknya Arga masih terguncang karena ditinggal mama," pintaku pada bibi yang dijawab wanita itu dengan anggukkan kepala pelan.


"Iya, besok Bibi akan ke rumah, bantu buat persiapan tahlilan. Kamu jangan terbawa emosi kalau Arga masih bersedih ya. Tolong jaga emosi kalian masing-masing." Pinta bibi.


Bibi pamit dan pulang beserta tetangga dan yang lainnya. Aku masih bertahan di sini menunggu Arga dan Papa yang masih ada di dalam sana.


"Mbak, tolong telepon Mbak Sari, tanyakan anak-anak rewel apa enggak," pintaku padanya. Mbak Sus mengangguk dan mengambil hpnya di mobil, kemudian melakukan panggilan di dekatku. Tak lama panggilan itu berakhir.


"Gak rewel, kok. Lagi di rumah tetangga, main sama anak yang lain," ucap Mbak Sari.


Aku merasa bersalah juga, bingung apa aku harus pulang dan menjemput kedua putraku, tapi aku berpikir Arga juga butuh dukungan dari orang terdekatnya.


"Gak pa-pa, kalau soal anak-anak. Mereka gak rewel kok. Azka juga udah mau minum susu formula dan juga makan yang lain. Ibu jangan khawatir." Mbak Sus mencoba menenangkanku. Aku hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan.

__ADS_1


Azka sudah dibiasakan minum susu formula semenjak satu bulan yang lalu. Terpaksa aku lakukan karena kondisi tubuhku yang masih sulit untuk makan, ASI juga semakin sedikit, dan aku juga butuh nutrisi untuk tubuhku dan juga bayi di dalam perutku. Meski rasanya sulit sekali saat pertama memberinya susu formula sampai dua hari Azka tidak mau meminum susunya, tapi ibu dan Mbak Sus bilang aku harus tega demi kebaikan kami semua.


Awalnya sulit sekali, sering terlupa jika harus mengganti susunya, setiap tengah malam jika dia sedang rewel aku sodorkan nutrisi dariku. Penyapihan pertama tentu gagal. Kali kedua, ibu menyarankan untuk Azka tinggal dengan ibu beberapa hari, jauh denganku, tujuannya agar dia mau minum dengan susu formula dan aku tidak kepikiran saat dia rewel. Itu juga pernah ibu lakukan saat menyapihku dulu, cerita ibu waktu itu. Aku ditinggal selama satu minggu agar berhenti menyusu di saat usiaku sudah lebih dari dua tahun.


Memang rasanya tidak tega, tapi mendengar dari dokter juga karena keadaanku yang sudah mengandung besar dan masih sulit makan, tidak mungkin juga aku masih meny*sui Azka, aku pun butuh nutrisi yang baik agar tetap sehat juga dengan bayiku di dalam.


Sedih rasanya selama empat hari aku berpisah dari Azka, terus kepikiran dia sampai menangis membayangkan anak itu menangis mencari-cari ASI di tengah malam. Menangis setiap hari mengingat Azka, apalagi saat Gara juga terlihat kesepian di sini tanpa adiknya.


Enam hari lamanya, aku tidak tahan dengan kerinduan terhadap putraku, menyusulnya ke tempat ibu. Akan tetapi, tidak menyangka dengan ucapan ibu yang entah benar atau tidak, Ibu bilang Azka hanya rewel dua malam, tidak mau minum sufor, sehingga ibu menggantinya dengan bubur khusus bayi dan menyuapinya saja di kala malam. Setelah itu di hari berikutnya Azka mau minum susunya dengan bujukan ibu dan pengasuhnya.


Arga sudah kembali dari dalam pemakaman, sendiri tanpa papa. Wajah suamiku merah dan terlihat murung, sedih menggelayuti di wajah tampan itu. Sama seperti hari yang sudah hampir gelap.


"Sudah selesai, kita pulang," ucapnya setelah masuk ke dalam mobil. Sopir mulai menjalankan mobil. Tak ada yang berbicara satu pun di dalam sini.

__ADS_1


Ku lirik suamiku, masih diam tanpa kata. Ku raih tangan besarnya dan mengelus punggung tangan itu dengan ibu jariku. Dia menolehkan kepala, lalu mendekat dan bersandar di bahuku.


__ADS_2