
Aku beringsut menjauh dari Arga. Dia hanya tertawa melihat aku yang takut akan dia.
Tidak akan! Tidak akan aku berikan lagi!
Arga tertawa kecil, tidak lagi mendekatiku. Akan tetapi, senyumannya membuat aku masih merasa takut.
Di kejauhan sana aku melihat seseorang yang sangat aku kenal dengan baik. Dia berjalan dengan seorang anak laki-laki yang ada di dalam gendongannya. Wajahnya berseri sesekali menggoda anak yang ada di gendongannya itu. Di belakangnya terlihat dua orang yang tengah berjalan bergandengan tangan, sangat mesra sekali. Mereka tersenyum saat tatapanku bertemu dengan tatapan mereka.
Dokter Wira berjalan mendahului saudara kembarnya menaiki panggung, bersama dengan keponakan kecilnya. Mbak Wanda menyusul di belakang Dokter Wira dengan suaminya.
"Mbak Ayu. Selamat ya atas pernikahan kalian." Dokter Wira mengulurkan tangannya padaku. Bibirnya tersenyum, tapi senyuman lain yang aku lihat di sana. Tidak lagi seperti dulu senyumnya itu. Sorot mata di balik kacamata terlihat lebih sendu.
Ku sambut uluran tangan Dokter Wira, terasa hangat. "Terima kasih," ucapku. Masih ada rasa tak enak hati padanya. Semoga saja dia tidak ada dendam terhadapku dan Arga.
__ADS_1
"Semoga kalian bahagia setelah ini," ucapnya lagi mendoakan kami. Aku tersenyum, menganggukkan kepala.
"Te—,"
"Terima kasih, Dokter. Semoga Dokter juga menemukan wanita yang tepat untuk menjadi pendamping Dokter dan berbahagia nantinya."
Aku terkejut, Arga merebut tangan Dokter Wira dari tanganku dan mengatakan hal tersebut. Dia menggerakkan tangan itu naik dan turun.
"Iya, iya. Terima kasih atas doa baiknya," ucap Dokter Wira tertawa malu.
Aku merasa tidak enak hati pada Dokter Wira, Arga sedikit keterlaluan dengan hal barusan. Ada apa dengan dia? Kenapa berlaku seperti itu?
"Ayu," panggil Mbak Wanda. Bibirnya tersenyum lembut, dia dan suaminya mendekat ke arahku. Mbak Wanda mengulurkan tangannya, kusambut, dan dia mencium pipiku kanan dan kiri.
__ADS_1
"Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku ikut senang dengan kabar ini, akhirnya kamu menikah lagi. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah." Mbak Wanda melepaskan dirinya dari memelukku.
"Terima kasih, Mbak atas kehadiran Mbak Wanda dan juga doanya," ucapku. Aku tidak menyangka jika orang ini akan datang, Aku kira Arga tidak akan mengundang mereka karena sebelumnya dia sudah tahu jika Dokter Wira pernah menyukaiku.
Mbak Wanda menyenggol adiknya yang masih saja bertautan tangan dengan suamiku. "Pak Arga, selamat atas pernikahannya. CLBK, Hem?" tanya Mbak Wanda. Arga melepas tautan tangannya dari Dokter Wira, dan kini beralih menyambut tangan Mbak Wanda.
"Iya begitulah. Mantan terindah, dan sekarang menjadi istriku. Selamanya akan selalu menjadi hal yang indah," ucap Arga, menatapku dengan tatapan yang lembut.
Terdengar dengusan napas yang kasar dari adik kembar Mbak Wanda, wajahnya terlihat kesal kini.
"Haha, ya. Jika itu adalah hal yang terindah maka pertahankan. Jangan sampai lepas lagi dan menjadikan hatimu sakit. Jangan jadi orang yang bodoh!" ucap Mbak Wanda, dia melirik ke arah adiknya, membuat wajah dari Dokter Wira semakin kesal saja.
Arga tertawa kecil. "Ya, tentu saja. Kami sudah berjodoh, jadi dia dekat dengan siapapun pada akhirnya kembali lagi padaku," ucap Arga dengan sombongnya. Aku ingin sekali membuat Arga diam, tidakkah dia tahu sudah membuat orang lain kesal?
__ADS_1