Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
247 Ayu


__ADS_3

POV AYU


Menjalani kehamilan ini gampang susah aku rasakan, terkadang mual muntah, tak ingin makan, susah untuk tidur atau sekedar membaringkan diri. Inginnya terus bergerak melakukan sesuatu sehingga Mbak Sus seringkali berteriak melarangku jika melakukan kegiatan di rumah.


Seperti kali ini, aku sedang menyapu kamarku. Mbak Sus yang tahu aku memegang sapu segera datang dan mengambil alih dengan sopan, dan aku hanya bisa cemberut karenanya.


"Aduh, kan Mbak Sus sudah bilang, Bu. Jangan nyapu. Biar ini semua Mbak yang kerjakan. Ibu tinggal baring di kamar saja!" ucapnya sambil melanjutkan menyapu. Dia tidak menghentikan kegiatannya dan terus saja mengomel.


"Mbak Sus, Ayu tuh bosan di rumah, tidur gak bisa, apa-apa gak bisa. Terus Ayu harus gimana, dong?" tanyaku dengan kesal. Aku ikuti saja dia sampai ke pintu depan.


"Ya, apa ya? Pak Arga gak biarin bu Ayu kerja kok, masa kita mau biarin gitu aja. Nanti disebut saya dan yang lain gak tanggung jawab lagi," ucapnya dengan nada yang bingung.


"Ya, masa nyapu aja gak boleh?" tanyaku sedikit protes.


"Bukan gak boleh, tapi Mbak Sus gak berani kalau kata bapak gak boleh," ucapnya lagi. Aku hanya menghela napas dengan kesal karena ucapannya tersebut.


"Ah, lagian Arga sih pake larang-larang segala. Aku kan gak apa-apa," ucapku dengan bergumam.


"Itu tandanya bapak sayang sama Bu Ayu," ucap Mbak Sus, kini telah menyelesaikan pekerjaannya dan melewatiku begitu saja.


"Ya sayang sih sayang, tapi Ayu gak ada pekerjaan kan bosan juga, Mbak." Aku mengikuti Mbak Sus kembali masuk ke dala rumah.


"Ya, kalau Bu Ayu mau protes jangan ke saya, tapi ke bapak," pintanya.


Aku duduk di kursi makan, Gara belum pulang dari sekolahnya, masih ada satu jam lagi sampai dia pulang ke rumah. Hanya bisa menunggunya pulang untuk bisa menghabiskan waktu luang yang membosankan.


"Ini makanan, mau gak?" tanya Mbak Sus sambil membawa sebuah mangkok berisikan bakso di dalam sana. Wangi aroma makanan tersebut membuatku merasa lapar.


"Dari mana ini?" tanyaku penasaran, pasalnya Mbak Sus tidak kelihatan keluar dari rumah tadi.


"Bikin lah, tadi kan ada sisa daging ayam, rasanya kan bosan tuh kalau di buat masakan, jadi ya Mbak iseng bikin bakso ayam," ucap Mbak Sus.


Wanginya sangat sedap sekali, gurih. "Tenang, itu aman dari micin kok," ucapnya lagi.


Aku memakan satu buah bakso tersebut dan memang rasanya lumayan enak, apalagi kuahnya yang katanya tanpa micin tapi bisa gurih seperti ini.


"Tapi gurih ya? Asli gak pake micin ini?" tanyaku tak percaya.


"Iya, gak pake. Percaya deh sama Mbak Sus. Mana Ibu pernah lihat Mbak Sus pake micin kalau masak?" tanyanya meyakinkan.


Benar sih, aku memang tidak pernah melihat di dapur ada micin, karena aku pribadi juga tidak memakai bumbu tersebut di masakanku.

__ADS_1


Satu persatu makanan bulat itu telah masuk ke dalam mulutku, enak sekali meski tampa tambahan bumbu atau saos dan kecap yang lainnya.


"Aku mau dong diajarin bikin bakso ayam," pintaku.


"Boleh, kapan-kapan ya, kalau Mbak ke pasar dan beli daging ayam," ucapnya. Aku mengangguk dengan penuh semangat mendengarnya.


Makanan telah habis, tapi aku masih merasa ingin lagi dan lagi. Ku dekati Mbak Sus dan meminta tambahan bakso. Satu mangkok bakso tanpa kuah ada di dalam sana.


Sambil menunggu Gara pulang aku memakan bakso itu di teras rumah. Sepertinya sudah lebih dari lima buah aku habiskan sambil menunggu Gara pulang, hingga akhirnya sebuah mobil kini masuk ke dalam gerbang dan berhenti di garasi.


"Mama!" teriak Gara setelah keluar dari dalam mobil dan berlari ke arahku. Arga juga baru saja turun dari sana sambil melonggarkan dasinya.


"Mama makan apa?" tanya Gara setelah sampai di depanku.


"Hei, salam nya mana?" tanyaku.


Dia tertawa malu, tersenyum meringis memperlihatkan giginya yang tanggal. "Assalamualaikum ," ucapnya sambil mengulurkan tangan dan mencium punggung tanganku.


"Waalaikumsalam, gitu dong salam kalau pulang. Mau?" tawarku dengan menyodorkan sebuah bakso pada Gara.


"Mau!" Mulutnya terbuka dengan lebar dan menerima suapan dariku.


"Beli di mana?" tanya Arga dengan mulutnya yang penuuh.


"Gak beli. Mbak Sus yang bikin."


"Oh, enak. Masih ada gak ya? Papa mau."


"Abang juga!" seru Gara lalu berlari mengikuti langkah kaki Arga ke dalam rumah.


"Jangan dihabiskan. Aku juga masih mau!" Aku tak kalah berteriak. Kapan lagi aku bisa membuat perutku penuh? Sampai kehamilan sekarang ini aku masih sulit untuk menerima makanan sehingga ibu masih mengirimkan sayur dari rumah untukku.


Susah payah aku sampai di meja makan, kini ayah dan anak itu sedang makan berdua dengan sangat nikmatnya.


"Mbak Sus, masih ada kan?" tanyaku. Jujur makanan kali ini membuat aku ingin lagi dan lagi.


"Ada tuh semangkok lagi, lah. Sengaja Mbak pisahin," ucapnya. Aku tersenyum senang dan meminta Mbak Sus membawakannya untuk aku makan.


"Loh masih kurang toh?" tanya Mbak Sus bingung. Aku hanya tersenyum malu. Makanan yang sama seperti yang lainnya dia hidangkan untukku, lengkap dengan kuah dan bawang serta seledri. Akhirnya kami bertiga menikmati makanan tersebut hingga habis.


"Kamu suka, Yu?" tanya Arga. Aku mengangguk tanpa menjawab karena mulutku yang penuh.

__ADS_1


"Abang juga suka!" teriak Gara.


Arga kemudian mengambil sesuatu dari saku celananya, mengeluarkan sebuah dompet dan memberikan beberapa lembar kepada Mbak Sus.


"Besok bikin lagi. Bikin yang banyak buat stok kalau Ayu pengen. Tahan berapa lama baso di kulkas?"


"Satu minggu juga kuat sih," jawab Mbak Sus.


"Atur saja supaya setiap hari ada dan bisa untuk semua orang yang ada di sini kalau mau," ucap Arga lagi. Mbak Sus mengangguk paham dan memasukkan lembaran uang itu ke dalam saku dasternya.


"Alhamdulillah." Gara mengucap syukur dan berdoa setelah makan. Dia menggeserkan mangkok yang telah kosong ke tengah meja.


"Sudah selesai?" tanyaku. Gara mengangguk. "Ganti baju terus bobo siang," titahku. Gara mengangguk lagi dan berlari ke arah tangga.


Aku dan Arga masuk ke dalam kamar.


"Tumben kamu pulang? Gak sibuk kah?" tanyaku sambil membuka dasi di lehernya. Biasanya Arga akan mandi siang sebelum pergi ke kantor lagi.


"Gak sibuk, makanya bisa jemput Gara," ucapnya sambil melingkarkan kedua tangannya di pinggangku.


"Oh, aku kira dulu kerjaan bos itu sibuk di kantor, tapi setelah jadi istri owner malah tau kalau ternyata bawahan yang lebih banyak bekerja, sedangkan owner pulang pergi ke rumah dengan bebas," ucapku. Arga tidak marah, malah terkekeh mendengarkan ucapanku barusan.


"Aku kan owner, pemilik, bebas dong," ucapnya sambil menaik turunkan alisnya yang tebal.


"Ya, boleh. Tapi juga kan gak tiap hari kamu pulang pergi. Apa kata yang lain kamu sering pulang sekarang?" tanyaku.


Arga terkekeh dan mencium keningku dengan lembut.


"Aku pulang karena aku kangen kamu dan anak kita. Aku gemas lihat perut kamu sekarang, makin maju," ucapnya sambil tersenyum dan mengusap perutku, gerakan halus terasa di sana shingga membuat perutku sedikit linu.


"Ah." Aku mendesis saat gerakan halus terasa di sana, seseorang sedang bergerak tak karuan jika dekat dengan ayahnya.


"Kenapa?" tanya Arga khawatir.


"Gak apa-apa, ini cuma geraknya kuat banget, jadi aku linu," terangku.


"Oh, biar gak linu olah raga, yuk!" Ajaknya.


"Hah? Siang gini. Panas ah," elakku.


"Di sana, sambil sekalian. Yuk!" Tanpa menunggu jawabanku dia menarikku ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2