Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
126. Apa Yang Harus Aku Lakukan?


__ADS_3

"Aku ingin bilang ini sedari dulu, saat kita pertama bertemu kembali, tapi aku sadar kalau kamu masih milik dia," ucap Arga. Tangannya tidak dia lepaskan menggenggam tanganku erat.


"Aku tau, Ibu kamu juga tidak suka dengan aku, tapi ... aku hanya ingin mencoba untuk perjuangkan kamu kembali setelah dulu dengan bodohnya aku pergi tanpa pamit sama kamu, Yu." Arga menatap mataku.


Rasanya tidak karuan. Dada yang berdetak dengan cepat hingga rasanya tubuh ini lemas.


"Maaf, karena dulu aku tidak bisa memperjuangkan kamu hingga kita bisa hidup bahagia. Jika mungkin aku bisa melawan keinginan Papa, aku pasti akan berusaha tetap sama kamu, Yu." Tatapan mata itu tidak dia alihkan sedikitpun.


"Maaf, kalau aku mungkin egois mengatakan hal ini dengan tidak memikirkan Ibu kamu, Yu. Aku memang egois. Tapi di sini–," Arga menarik satu tangannya, memegang dadanya sendiri. "–aku tidak bisa melupakan kamu, Yu. Meskipun aku pernah menikah dan punya Gara, tapi di dalam sini masih banyak tempat dengan nama kamu terukir di dalam sana," ucap pria ini dengan nada bersungguh-sungguh.


Aku hanya bisa membuka mulutku tanpa bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Ucapan pria ini sungguh tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


"Tadinya aku mencoba untuk menahan perasaan ini, Yu. Aku tahu, tidak akan mudah untuk mendapatkan restu dari Ibu kamu terhadap aku. Maka dari itu, aku mencoba untuk tidak mempedulikan dan juga bersikap biasa saja dengan kamu. Mencoba untuk kita hanya berteman saja, Tapi nyatanya, aku tidak bisa. Aku tidak bisa menahan lagi perasaanku ini sama kamu," ucap Arga lagi

__ADS_1


Ku pikir, Arga selalu cuek terhadapku dengan sikapnya selama ini. Akan tetapi, ternyata alasan itu yang dia punya selama ini!


"Maaf!" ucap Arga seraya melepaskan tangannya dariku.


"Aku khilaf. Harusnya aku tidak menyentuh kamu." Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Sedikit beringsut mundur kembali ke tempatnya semula. Wajahnya terlihat merah sekarang ini.


"Maaf, aku tidak bisa menahan diriku. Aku ... itu ... Em, Gara terus nanyain kamu," ucapnya lagi. Meski aku yakin bukan itu yang dia ingin bicarakan.


Aku menekan dada yang berdebar dengan keras. Dekat dengan Arga membuat jantungku rasanya tidak kuat menahan beban. Rasa hati yang senang tapi juga bingung karena keadaan. Apa yang harus aku lakukan?


Aku tidak tahu harus menjawab apa. Kebingungan melanda diri ini. Lagi-lagi Ibu yang menjadi pemikiranku. Dulu, aku berpikir untuk bertahan dengan pernikahanku karena Ibu yang sakit, tapi sekarang ini aku juga harus memikirkan Ibu untuk kembali membina hubungan dengan Arga.


"Kamu, mau tidak?" tanya Arga. Dia kembali menatap diriku.

__ADS_1


Aku menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam dari mantan pacarku ini.


"Aku tidak akan paksa kamu, kalau kamu tidak suka dengan aku tidak apa-apa. Aku akan terima. Aku juga akan bicara dengan Gara supaya dia tidak banyak berharap dengan kamu," ucap Arga pasrah.


Aku masih menunduk, memainkan jari jemariku di atas pangkuan.


Dalam dasar hati, meskipun pernah tergantikan oleh Mas Hilman, tapi rasa untuk Arga buktinya masih ada sampai saat ini.


"Aku masih belum bisa kasih jawaban sama kamu, Ga." Hanya itu yang bisa aku katakan pada Arga.


Arga terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


"Aku ngerti. Kamu butuh waktu untuk yakinkan Ibu?" tanya Arga. Dia sepertinya selalu paham dengan keadaan diriku. Aku mengangguk, mengelak juga percuma. Arga sudah tahu tanpa aku mengatakannya.

__ADS_1


"Baik lah. Apa aku juga harus datang ke rumah untuk bantu kamu bicara dengan Ibu?" tanya Arga. Aku menggeleng dengan cepat.


"Tidak! Em ... maksudku. Aku akan bicara dengan Ibu terlebih dahulu. Lebih baik aku saja yang duluan bicara." Sanggahku dengan cepat.


__ADS_2