
Dadaku berdebar dengan kencang, tangan ini bergetar, lutut rasanya lemas tanpa tahu mengapa.
Masa, hanya karena kedatangan Arga dan keluarga saja aku jadi seperti ini? Padahal saat dulu Mas Hilman dan keluarganya datang untuk melamar, aku biasa saja, hanya sedikit berdebar. Itu saja.
Aku gelisah, tiba-tiba saja ada rasa takut, meski Ibu sudah mengizinkan aku bersama dengan Arga, dan juga Papa yang sudah menerima aku apa adanya, tapi tidak tahu kenapa ada rasa yang tidak biasa, takut, gelisah, berdebar, bahagia, menjadi satu dan tidak bisa aku hilangkan dari hati ini.
Tok, tok.
Suara pintu terdengar dua kali diketuk dari luar. Aku yang sedang duduk di tepi kasur tersentak, tangan masih gemetaran saat pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Bibi yang bergegas masuk sambil tersenyum.
"Dipanggil, tuh!" seru Bibi. Aku menatap Bibi, kedua tangan tidak bisa berhenti saling meremat satu sama lain. Bibi mendekat. "Cantik," ucapnya. Dia mengelus pipiku dengan lembut.
"Takut," ucapku tiba-tiba dengan nada yang lirih. Bibi tertawa kecil, satu alisnya naik ke atas.
"Sudah pernah lamaran sebelumnya juga kok masih takut, hihi. Tuh kalau si Ina, yang dilamar orang, ya wajar atuh kalau takut. Ini mah kedua kali, kok masih takut." Bibi tertawa kembali sambil menutup mulutnya. Ina adalah anak Bibi yang paling besar.
Aku menatap Bibi. Apa yang Bibi katakan memang benar, tapi aku tidak bisa menahan diriku sendiri. Takut dan gugup tanpa sebab.
"Kayaknya Arga sesuatu banget ya?" goda Bibi. "Ganteng dia. Hebat euy, bisa dilamar laki-laki seganteng itu. Anaknya juga ganteng pisan. Bibit unggulan!" Bibi mengangkat kedua jempolnya, membuat aku sedikit malu mendengarnya.
"Bibi denger dari Ibu, mantan ya?" tanya Bibi lagi. Aku semakin malu, menghindari tatapan Bibi dan mengangguk pelan.
"Aaaah, pantesan kayak anak ABG lagi. CeLeBek, atuh da!" ucap Bibi dengan nada khasnya. Aku menatap Bibi tidak mengerti.
"Celebek, apa?" tanyaku bingung.
"CLBK, CLBK. Cinta Lama Bersatu Kembali!" ucap Bibi sambil menyatukan kedua ujung jari telunjuknya, senyum jahil padaku. Aku semakin malu.
"Hayu atuh, kita keluar!" Bibi kini menarik tanganku pelan. "Nanti si kasep (ganteng) kecewa kalau sampai gak ketemu sama calon istri!" seru Bibi tidak sabaran. Diingatkan seperti itu, dadaku kembali berdebar.
"Takut pingsan!" ucapku. Serasa diri ini menjadi lebay, tapi jujur memang aku takut sekarang ini.
"Mau Bibi gendong?" tanya Bibi, lagi-lagi tersenyum dengan jahil. Aku menggelengkan kepala, tentu Bibi hanya sedang menggangguku saja, aku sudah sangat besar, tidak akan kuat dia gendong seperti zaman aku masih kecil dulu.
__ADS_1
"Duh, baru kali ini Bibi lihat kamu merona seperti ini, padahal kan dulu waktu kamu sama yang dulu itu, gak gini-gini amat!"
"Pasti beda ya sama yang ini mah?" Bibi tertawa lagi.
"Ya ampun, kenapa masih saja mengobrol? Itu tamu di luar sudah menunggu. Mah, ulah diajak ngobrol wae atuh calon panganten, teh. (Mah, jangan diajak ngobrol terus pengantinnya!). Bawa keluar, tuh karunya (kasihan) Si Ujang –sebutan untuk laki-laki yang lebih muda, Sunda– udah kayak orang yang mau di sunat aja. Gelisah!" ujar Mamang dari ambang pintu. Bibi menghentikan godaannya padaku dan mendelik sebal ke arah suaminya.
"Ti tadi ge diajak kaluar, tapi ieu tah si Neng Ayu na nu siga budak ABG, sieun ceunah!"
(Dari tadi juga diajak keluar, tapi ini Neng Ayu, kayak anak ABG, takut katanya!" Bibi berucap.
"Nya geus atuh, hayu kaluar. Tamu pada nungguan!" (Ya sudah, ayo keluar. Tamu sudah pada menunggu!)" ujar Mamang sambil menggerakkan tangannya menyuruhku untuk keluar.
Aku tidak terlalu bisa bahasa Sunda, tapi cukup mengerti dengan apa yang mereka katakan.
"Iya, Mang," jawabku. Bibi membantuku keluar dari dalam kamar.
Alhamdulillah, di saat seperti ini Bibi mengerti juga. Kakiku sedikit lemas, dengan lutut yang masih bergetar sedari tadi. Dalam-dalam aku tundukkan pandanganku saat kami sudah sampai di ruang tamu. Beberapa orang duduk di lantai beralaskan karpet. Bisa aku rasakan kalau semua orang yang ada di sini menatapku.
Sebelumnya aku bertanya pada Arga, berapa orang yang akan datang. Ternyata Arga benar-benar membawa keluarga besarnya datang kemari. Ada sekitar delapan orang yang aku lihat di ruangan ini, beberapa yang lain ada di luar duduk di sofa yang kami keluarkan tadi ke teras, karena ruang tamu di rumah ini tidak terlalu besar.
"Gara, Mama Ayu gak bisa jalan kalau kamu peluk seperti itu, Nak."
Aku menoleh, aku perkirakan salah satu kerabat Arga mendekat dan menarik bahu Gara. "Yuk, duduk lagi. Nanti Mama Ayu gak bisa duduk kalau kamu peluk kayak gitu."
"Dak mau! Mau sama Mama Ayu!" seru Gara, tidak mau melepas lingkaran tangan kecilnya dari kakiku.
"Tidak apa-apa, Bu," ucapku sambil tersenyum.
"Yuk, Gara duduk. Mau sama Mama, ya?" tanyaku sambil mengusap kepalanya. Anak itu mengangguk dengan kuat, tersenyum semakin lebar.
"Duh, ada Mama sekarang maunya sama Mama. Gak mau sama Budhe lagi, ya?" tanya wanita yang tadi. Gara mengalihkan tatapannya, menggelengkan kepala dengan cepat.
"Mau sama Mama!" Semenjak Gara tahu ayahnya dekat denganku, anak itu mulai memanggilku mama. Rasanya aneh karena tidak terbiasa, tapi bahagia di dalam hati. Bahagia sekali.
__ADS_1
Aku membawa Gara duduk, anak itu tidak mau jauh dariku, sehingga kini pun dia duduk di atas pangkuan.
"Duduk sini, Gara. Kamu berat buat Mama Ayu." Seseorang yang lain berbicara, menepuk tempat di sebelahnya. Lagi-lagi Gara menggelengkan kepala, malah menarik kedua tangaku untuk melingkar di depan perutnya. Dia bersandar dengan nyaman.
"Tidak apa-apa, Pak. Gak berat juga, kok." Aku tersenyum pada sosok pria yang lebih muda dari Papa.
Aku kembali menundukkan kepala, beruntung juga ada Gara di pangkuanku, bisa sedikit bersembunyi di balik kepalanya. Aku malu, rasanya tidak karuan di dalam dada.
Aku melirik ke arah Arga dengan ujung mataku, dia duduk di sebelah kiri. Tidak ingin meliriknya, tapi jelas pria itu terlihat dari sini. Dia juga menundukkan kepala, jari-jari tangannya tidak bisa diam di atas pangkuan. mengepal, sesekali kuat dan mengendur.
Para orang tua melanjutkan pembicaraan penting, tapi aku tidak jelas mendengar ucapan mereka, aku malah sibuk dengan duniaku sendiri. Sibuk berdialog dengan batinku tentang masa depan yang akan aku lalui dengan Arga nanti. Bagaimana hariku nanti? Bagaimana kehidupanku nanti? Apakah Arga benar akan menerimaku apa adanya? Aku bukan yang pertama untuk dia, apakah malam pertama nanti ....
"Bagaimana, Ayu?" tanya Pak RT padaku.
Aku tersentak dan mengangkat pandangan saat Bibi yang duduk di sebelah kanan menyenggol lenganku.
"Eh, setuju!" ucapku.
Bibi tiba-tiba tergelak, lalu menutup mulutnya dengan satu tangan, yang lain pun sama. Mereka terlihat menahan tawa.
Eh? Apa sih tadi yang aku jawab setuju? Pak RT tadi nanya apa, ya?
Aku bingung. Mereka malah melirikku dengan tatapan seperti melihat hal yang lucu sekali.
Malu.
Hwaaaaa .... Ingin bersembunyi saja. Apalagi saat aku sadar jika ternyata di ambang pintu ada seseorang yang sedang merekam dengan kameranya.
"Setuju apanya? Pak RT nanya kalau kamu sehat?"
Eh?
Astaghfirullah ....
__ADS_1
...***...
Hayoooo, ada yang ngalamin kayak gini gak? Xixixi 🤭🤭🤭