Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
231. Sapaan Dari Dalam Perut


__ADS_3

"Ayu, sayang!" Suara itu terdengar samar, kemudian semakin jelas terdengar dengan nada khawatir. Aku membuka mataku, mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyeimbangkan cahaya yang masuk ke dalam retina.


Tersadar di dalam sebuah ruangan dengan cat putih, khas berbau obat, aku sadar ini di mana.


"Alhamdulillah, kamu sadar!" seru Arga. Wajahnya terlihat sangat khawatir dan juga matanya terlihat basah.


"Aku di rumah sakit?" tanyaku lirih. Dia menganggukkan kepala dan menciumi punggung dan telapak tanganku beberapa kali.


"Iya, kamu pingsan, Sayang! Kenapa gak bilang kalau ada yang sakit?" tanya Arga membuat aku bingung.


"Hampir saja ...." Arga terdiam dengan perkataan yang seakan tak lagi bisa dia keluarkan dari mulutnya. Dia tidak melanjutkan ucapannya, hanya tangis yang dia pendam di telapak tanganku.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanyaku takut. Khawatir dan takut akan sesuatu kini terlintas di kepalaku. Sesuatu hal yang buruk.


Arga menggelengkan kepalanya, dia tersenyum dalam tangsinya.


"Hampir saja, tapi tidak apa-apa. Kamu pendarahan. Sudah ditangani oleh dokter tadi, " jelas Arga.


"Pendarahan? Bagaimana bisa?" tanyaku padanya, bingung kenapa aku bisa pendarahan, padahal aku cuma sakit lambung saja.


"Kenapa bisa pendarahan? Kamu gak hati-hati, ya?"


Aku hanya menggelengkan kepala, saat bangun tidur masih baik-baik saja.


"Jadi, anak kita bagaimana?" tanyaku akhirnya. Takut, pasti.


"Tidak apa-apa, masih selamat. Tapi kamu lain kali harus hati-hati, ya. Jangan kerja yang berat," ucap Arga.


"Aku gak kerja berat. Aku tadi cuma lapar," jawabku.

__ADS_1


"Gak, dokter bilang bukan karena lapar juga. Ini karena guncangan atau kamu yang angkat beban berat. Terus tadi kenapa bisa begini?"


Mendengar keterangan Arga yang seperti itu, aku hanya menggelengkan kepala. Aku menjadi yakin jika tadi karena setengah berlari menaiki tangga saat setelah Gara berteriak. Tidak ingin bicara kenapa aku sampai seperti ini. Takut, meskipun rasanya tidak mungkin, tapi bisa saja jika dia marah kepada Gara karena berteriak dan membuatku kaget tadi.


"Ya, sudah. Jangan pikirkan lagi. Sekarang kamu istirahat, ya. Jangan banyak beban pikiran. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk kamu lebih hati-hati esok hari," ucapnya.


Aku menganggukkan kepala. Benar apa kata dia, jangan sampai aku mendapatkan hal yang tidak diinginkan. Selama ini aku sudah lama menunggu dan jangan sampai jika terjadi hal yang membuat aku rugi dan celaka. Bukan hanya aku saja, tapi ada nyawa lain yang harus aku jaga di sini.


"Pa, jangan bilang sama ibu ya. Takut ibu khawatir. Jangan bilang juga sama Mama atau Gara," pintaku memohon. Arga tersenyum dan mengelus pipiku.


"Iya, tapi janji, jaga kandungan kamu dengan baik," ucapnya lagi.


"Terima kasih."


Arga tersenyum dan mendekat, mencium keningku dengan lembut.


"Maaf. Kamu jadi gak kerja karena aku, ya?"


"Gak apa-apa, gak banyak juga kerjaan di kantor. Untung saja masih ada aku, bagaimana kalau kamu pingsan aku gak ada. Aku pasti akan merasa bersalah sekali sama kamu, Yu. Gak bisa jagain kamu dengan benar sampai terjadi kayak gini," ucapnya lirih.


"Bukan salah kamu, aku yang gak hati-hati. Maaf."


"Pa, aku gak mau sampai sore di sini. Bisa gak sebelum Gara pulang sekolah, aku juga pulang?" tanyaku padanya.


"Takut Gara khawatir?"


"He-em," jawabku.


"Aku tanya dokter dulu, tapi kalau dokter gak izinkan kamu pulang jangan protes, ya?" tunjuknya pada hidungku.

__ADS_1


"Iya."


Arga kini bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan ini. Aku sedikit menarik tubuhku, menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Perut yang sedikit menyembul aku usap dengan pelan. Sedih karena hampir saja, kata Arga. Bagaimana kalau tadi Arga tidak bawa aku ke sini? Apa mungkin ....


"Maaf, Nak. Mama janji akan jaga kamu dengan baik," ucapku pada jiwa lain yang ada di dalam sana. Ku elus perutku yang kemudian kurasakan sebuah gelenyar pergerakan halus. Aku terpana, sedikit terkejut hingga kini terdiam, semakin mencoba untuk mendalami apa yang terjadi. Gerak halus itu terasa lagi, menciptakan senyum pada bibirku dengan sendirinya.


Apakah ini yang disebut kebahagiaan seorang calon ibu? Jelas aku belum melihat dia, tapi aku merasakan bahagia atas pergerakannya.


Pintu terbuka, dokter dan Arga melangkah berdampingan. "Bu Ayu sudah baikan?" tanya dokter saat telah sampai di dekatku.


"Baik, Dokter."


"Saya senang karena Pak Arga telah membawa Bu Ayu tepat waktu ke rumah sakit. Lebih banyak berhati-hati, ya. Jangan abai dengan kesehatan, jangan stress." Dokter mengeluarkan stetoskop-nya dan memeriksa dadaku, sebelumnya dia telah meminta izin untuk sedikit membuka pakaian pasien yang aku pakai. Terakhir, dokter mengecek nadiku.


"Kondisi Bu Ayu sudah gak apa-apa. Tapi dua hari lagi harus datang untuk kontrol, ya. Saya akan meresepkan obat nanti, untuk penguat kandungan."


"Jadi, kandungan saya lemah?" tanyaku pada dokter tersebut.


Dokter menggelengkan kepalanya. "Kandungan Bu Ayu sejauh ini kuat, tapi mungkin karena faktor kelelahan dan stress bisa jadi pemicu pendarahan. Apalagi, maaf, usia Bu Ayu sudah masuk kepala tiga, seperti yang saya jelaskan dulu, di usia seperti itu harus ekstra menjaga kandungan ya, Bu. Jaga emosi dan jangan lupa berolahraga ringan." Dokter itu tersenyum padaku.


"Pak Arga, kalau nengokin anaknya pelan, kan?" tanya dokter kini pada Arga. Suamiku terlihat merah wajahnya ditanya seperti itu.


"Pelan, Bu. Jangan khawatir. Masih bisa tahan kok, meski jatah cuma seminggu atau dua minggu sekali," ungkap laki-laki itu. Dokter tersenyum geli.


Duh, kenapa juga harus dijelaskan seminggu atau dua minggu sekali, sih!


"Sabar, ya. Sebenernya bisa kok seminggu dapat dua kali, seperti normal sebelum hamil, tapi ya jangan terlalu bersemangat juga," ucap dokter itu. Aku malu jika ada pembahasan seperti ini. Meski memang wajar, tapi jika pembahasan sudah ada orang lain, malu kan?


"Mau gimana rajin seminggu dua kali. Saya dekati aja malah digebuk bantal, Bu!"

__ADS_1


__ADS_2