
Arga masih saja berbaring tanpa mau menutup tubuhnya dengan selimut. Apakah dia tidak tahu jika penampilannya membuat aku berpikiran jauh dari sini? Aku bagai sedang berkelana di dunia lain dengan penuh imajinasi yang sangat membingungkan. Senang, bahagia, juga malu.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Arga padaku. Dia memiringkan tubuhnya dan menarik selimut yang ada padaku. Aku terkejut dan menahan selimut ini. Bahaya. Bahaya!
"Nan-nanti saja. Aku belum ngantuk," jawabku. Arga tersenyum tipis, dia menepuk tempat di sampingnya meminta aku untuk berbaring.
"Sini, jangan jauh-jauh dong," ucapnya dengan senyum manis bibirnya.
"Ma-mau apa?" Dadaku mulai berdebar lagi. Pikiranku mulai berkelana lagi.
"Baring saja. Bukankah kita sudah menjadi suami istri? Sepertinya ada banyak yang ingin kamu bahas denganku, kan?" tanya Arga. Aku bingung. Apa maksud dia dengan itu? apa maksud dia mau bahas? Aku gak pernah bicara apa-apa, kok!
Arga menarik tanganku dan memaksaku untuk berbaring. Aku bertahan, tidak ingin berbaring di sampingnya. takut jika nanti akan terjadi sesuatu yang lebih dahsyat dari yang tadi.
"Sini!" perintahnya sekali lagi. Aku menurut, senyum dan tatapan matanya tidak bisa aku lewatkan. Ku baring kan diri ini di sampingnya. Arga tidur miring menghadap ke arahku dengan satu tangan yang menopang kepalanya. Dia mengambil helai rambutku, memutar putar jari telunjuknya di sana sehingga rambutku tergulung. Dia bawa gulungan rambut itu ke dekat hidungnya.
"Wangi sekali," kata pria itu. Aku sedikit menjauhkan diri dari nya. Rasanya tidak nyaman saat ia mengatakan hal itu. Apalagi senyuman di bibirnya membuat aku terbuai dan rasanya ingin mencari pahala yang banyak dengannya.
"Apaan sih, lepas ah." Kurebut rambutku dari tangannya. Dia tertawa kecil.
"Kenapa sih? Masa mau cium rambut kamu saja gak boleh?" tanya Arga menatap jahil kapadaku.
"Ini tuh bau, Ga. Aku sudah ...." Aku terdiam, kemudian teringat sesuatu, sehingga merasa bingung sendiri.
"Kenapa?" tanya arga juga ikut bingung dengan kediaman ku.
Aku masih terdiam, apakah aku harus menyampaikan yang aku pikirkan sekarang?
"Ga, aku lupa. Bukankah besok aku harus mandi besar, bagaimana dengan lukaku yang tidak boleh basah?" tanyaku jujur kepada Arga. Arga terdiam, terlihat seperti berpikir sebentar. Dia lalu tertawa kecil dan menepuk keningnya sedikit keras.
"Aku lupa soal itu," ujarnya sambil menyeringai. Aku membayangkan jika lukaku basah lagi, apa yang akan terjadi dengan lukaku?
__ADS_1
"Aku lupa," ucap Arga sekali lagi. Aku pikir tadi dia ingat saat sebelum kami melakukan itu, kan?
"Bukannya tadi kamu ingat ya. Bilang kalau kamu takut aku sakit?" tanyaku memastikan. Arga tersenyum menyeringai dengan lebarnya.
"Hehe, aku tadinya ingat, tapi kan kamu juga yang tarik aku dan bilang untuk kita pelan dan cari pahala." ujarnya. Malu. Aku malu. B ila ku ingat, memang benar aku tadi mengatakan hal itu padanya.
Ku palingkan wajahku ke arah lain, menghindari tatapan Arga yang masih saja menatapku dengan lekat. Senyum kemenangan di bibirnya masih saja terlihat dengan jelas.
"Aku ingat dengan lukanya, tapi aku lupa dengan mandinya," ucapku, masih sedikit bingung karena berpikir kenapa akubisa lupa dengan hal yang penting itu dan bagaimana caranya aku keramas tanpa membuat basah lukaku. Eh, apakah mandiku akan bersih jika seperti itu? Aduh, aku jadi tambah bingung, kan?
Terdengar Arga menahan tawa hingga bahunya naik turun. "Haha. Dasar. Ya ampun, ternyata istriku ini lucu juga, ya. Aku kira kamu sudah pikirkan cara sampai kepada hal itu," ucapnya. Aku mendengkus kesal, bangun dari pembaringanku dan menatapnya dengan tajam. Bisa-bisanya dia tertawa di saat aku sedang berpikir keras seperti ini!
Arga ikut bangkit, duduk di sampingku dan mengelus kepalaku dengan lembut. Dia tidak lagi tertawa. "Tenang saja. Aku akan pikirkan cara kamu besok untuk mandi dan bersuci. Sekarang, tidur, yuk." Ajaknya. Dia kembali menepuk bantal ku yang tadi.
Aku menggelengkan kepala, membuat kening Arga mengerut menatapku.
"Kenapa?" tanya Arga padaku.
Arga tersenyum. Dia lagi-lagi mendekat ke arahku dan berbisik kembali. "Mau aku gendong?" tanya Arga dengan suara yang sangat lirih sekali. Wajahku terasa sangat panas mendengar ucapannya itu, terbayang sangat kuat di dalan isi otakku jika aku dia gendong ke dalam kamar mandi. Bisa jadi kami ....
Astaghfirullah!
Stop pikirkan itu, Ayu! Jangan mesum seperti ini!
Aku berteriak di dalam diriku sendiri. Pikiranku terlalu jauh memikirkan hal itu. Atau ... apakah karena selama ini aku menulis dan bisa menghayati peran, membuat cerita yang membutuhkan daya imajinasi besar sehingga aku terlalu mudah membayangkan hal yang seperti itu?
Ah, kacau!
"Kenapa? Kamu mau aku gendong ke luar?" tanya Arga sekali lagi, menyeretku kembali ke dalam dunia yang nyata.
"Tidak. Tidak perlu!" jawabku dengan cepat. Aku melambaikan tanganku padanya dan segera berusaha bangkit. Akan tetapi, area bawahku masih terasa sakit akibat pertempuran panas kami tadi. Rintihan tidak sengaja keluar dari mulutku membuat Arga terlojak dan khawatir.
__ADS_1
"Kenapa?"
Aku menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa, hanya sakit sedikit saja," jawabku padanya.
"Beneran?"
"Iya, beneran," jawabku lagi. Arga turun dari ranjang dan mengambilkan pakaianku yang teronggok di lantai, lantas memberikannya padaku.
Ku coba untuk bangkit kembali dengan perlahan setelah memakai pakaian yang tadi Arga berikan kepadaku.
"Masih sakit?" tanya dia dengan wajah yang masih khawatir.
"Sudah mendingan sedikit. Jangan khawatir, aku hanya belum terbiasa saja," ucapku padanya.
Arga tersenyum menyeringai, menghentikan laju tanganku yang sedang mengancingkan baju. "Kalau begitu kita harus melakukannya dengan sering, Yu." Arga tersenyum dengan nakal padaku. Kutepis tangannya membuang wajah ke arah lain.
"Gak mau, ah. Sakit," ucapku. Arga tertawa terkekeh, mengambil daguku dan mengecup bibirku dengan singkat.
"Katanya tadi belum terbiasa, maka dari itu ayo kita lakukan lagi yang sering, biar terbiasa kalau aku mau menjelajah," bisiknya tepat di telinga kanan. Ku rasakan juga telingaku yang sediikit sakit dengan sebuah emutan dan gigitan kecil di sana.
Aku malu, jujur saja aku malu diperlakukan seperti itu olehnya. Bahkan, Mas ....
Sudah lah, kenapa juga aku terus membandingkan Arga dengan Mas Hilman? Kesannya aku tidak bisa move on dan tidak bersyukur karena telah menikah dengan dia.
Ku langkahkan kaki ini dengan pelan ke arah pintu, diiringi tatapan dari Arga yang terlihat menyeramkan malam ini, seram tapi juga menggoda.
Hampir aku membuka pintu, tapi urung aku lakukan karena terdegar orang-orang yang sedang berbicara di luar sana, di ruang tv yang juga berdekatan dengan pintu kamar.
"Kenapa?" tanya Arga saat aku duduk kembali di sampingnya.
"Tidak apa-apa, tapi sepertinya kalau sekarang keluar banyak orang, Ga. Aku malu," ucapku.
__ADS_1