Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
132. Pertolongan Arga.


__ADS_3

Ibu masih terdiam di tempatnya, tidak bergerak sama sekali. Kepala yang terbebat dengan perban menandakan jika kepala Ibu bisa saja berdarah.


"Kenapa Ibu bisa ada di luar? Bagaimana bisa Ibu celaka seperti ini?" tanyaku di antara tangis. Aku menggoyangkan tubuh Ibu yang masih hanya diam.


"Ibu!" teriakku lagi. Rasa khawatir melanda, takut sebelum Ibu membuka mata dan melihatku.


"Ayu. Jangan lakukan itu, Yu. Dokter bilang Ibu harus beristirahat," ucap Arga. Dia menarik kedua bahuku agar menjauh dari Ibu.


"Arga! Ibu gak akan apa-apa, kan?" tanyaku pada pria ini.


"Iya, dokter bilang Ibu hanya sedikit gegar otak dan juga ada bagian yang patah di tangan. Itu menandakan jika Ibu terjatuh cukup keras, tapi semua sudah ditangani dengan baik oleh dokter," jawab pria itu.


Aku menatap Ibu kembali, selang oksigen dan selang infus terpasang membuat aku semakin ketakutan. Hanya tangis yang bisa aku lakukan tanpa bisa melakukan apapun untuk membantu mengurangi kesakitan Ibu.


"Sudah. Jangan nangis lagi. Ibu pasti akan baik-baik saja. Kamu yang tenang ya?" Arga mencoba untuk menenangkanku. Ucapan dan usapan lembut di lenganku membuat diri ini sedikit tertarik dari ketakutan.


Entah kenapa diri ini tertarik ke arahnya dan aku melabuhkan kepala ini pada pundaknya, menumpahkan segala tangis di sana. Sedu sedan tangis penuh penyesalan karena aku tidak bisa menjaga Ibu dengan baik. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak berdaya sekarang ini.


Sejenak tidak ada yang terjadi, hanya isak tangisku yang terdengar hebat beberapa saat. Aku tidak tahu, dan juga tidak sadar dengan apa yang terjadi. Hingga usapan lembut di kepala membuatku tersentak dari rasa nyaman yang menenangkan.


Aku menjauh dari Arga, merasa diri sangat bersalah karena telah melakukan hal yang tidak baik terhadapnya. Dengan seenaknya menggunakan bahu dia untuk bersandar. Siapa dia? Siapa aku? Harusnya aku sadar diri dengan keadaan kami.


Rasa takut yang teramat sangat melihat keadaan orang tua satu-satunya tidak berdaya di ranjang rumah sakit membuat aku sangat takut sekali. Tidak bisa berpikir apa-apa, hingga tidak sengaja melakukan hal itu tadi.


"kamu sudah tenang?" tanya Arga padaku. Aku mengangguk dan meminta maaf terhadapnya atas apa yan aku lakukan tadi.


"Haha, tidak apa-apa. Memang jika dalam suasana sedih seperti ini paling enak jika ada seseorang yang bisa dijadikan sandaran buat kamu.. Kalau di sini ada Diana, kamu juga pasti akan bersandar sama dia, kan?" ucap Arga padaku.

__ADS_1


Aku jadi malu sendiri dan sekali lagi mengangguk sebagai jawaban dia


"Duduk di sana, aku akan keluar sebentar," ucap Arga lagi.


"Kemana?" tanyaku refleks dengan menyentuh tangannya hingga langkah kakinya terhenti.


Apa yang aku lakukan? Kenapa aku harus menahan tangannya seperti ini?


Aku terdiam, melepaskan tanganku darinya.


"Ma-maaf," ucapku meminta maaf. Rasanya tidak karuan sekali di dalam hati ini. Ayolah hati, apa yang kamu lakukan? Bukan saat yang tepat sekarang ini untuk merasakan hal yang lain!


Arga tersenyum dengan sedikit lebar.


"Aku keluar sebentar, nanti aku balik lagi, kok," ucap pria itu lalu dia benar-benar pergi kali ini tanpa aku menahannya lagi. Entah kenapa, aku sudah percaya kepadanya kalau dia akan kembali lagi dan tidak akan meninggalkan aku seperti dulu.


Aku duduk di dekat Ibu, menatap mata Ibu yang sedikit bergerak, mengerjap seakan sedang mimpi buruk.


Lumayan lama aku menunggu orang itu kembali, hingga tidak tahu berapa kali pandangan ini teralihkan dari Ibu ke arah pintu.


"Maaf aku lama, Yu." Arga sudah masuk ke dalam kamar ini, di tangannya terdapat sebuah paper bag. Baju Arga sedikit basah di bahunya.


"Ini ... ada baju. Aku beli tadi buat kamu ganti. Pakaian kamu basah," ucap pria itu seraya memberikan paper bag ke tanganku.


"Tidak perlu repot, Ga. Sebenar lagi juga baju ini hampir kering," ucapku padanya. Dia menatapku dengan tidak suka.


"Ganti! Kamu mau sakit saat menunggu Ibu kamu di sini?" tanya Arga sedikit memaksa. Terdengar nada marah di suaranya.

__ADS_1


"Tenang saja, kalau kamu gak mau baju itu dengan gratis, aku akan minta bagian keuangan untuk potong beberapa persen gaji kamu bulan depan," ucap pria itu lagi.


Aku terpaksa menerima paper bag berisikan baju tersebut. Memang rasanya tubuh ini sedikit menggigil, apalagi AC di ruangan ini cukup sejuk. Jas yang Arga berikan tadi tidak cukup untuk menghalau rasa dingin yang ada.


"Ayo ganti saja. Biar Ibu aku jaga saat kamu ganti baju," tambahnya.


Aku memandang tubuhku di cermin kamar mandi. Pakaian dan juga hijab yang Arga belikan terlihat pas di tubuhku, tidak terlalu longgar, tapi tidak juga memperlihatkan lekuk tubuh. Warna baju dan juga hijab juga senada. Sandal yang dia belikan juga sangat cantik di kakiku.


Rasa dingin yang tadi aku rasakan kini berganti dengan hangat pakaian kering, serasa memeluk dan memberikan kenyamanan.


"Kamu nyaman tidak dengan baju itu? Kalau tidak nyaman aku minta orang untuk beli yang baru," ujar Arga saat aku keluar dari dalam kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Begitu perhatiannya Arga, padahal saat bersama dengan Mas Hilman, dia tidak pernah mau membeli pakaian untukku sendirian.


"Tidak perlu, ini sangat nyaman sekali. Terima kasih," ucapku padanya.


"Sama-sama."


Kami terdiam, duduk saling berhadapan satu sama lain, tapi tatapan kami sama-sama menunduk. Aku tahu, karena terkadang aku tidak tahan untuk melirik ke arahnya, sedang menunduk memperhatikan jarinya yang bergerak-gerak di atas pangkuan.


"Maaf ya soal tadi. Aku suruh sopir jemput kamu pakai motor. Tujuanku supaya gak terjebak macet, malah jadinya kamu kehujanan. Apa kamu ada yang di rasa sakit?" tanya Arga padaku.


"Aku akan panggilkan dokter buat kamu," tambahnya lagi.


"Tidak usah, Ga." cegahku dengan cepat. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Terima kasih karena kamu sudah sangat baik buat aku.


Kami kembali terdiam. Tak berapa lama terdengar suara Ibu yang memanggil namaku. Aku segera bangkit dan mendekat kepada Ibu.

__ADS_1


"Ibu sudah sadar. Ibu mau minum?" tanyaku pada Ibu, gelas berisikan air minum aku dekatkan pada Ibu. Ibu hanya diam menatap lurus ke arah depan di mana Arga berada.


"Kamu ... kenapa dia ada di sini?" tanya Ibu menunjuk dengan satu tangannya yang bergetar.


__ADS_2