
Benar saja setelah kami pergi ke rumah sakit dokter menyatakan aku sudah pembukaan enam, padahal tidak terasa tanda apa pun saat siang tadi, hanya baru setelah selesai di naiki Arga baru rasa sakit itu aku dapatkan.
Dokter menyarankan untuk berjalan-jalan sebentar, sambil menunggu menambah pembukaan. Arga dengan setia menemaniku berjalan di luar ruangan. Mbak Sus ada sedang duduk di kursi, terkantuk-kantuk karena ini sudah tengah malam, sesekali terjaga dan melihat ke arahku.
"Mbak, tiduran saja di kamar sana. Saya gak apa-apa, kok. Kan ada Bapak juga," ucapku pada Mbak Sus, kasihan juga melihatnya seperti itu, terkantuk hingga kadang terlihat kepalanya terjeduk dinding.
"Eh, enggak ah, di sini aja. Nanti kalau kebablasan enak tidur gak tau lagi kalau ibu dah kerasa," ucapnya menolak.
"Kamu mau aku bawakan makanan?" tanya Arga padaku, aku menggeleng pelan.
"Tapi kamu tadi sore juga makan gak banyak loh, nanti lemes gak bisa ngeden gimana?" tanyanya khawatir.
"Gak pengen makan apa-apa. Aku pengen ibu. Telepon ibu, gih." Pintaku. Arga terlihat bingung, pasalnya ini sudah tengah malam.
"Ibu udah tidur kali, Ma."
"Tapi aku pengen ada ibu, Pa." Aku memelas, rasanya takut sekali dengan keadaanku yang seperti ini. Bayangan jelek selalu saja melintas di kepala. Bagaimana jika aku tidak selamat saat melahirkan? Aku belum bertemu dengan ibu, belum meminta maaf atas segala kesalahanku, belum berterima kasih atas apa yang telah dia berikan kepadaku.
"Pa, mau ibu." Sekali lagi aku memelas.
"Oke, deh. Aku suruh pak sopir jemput ibu."
Arga pergi ke parkiran di mana pak sopir tadi pamit tidur sebentar di mobilnya. Aku melanjutkan berjalan-jalan kecil di dekat Mbak Sus yang terlelap.
Malam semakin larut, jarumnya sudah menunjuk ke angka satu lebih, tapi pembukaan ku hanya menambah satu. Sedikit lama dari yang aku rasakan saat melahirkan Azka dulu.
"Duduk sini." Arga menepuk tempat kosong di sampingnya, aku duduk sebentar, sedikit capek kaki ini terus berjalan sedari tadi. Dia mengambil kakiku dan memangkunya di atas paha, memijat dengan perlahan.
__ADS_1
"Ayu!" seru ibu setengah berlari bersama gadis yang menemaninya selama ini. Langkah kakinya cepat sehingga beberapa detik sudah sampai dan memelukku.
"Alhamdulillah , ibu kira terlambat, Yu! Kamu mau lahiran sekarang?" tanya ibu.
"Iya, Bu."
"Gara sama Azka di rumah?"
"iya, mereka tidur, gak dibangunin," jawab Arga.
Ibu mengeluarkan wadah dari kresek hitam, dari wadah transparan bisa aku lihat makanan berwarna putih.
"Makan bubur, tadi ibu agak lama soalnya bikin ini dulu buat kamu," ucap ibu, wadah itu dibuka, aku lihat bubur dari tepung beras, gula merah dan santan ibu keluarkan dari wadah lain.
Terharu rasanya melihat apa yang ibu bawakan, seketika aku menjadi ingin makan, padahal tadi tak kurang Arga menawarkan aku makanan.
Lelah dan sakit sudah pasti aku rasakan, tapi tidak ingin menyerah untuk sesuatu hal yang indah demi kebahagiaan kami.
"Berjuang, Sayang. Kamu pasti bisa," ucap Arga, matanya merah saat aku melihat wajahnya, bulir air mata dan juga doanya mengiringi perjuanganku.
Suara tangisan bayi terdengar sangat keras setelah tak lama dia keluar dari jalan lahirnya, tidak terlalu sulit aku rasakan karena sang kakak sudah membuka jalan untuk adik bungsunya ini.
"Alhamdulillah, bayinya perempuan!" seru dokter dengan senang lalu menengkurapkan bayi itu di atas ku. Aku menatap dia, cantik sekali meski sedang menangis.
"Alhamdulillah, anak kita lengkap. Akhirnya aku punya seorang putri cantik," ucap Arga. Dia mencium keningku, lalu tanpa merasa jijik dia juga mencium kening putri kecil kami.
"Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah membuat kebahagiaan kami sempurna." Isak tangis terdengar dengan sangat jelas dari suamiku, menyebut dan mengagungkan Sang Maha Pencipta.
__ADS_1
...***...
Almaira Nadia Ramayudha, nama putri kecil kami. Arga yang langsung memberikan nama tersebut saat setelah dia mengumandangkan adzan. Nama yang sangat indah untuk di dengar, juga memiliki artian yang bagus di dalamnya, semoga saja putri kecil kami menjadi anak yang solehah. Aamiin.
"Cantiknya Dedek Alma," gumam Gara sambil mengusap pipi adik bayinya yang terlelap tidur, sedangkan Azka yang kini sudah berusia satu tahun menatap Alma yang ada di pangkuanku.
"Mamam," ucap anak itu sambil mengulurkan tangannya padaku.
"Ih, Azka cemburu ya Mama gendong Dedek Alma?" Ibu menggoda putraku, mendekatkan dan menjauhkan dia yang masih mengulurkan tangannya. Aku tertawa melihat wajahnya yang sebal, sedikit merengek karena ingin aku gendong.
"Wah, kayaknya ada yang cemburu, nih. Azka sama Papa aja ya?" Arga mengulurkan tangan hendak mengambil alih Azka dari ibu, tapi anak itu menepis tangan Arga dan mulai merengek lagi.
"Kaka, jangan! Kan udah ada dedek, gantian!" ujar Abang Gara memberi peringatan. Azka bersuara, berteriak seperti tidak terima. Aku dan Arga tertawa kecil melihat tingkah Azka yang semakin menggemaskan.
"Sini Alma sama aku aja, kamu gendong Azka, cemburu dia. Ih anak cowok kok cemburuan!" goda Arga pada putranya.
Azka tertawa dengan senang saat kini aku pangku. Dia memegang bajuku dengan erat dan menatap adik bayinya dengan ekspresi aneh. Entah, apakah aku sedang mengartikan jika dia berbicara mungkin akan mengatakan, 'Mama milikku!'.
"Azka sama Nenek, biar Dedek Alma sama Mama, ya?" Ibu mengulurkan tangannya lagi, memaksa mengambil tangan Azka, tapi aku tahu itu hanya untuk menggodanya saja. Lagi-lagi tangan yang lain dia tepiskan dan bersuara dengan kesal. Biasanya jika dia seperti itu berarti dia tidak mau.
"Aduh, kalau Kaka gak mau sama yang lain gimana nanti dedeknya?" celetuk Arga.
"Ini nih kalau punya anak masih kecil punya adik, ya begini. Hihi, banyak cemburu karena belum ngerti. Nikmati aja," ucap ibu dengan tawa kecil.
Arga membawa Alma ke kursi sofa, diikuti oleh Gara yang tidak mau ketinggalan dengan adik barunya, sedangkan Azka masih menempel dengan erat padaku, menatap ayah, abang, serta adiknya di sana. Tangannya terulur seperti ingin bergabung dengan yang lainnya, tapi saat ibu hendak mengambil dia, lagi-lagi Azka tidak mau.
"Ya ampun, anak Mama nih cemburu, ha? Tuh dedeknya nanti disayang, ya? Dijagain sama Kaka, gak boleh dinakalin, ya?" pintaku pada Azka,meski kini dia belum mengerti, tapi jika diajari untuk saling menyayangi aku yakin mereka akan tumbuh dengan akur dan rukun.
__ADS_1