Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
306. Pusing Menghadapi Ibu.


__ADS_3

Aku dan Vita berjalan keluar rumah, kami hanya berjalan kaki tidak memakai motor. Sengaja agar Vita lebih lancar berjalannya.


Dengan memegangi tanganku, dia melangkahkan kaki kecilnya satu persatu. Melewati rumah bercat hijau itu, membuatku melangkahkan kaki dengan perlahan. Entah apa yang aku pikirkan, tapi rasanya ingin sekali melihat dia atau pun hanya bayangannya saja dari luar sini. Sampai kami pergi dari sana harapanku yang tadi tidak terwujud. Aku tidak melihatnya sehingga membuat hati ini menjadi aneh.


Semenjak pertemuan kami di taman itu, kami belum lagi bertemu. Ada rasa yang tidak nyaman dan ingin sekali melihatnya. Apa yang seharusnya aku lakukan? Mencoba untuk melupakannya, sudah. Mencoba untuk mengalihkan perhatian darinya, sudah juga. Rasanya sangat sulit sekali untuk mengenyahkan dia dari pikiranku.


Kami berjalan tidak jauh, menuju ke sebuah warung makan sederhana yang ada di ujung jalan. Baru saja masuk ke dalam sana aku dikejutkan oleh sapaan dari seorang wanita.


"Eh, Hilman sama Vita. Lagi apa?" tanya wanita itu. Aku terpana dengan sosoknya. Dia baru saja menerima bungkusan plastik yang diberikan oleh pemilik warung.


"Eh, ada Mbak Dewi ternyata. Ini mau beli sayur sambil ngajak Vita jalan-jalan aja," ucapku kepadanya.


"Oh, iya. Kalau begitu saya duluan ya." Dia pamit kemudian pergi dari warung setelah menerima kembalian. Rasanya bahagia bertemu dengan dia, tapi juga kecewa karena aku kira dia akan menunggu kami selesai di sini dan akan berjalan pulang bersama. Vita juga hanya disapa sekedarnya saja, sampai-sampai anak itu melongo melihat kepergian Dewi dari warung ini.


Ada apa dengan dia kini? Kenapa terlihat sedikit aneh? Maksudku, biasanya Mbak Dewi banyak bicara, apalagi jika ada Vita, dia pasti akan memeluknya terlebih dahulu.


"Mas Hilman mau pesan apa?" Terdengar tanya dari si pemilik warung, membuyarkan lamunanku tas diri wanita yang tadi meninggalkanku di sini.


"Eh, iya. Sayur sopnya lima ribu."

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya wanita itu lagi.


"Sebentar," ucapku lalu mengedarkan pandangan ke dalam etalase dengan banyak makanan di sana. Ku tunjuk tiga jenis makanan yang berbeda. Sekiranya juga bisa untuk dihangatkan besok hari, untuk sarapan dan buka aku di pabrik.


Selesai dengan membeli sayur aku dan Vita kembali berjalan kaki menuju rumah.


Udara sore ini sedikit dingin. Untung saja tadi aku memakaikan jaket kepada Vita. Meski dia berjalan dengan pelan, tapi aku sangat senang dia masih mau berusaha. Saat aku akan menggendongnya karena takut jika dia lelah, dia menggerakkan satu tangannya menyingkirkan tanganku. Hanya bicara 'eh' yang terdengar kesal, biasanya aku artikan sebagai penolakan dari Vita.


Hampir satu jam lamanya, baru lah kami sampai di rumah. Ibu terlihat masih manyun saat aku memanggilnya untuk makan malam, hanya sayur sederhana yang aku beli dari warung makan tadi. Ibu duduk sambil mengitari makanan dengan pandangannya.


"Ayo makan, Bu. Kenapa cuma di lihatin aja?" tanyaku. Terdengar decak kesal dari mulut ibu. Nasi sudah aku siapkan di piringnya, tinggal memindahkan lauk pauk saja. Akan tetapi, ibu kini masih saja diam.


"Iya, kenapa?" tanyaku bingung.


"Gak ada yang lain gitu? Rendang, atau ikan bakar gitu?" tanya ibu.


Aku sedikit mengeratkan gigi. Permintaan ibu ini mencerminkan orang yang kurang bersyukur dengan keadaan.


"Gak usah minta yang aneh, ini aja makanan udah mewah. Mau apa lagi, sih?" tanya ku dengan geram.

__ADS_1


"Ibu mau rendang, atau ikan bakar, Man! Atau itu tuh, seafood, makanan laut," ucapnya dengan sangat jelas sekali. Ayam kecap, sayur nangka, sop, dan lele goreng yang ada di depan kami, ibu tolak keberadaannya.


Aku menyimpan sendok dengan sedikit kasar hingga terdengar suara dentingannya pada piring, membuat ibu menatapku dengan kaget.


"Kenapa Ibu rewel banget, sih? Segini aja sudah harus di syukuri karena banyak orang di luaran sana susah untuk cari makanan!" ucapku dengan kesal.


"Ya kan sesekali, Man. Ibu gak minta setiap hari, hanya sesekali," ucapnya dengan cepat.


"Iya, tapi Ibu mintanya gak lihat situasi, kita ini sedang bagaimana, Bu? Bisa gak nunggu kalau Hilman gajian, lagian ibu akhir-akhir ini boros banget. Gas udah aku yang beli, minyak dan beras serta sabun juga, masa uang dua ratus tiga hari sudah habis aja. Sedangkan kita makan setiap hari cuma begitu, sayur biasa, telur juga jarang," ucapku. Ibu langsung menundukkan kepalanya. Aku melihat wajahnya yang berubah air mukanya.


"Vita, Man. Vita jajannya banyak. Kemarin aja sampai tiga puluh ribu," ucap ibu sedikit terbata. Di sini aku yakin jika bukan Vita yang menghabiskan uang itu. Rasanya tidak masuk akal dengan jajan Vita terutama sedari kemarin tidak melihat bungkusan jajanan tercecer atau sisa jajanan di dalam rumah ini. Vita yang terkadang hanya mau dan menyisakan jajan, dan aku yang menghabiskannya. Ibu, mana mau makanan bekas Vita seperti itu.


"Sudah lah, kalau memang jajan Vita banyak kan juga masih ada sisa, masa tiga hari kalau jajan Vita aja tiga puluh ribu masih ada sisa seratus sepuluh, untuk sayur dibagi tiga hari kan kurang lebih empat puluh sehari, ibu kemarin cuma masak tahu sama bayam, besoknya pindang sama sayur kangkung, hari ini gak masak. Harga sayur itu doang gak sampai lima puluh ribu, Bu." Ibu kini menunduk. Tangannya bergerak di bawah meja.


"Harusnya masih ada sisa buat masak hari ini kalau makanan hanya seperti itu saja, kan?" tanyaku seakan seperti seorang jaksa yang sedang mengadili seseorang.


"Kamu tuh kenapa sih Man bicara kayak gitu? Kamu gak tau keperluan rumah seperti apa, jangan bilang kalau duit segitu boros lah!"


"Memangnya apa yang ibu beli lagi? ibu kan mengurusi rumah tangga sudah lama, uang segitu pasti bisa di kira-kira kan bisa lebih lama, uma buat beli lauk pauk aja. Kalau yang dimasak tiap hari hidangan yang mewah Hilman bakalan wajar kalau uang habis dalam waktu dua hari. Sudah lah, Bu, Hilman capek debat sama Ibu terus soal uang. Yang Hilman mau tuh Ibu ikut prihatin dengan keadaan kita, Bu. Bukannya merongrong terus minta uang dan uang. Minggu ini sudah tujuh ratus uang yang Hilman keluarkan untuk urusan dapur," ucapku dengan kesal lalu memilih pergi dengan membawa Vita dan juga piring milikku ke arah ruang TV.

__ADS_1


Kesal rasanya jika dimintai terus, terserah di sebut pelit juga. Aku hanya tidak ingin pusing mencari utangan hanya untuk menutupi kebutuhan dapur!


__ADS_2