
Hari ini adalah jadwal Ibu operasi. Kami sudah sampai di rumah sakit sedari pagi tadi untuk melakukan pemeriksaan pra operasi dilakukan. Yu Tarni dan Pak handoyo ikut mengantarkan kami kesini.
Rasa khawatir tentu saja menyerang di dalam hati, berdebar terus sedari malam tadi sampai aku tidak bisa tidur sama sekali. Alhasil aku bisa membuat hampir lima bab dalam waktu semalaman, itupun tidak fokus karena aku sering mengecek keadaan Ibu.
Sinta belum pulang dari kuliah, dia tadi menelepon jika sudah pulang akan langsung datang ke rumah sakit. Beruntung, meskipun tidak ada saudara disini, tapi Sinta dan keluarganya sangat baik dan juga peduli pada aku dan juga Ibu.
"Yu, kamu kenapa sih?" tanya Ibu dari atas brankarnya. Ibu menggapaikan tangannya padaku meminta untuk mendekat ke arah beliau.
Aku menggelengkan kepala, tapi mendekat pada Ibu dan duduk di samping Ibu.
"Gak apa-apa, Bu," jawabku.
Ibu mendekatkan diri dan memelukku.
"Ibu akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, ya." Usapan lembut Ibu berikan terhadapku. Rasa hangat di punggung dengan penuh kasih.
Aku tak tahan rasanya. Ku peluk Ibu dan menangis. Ah, aku memang cengeng. Tidak bisa menahan rasa khawatirku dan mengatakan jika aku baik-baik saja.
"Ibu harus kuat ya nanti. Ibu harus sembuh setelah ini," ucapku terhadapnya. Isak tangisku tidak bisa ditahan, kini menangis di dalam pelukan Ibu.
"Ibu kuat, kok. Kamu lihat kan selama ini Ibu masih bisa bertahan?" tanya Ibu terhadapku.
Ibu menarik tubuhku menjauh dan mengusap air mata yang membasah di pipi.
"Kamu yang harusnya kuat. Ibu malah khawatir sama kamu daripada sama kesehatan Ibu sendiri," ucap Ibu dengan senyuman di bibirnya.
"Kamu harus kuat menghadapi cobaan ini, ya. Jangan lemah. Karena kalau kamu terlihat lemah, maka orang lain akan lebih mudah menindas kamu," ucap Ibu lagi. Aku mengangguk menanggapi ucapannya.
__ADS_1
Yu Tarni mendekat ke arah kami. "Benar apa yang Ibu kamu katakan, Yu. Kamu harus menjadi wanita yang kuat. Lihat Ibumu sedari dulu bagaimana saat di tinggal Bapak. Kuat dan juga tegar. Sekarang saja lemah karena sakit, kalau tidak sakit, kamu sendiri tau kan gimana sifat Ibu kamu? Gak mau diam di rumah," ucap Yu Tarni padaku. Aku mengangguk, mengingat apa yang Ibu lakukan dulu setelah Bapak meninggalkan kami. Ibu harus berjuang seorang diri untuk hidup dan juga membiayai kuliahku.
Ibu kini telah di bawa ke ruangan operasi, beberapa dokter telah masuk ke dalam ruangan itu. Aku dan Yu Tarni serta Pak Handoyo kini menunggu di luar.
"Mbak Ayu," panggil Dokter Hendra yang baru saja datang. Aku berdiri.
"Doakan untuk kelancaran operasi ini, ya," ucap Dokter Hendra seraya tersenyum dan menepuk pundak.
"Iya, Dokter. Saya pasti akan banyak berdoa untuk kelancaran operasi ini. Tolong lakukan yang terbaik untuk Ibu saya, Dokter." Pintaku. Dokter Hendra mengangguk kemudian masuk ke dalam ruangan itu. Dokter Wira yang berdiri di belakang Dokter Hendra tadi kini mendekat ke arahku.
"Mbak Ayu jangan khawatir, Ibu Mbak Ayu akan di tangani dengan baik oleh para Dokter terbaik disini, saya juga akan membantu memantau kondisi Ibu Diah di dalam sana," ucap Dokter Wira.
"Terima kasih, Dokter. Saya mohon bantuannya," ucapku seraya sedikit membungkukkan badan. Dokter Wira juga menyusul masuk ke dalam ruangan itu.
Kini tinggallah aku, Yu Tarni dan juga suaminya. Kami duduk di ruang tunggu. Lampu ruangan itu menyala tanda operasi sedang dilakukan.
Rasa khawatir dan takut masih saja menggerogoti hati ini, doa dan juga dzikir terlantun tiada henti. Hanya pada Yang Maha Kuasa aku menyerahkan segalanya. Hidup dan mati umat manusia ada di tangan-Nya.
"Sabar, Yu. Percayakan semua ini kepada Gusti Allah." Yu Tarni mengelus pundakku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum ke arahnya.
"Semoga saja operasi Ibu mu sukses dan bisa kembali ke rumah lagi," ucapnya.
"Terima kasih, Budhe. Terima kasih," ucapku padanya. Rasa panas yang sedari tadi terasa di mataku kini mengalir sudah. Yu Tarni mengambilku ke dalam pelukannya. Rasa nyaman yang aku rasakan ketika diri ini sedang rapuh dan lemah, sedangkan tempat bersandarku kini ada di dalam sana.
"Mbak Ayu, bagiamana Budhe?" suara Sinta terdengar terengah di belakang ayahnya. Aku segera mengusap wajahku yang basah.
"Masih di dalam." Pak Handoyo yang menjawab. Sinta kini duduk di sampingku dan memelukku dengan erat.
__ADS_1
"Yang sabar ya, Mbak. Kita doa sama-sama supaya Budhe cepet sembuh," ucap Sinta. Aku mengangguk sebagai jawaban.
Kami menunggu lumayan lama di luar ruangan itu, operasi baru berjalan hampir dua jam. Dokter Hendra bilang operasi itu akan menghabiskan waktu tiga sampai lima jam. Semoga saja tidak ada halangan sehingga operasi itu selesai dengan cepat.
"Ayu, bagaimana keadaan Ibu?" Seorang pria tiba-tiba saja berjongkok di depanku.
"Ibu operasi kenapa kamu gak bilang sama aku?" tanyanya lagi dengan nada khawatir.
Aku terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba, pasalnya tidak ada yang mengabarinya. Sinta seketika berdiri.
"Ngapain Mas Hilman ada disini?" tanya Sinta dengan sewot.
Mas Hilman hanya menengadah menatap Sinta sekilas lalu tidak peduli.
"Kamu seharusnya bilang sama aku kalau Ibu mau operasi. Aku bisa temani kamu," ucap Mas Hilman tanpa menghiraukan Sinta. Tangannya yang besar memegang tanganku di atas pangkuan, tapi aku segera menariknya. Terlihat raut kekecewaan dari pria itu.
"Ngapain kamu disini? Aku gak ada kewajiban untuk bilang sama kamu dengan keadaan Ibu," jawabku dengan pelan. Rasanya tidak ingin berdebat atau ribut dengan keadaan sekarang ini.
"Mas Hilman denger kan apa yang Mbak Ayu bilang? Mendingan Mas Hilman sekarang pulang deh. Jangan buat kekacauan di rumah sakit ini," ujar Sinta mengusirnya.
"Aku gak ada maksud untuk mencari kekacauan, tapi aku hanya ingin mendampingi istriku di saat kesulitannya," ujar Mas Hilman dengan nada dingin menjawab ucapan Sinta.
Sinta tertawa, terdengar nada mengejek di dalam tawanya itu.
"Mendampingi di saat kesulitan? Helooww, Mas Hilman suami yang baik dan juga perhatian dengan istri, kemana aja selama ini? Harusnya, itu Mas Hilman katakan sejak lama sebelum ini. Sok-sok'an ingin mendampingi istri dikala susah. Dari kemarin kemana aja, Bos?!"
"Sinta! Yang sopan kamu kalau bicara!" peringat Pak Handoyo pada sang putri. Sinta mengerucutkan bibirnya, pertanda kesal dengan peringatan dari sang ayah.
__ADS_1
"Sinta cuma mau mengingatkan saja, Pak. Dari mana saja dia selama ini sampai Mbak Ayu sudah hampir menyerah baru datang?!" kesal Sinta bicara pada sang ayah.
"Hilman, kalau kamu mau cari ribut dengan kami, lebih baik kamu pulang saja. Saya gak akan izinkan kamu untuk ada disini!"