
"Ayu? Ada disini juga?" Arga telah datang dan mendekat pada putranya. Dia tersenyum padaku setelah mencium kepala Gara dengan sayang.
"Iya, kebetulan sekali aku juga sedang disini dan memesan makanan untuk makan siang nanti," jawabku. Tak ku sangka, Arga menarik kursi di sampingku. Tentu saja, kursi di samping Gara diisi oleh pengasuhnya yang baru, maka dia tidak bisa duduk di samping putranya.
"Mau makan sekalian?" tanya Arga padaku.
"Tidak, terima kasih." Aku menggeleng dengan tegas, menolak tawarannya.
"Tante, kenapa tidak mau makan?" tanya Gara terhadapku. Matanya yang bulat menatap penuh tanya.
"Tante ada yang tunggu di rumah. Gara makan saja sama Ayah, ya."
Aku membujuk Gara, kenapa rasanya jadi aneh menyebutkan kalimat barusan? Seakan aku sedang membujuk anakku sendiri dan menyebutkan kalau ....
Ah!
"Aku permisi, mau tanyakan pesananku," pamitku pada Arga dan juga Gara. Mereka berdua hanya menatapku saat aku mulai berdiri.
Entah apakah pesananku sudah selesai atau belum, tapi rasanya aku tidak nyaman dengan keberadaanku bersama dengan mereka.
Sempat menunggu sebentar, karena rumah makan ini sangat ramai pesanan. Akhirnya hanya menunggu sekitar lima menit aku mendapatkan pesananku.
"Arga. Aku pulang duluan, ya. Gara. Tante pulang dulu," ucapku pada ayah dan anak itu dengan nada yang berbeda tentunya.
"Kenapa sih, Tante dak mau makan sama Garrlla? Kan Garrlla masih kangen sama tante?" tanya Anak itu dengan cemberut. Makanan yang tersodor padanya dia tepis hingga bulir nasi terjatuh ke pangkuan sang pengasuh.
"Gara jangan seperti itu. tante Ayu sudah mau pulang. Sudah ada yang menunggu Tante Ayu di rumah," ucap Arga memberikan keterangan pada anak kecil itu.
"Siapa?"
"Ibu Tante Ayu," jawab Arga.
"Kalau begitu jemput Ibu Tante Ayu, suruh makan disini sama kita," ucap anak itu dengan lantang.
Aku dan Arga saling menatap satu sama lain, kemudian menatap anak tampan yang kini sedang cemberut itu.
__ADS_1
"Gara, tidak boleh seperti itu. Kasihan Ibu Tante Ayu, kan sayurnya ada disini. Tuh, lihat. Nanti kalau Ibu Tante Ayu lapar gimana? Kan sudah tua, sama kayak Eyang." Tidak menyerah Arga memberi penerangan pada putranya itu.
"Oh, kalau begitu, ayo kita antarrll Tante Ayu pulang ke rumah, biarrll Garrlla bisa makan sama Ibu Tante Ayu juga," ucap anak itu. Arga mengusap wajahnya dengan terlihat frustrasi. Ternyata keras kepala Gara sangat persis dengan Ayahnya dulu.
"Kan kalau Garrlla mau jaid anaknya Tante Ayu, Garrlla harus tau sama mamanya Tante Ayu!" Ucapan anak itu membuat aku dan Arga terkejut.
Duh, anak ini. Kenapa juga harus bicara seperti ini. Nanti kalau Arga berpikir yang tidak-tidak bagaimana?
Arga menatapku dengan pandangan yang entahlah, membuat aku malu ditatap sedemikian rupa oleh pria itu. Ucapan Gara barusan sungguh tidak aku sangka. Anak sekecil Gara, bisa berkata seperti itu. Bagaimana jika Arga berpikir aku yang mengajari anaknya bicara seperti itu? Atau ... ya semacamnya lah.
Akhirnya dengan susah payah Arga berhasil membujuk Gara dengan pergi ke tempat bermain nanti selepas makan. Arga memnita maaf atas ucapan putranya barusan. Aku pun memakluminya. Gara hanyalah anak yang kesepian karena tidak mendapatkan kasih sayang Ibunya semenjak kecil.
Aku pamit pada Arga dan juga Gara. Bersyukur anak itu tidak merengek saat aku pulang, hanya saja dia memaksaku untuk berjanji besok-besok bertemu lagi.
Ah, apa dia pikir hari ini seperti yang sudah direncanakan?
...***...
Lelah dan lapar saat aku sampai kembali ke rumah. Biasanya jika ada di rumah aku banyak mengemil, tapi setengah hari ini belum ada makanan lagi yang masuk ke dalam perut ku.
Makanan yang tadi aku beli sudah aku pindahkan ke piring dan juga mangkok. Ibu masih melaksanakan solat saat barusan aku mengintip ke dalam kamarnya.
Ucapan Gara tadi juga membuat aku merasa malu sekali, ada rasa bahagia saat aku diinginkan oleh seseorang, tapi aku sadar, itu hanya ucapan seorang anak kecil, bukan seorang pria dewasa.
Ah. Apa yang aku pikirkan?
"Sudah pulang, Yu?" Suara Ibu terdengar di belakang membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Ibu sedang membenarka letak kerudung instannya yang sedikit miring. Gegas aku mendekat dan membantunya merapikan kerudung tersebut.
"Sudah. Baru saja pulang, Bu. Mau makan? Ayu beli di rumah makan Padang," ucapku pada Ibu. Ibu menatap meja makan, beberapa piring telah tersaji dengan lauk di atasnya.
"Iya, ayo makan."
Kami menikmati makanan dengan khidmat, Ibu juga terlihat sangat menikmati makanan yang aku beli. Memang jarang aku beli di luar karena Ibu selalu masak di rumah.
"Gimana pekerjaannya? Diterima tidak?" tanya Ibu, nasi di piringnya tinggal sedikit. Senang rasanya Ibu makan dengan cukup banyak.
__ADS_1
"Gak tau, Bu. Belum ada keputusan dari sana. Nanti di kabari kalau lolos seleksi," ucapku. Ibu hanya manggut-manggut.
"Semoga ada kabar baik," ucap Ibu.
"Aamiin."
"Em ... warung boleh Ibu yang lanjutkan?" tanya Ibu.
"Sebaiknya Ibu istirahat, jangan terlalu capek."
"Ibu terlalu sering istirahat, rasanya capek juga Yu, gak ada kegiatan. Ya boleh Ibu yang lanjutkan?" tanya Ibu penuh harap.
"Lagian kan gak berat juga, cuma sekedar nunggu saja." Aku tidak kuasa menolak keinginan Ibu yang terlihat bersungguh-sungguh, menatapku dengan tatapan permohonan.
"Baiklah. Iya. Lagipula Ayu juga masih di rumah beberapa hari ke depan, Bu. Selama belum ada kabar dari RC, Ayu masih di rumah. Asal Ibu tidak memaksakan diri juga, gak apa-apa."
Ibu tersenyum saat aku mengizinkannya.
...***...
Tiga hari berselang, aku terus berharap jika ada keajaiban datang. Tidak ingin jauh dari Hpku karena berharap jika RC akan memberikan kesempatan untuk aku bekerja disana.
Hingga waktu hampir sore hari, tidak ada yang terjadi. Hpku masih sunyi, tidak ada satu orangpun yang menghubungiku. Kecewa rasanya karena aku sudah menumpukan harapan pada RC.
Akan tetapi, ini memang masih belum rezeki.
Aku bergegas mandi saja. Daripada menunggu hal yang belum pasti.
Setelah mandi, kuintip lagi Hpku yang sepi, tapi tidak disangka ada satu nomor asing dan satu pesan dari Arga.
Jariku tidak mau diam, antara membuka pesan yang mana dulu. Arga kah? Atau RC?.
Ya ampun, begini saja aku malah bingung.
kuputuskan untuk membuka pesan dari RC. Aku tersenyum senang saat membaca pesan tersebut. Dikatakan bahwa aku diterima bekerja disana.
__ADS_1
senang hatiku saat ini mendapat berita yang seperti itu.
Alhamdulillah akhirnya aku bisa bekerja juga.