
Liburan sekolah Gara, kami memutuskan untuk pergi ke tempat yang Arga maksud. Honeymoon katanya, meski aku tidak yakin dengan honeymoon karena kami membawa kedua anak kami. Rasanya tidak tega jika aku tidak mengajak keduanya, yang pasti aku akan kepikiran mereka terus jika aku meninggalkannya.
Beberapa pakaian telah kami siapkan dalam tiga koper, paling banyak adalah pakaian anak-anak, apalagi Azka yang membutuhkan banyak baju dan celana. Kulitnya sensitif sehingga aku meminimalkan penggunaan pampers. Beberapa kali terdapat ruam di kulit paha dan juga pantatnya setelah dipakaikan pampers sehingga menjadi lecet dan membuat anak itu tidak nyaman, apalagi sekarang ini dia banyak bergerak meski belum mulai merangkak.
"Sudah selesai belum?" tanya Arga yang kini masuk ke dalam kamar Gara. Aku masih membereskan pakaian Gara beberapa, kebanyakan yang sedikit tebal karena Arga bilang di sana udara sedikit lebih dingin daripada di sini.
"Masih ada beberapa, cukup gak ya segini?" tanyaku pada Arga. Dia melihat koper ukuran sedang yang ada di atas kasur.
"Cukup lah, jangan banyak amat kenapa? Kan kalau kurang kita bisa beli pakaian di sana." Ucapannya itu sedikit membuat aku kesal.
"Huh, kamu ini selalu saja gampangin urusan. Kalau masih bisa bawa kenapa juga harus beli? Lihat baju Gara saja banyak yang gak kepake, mubazir," ucapku sedikit kesal. Baju yang sudah mulai kekecilan juga lumayan banyak, ada juga yang masih baru, masih berlabel, juga beberapa pakaian yang aku yakin baru dipakai beberapa kali. Terlihat kecil di tanganku dan aku yakin jika tidak muat dengan anak yang kini semakin lama semakin tinggi dan besar. Perutnya saja agak buncit, sama seperti ayahnya.
"Ya, kan biar gak susah siapkan banyak baju, Ma."
"Enggak, kamu itu jangan selalu begitu. Lihat tuh diluaran sana, anak jalanan gak pake baju, atau bajunya sudah compang camping. Daripada di sini gak kepake dan jadi penghuni lemari, mendingan yang kecil dan gak kepake diberikan saja pada yang lain, mereka lebih membutuhkan. Lagian kan baju Gara banyak tuh," ucapku sambil melipat beberapa kaos milik Gara.
"Iya, nanti kalau sudah kembali dari liburan kita urusin pakaian Gara." Arga duduk di sampingku menatap pakaian yang sedang aku lipat dengan cara digulung, biar muat banyak di koper.
"Memangnya kita liburan kemana sih?" tanyaku penasaran.
"Kemana aja lah, nanti kamu juga akan tau," ucapnya sambil tersenyum dan mencium pipiku singkat.
"Ih, main rahasiaan segala."
"Kan biar surprise," ucapnya sambil tersenyum. "Gak jauh di sana ada air terjun juga, katanya sih jarak satu jam lah," tambahnya.
__ADS_1
"Ha? Beneran?" tanyaku tidak percaya. Dia menganggukkan kepalanya.
Mendengar air terjun, aku jadi berpikiran ke tempat lain. Sudah sangat lama sekali aku tidak main ke tempat air terjun, terakhir dengan bapak dulu saat aku masih SD.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Arga. Aku menoleh dengan bingung, pasalnya aku tidak sadar jika aku tersenyum seperti itu.
"Aku senyum gitu?" Arga mengangguk.
"Senang?" tanyanya lagi.
"Seneng lah, aku dah lama gak ke air terjun. Dulu sama bapak waktu masih SD," ucapku. Mata ini rasanya menghangat kala mengingat waktu dulu, kebersamaan aku dan bapak serta ibu saat di kampung bapak. Ingin menangis mengingat waktu itu.
Ah, sekarang jika pun ke sana sudah tidak punya lagi tempat untuk berpulang. Hanya berkunjung ke tempat mamang dan juga kakek.
"Waah, lama juga ya. Nanti kita ke sana sama-sama," ucapnya.
"Aku sudah telepon dokter, gak apa-apa kok. Lagian perjalanan juga gak terlalu jauh, gak sampai seharian. Bawa saja pakaian hangat yang cukup buat anak-anak."
"Di sana kita tinggal di hotel?" tanyaku.
"Iya," jawabnya. Tiba-tiba Arga merebahkan kepalanya di pangkuanku membuat aku yang masih membereskan pakaian Arga terdiam, tidak bisa bergerak untuk melanjutkannya.
"Kamu ini, aku gak bisa beberes, Pa," protesku. Arga menatapku dari bawah sana.
"Nanti lagi, dong. Ingin manja sama kamu. Boleh, kan?" ucapnya terdengar manja.
__ADS_1
"Astaghfirullah, bosan. Tiap hari manja terus." Aku tertawa kecil saat melihat wajahnya yang cemberut.
...***...
Hari keberangkatan pun tiba, aku membawa Sari sekalian untuk pergi. Jujur aku butuh dia untuk membantu mengurus anak-anak. Mbak Sus dan Nira ditinggal di rumah, mengurusi mama.
Perjalanan terasa sedikit lama, karena Arga meminta pak sopir untuk berjalan dengan kecepatan sedang saja. Ini dikarenakan aku juga tidak tahan dengan diriku, padahal baru satu jam, tapi aku sudah minta berhenti dua kali untuk berjongkok di semak-semak. Perutku rasanya mual sekali. Aku tidak bisa makan obat anti mabuk karena takut ada efek pada janin.
"Sudah enakan?" tanya Arga saat aku kembali ke dalam mobil, dia memasang sabuk pengamannya dan memberikan tisu kepadaku. Azka yang ada di pangkuan Sari duduk sambil menggerakkan tubuhnya, sedikit melompat tidak mau diam sambil mengoceh tak karuan. Semenjak dia bisa bersuara tidak henti mengoceh seperti itu.
"Aku mau permen, ada yang punya permen rasa asem gak?" tanyaku. Sari dan pak sopir berkata tidak punya. Arga memberikan permen yang ada di saku bajunya, tapi itu permen mint dengan isian coklat.
"Aku gak mau ini, mau yang rasa asem, Pa."
"Kita mampir ke minimarket deh, mungkin aja ada di sana."
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang, tak lama kami sampai pada minimarket. Aku dan Arga masuk ke dalam sana, meninggalkan Gara yang tidur dan Sari yang memangku Azka. Beberapa makanan kami pilih dengan cepat, kebanyakan roti dan juga makanan ringan, untuk semua yang ada di mobil. Minuman kopi juga tidak lupa untuk pak sopir.
"Yakin cuma ini aja?" tanyanya padaku. Aku mengangguk dan kami kembali ke mobil yang terparkir di depan minimarket.
Arga memberikan kopi instan kepada sopir sedangkan aku menyuruh Sari untuk mengambil makanan yang dia mau. Perjalanan kami lanjutkan kembali menuju tempat yang aku tidak tahu. Arga sangat jahat karena tidak memberitahuku kemana kami akan pergi. Membuatku penasaran saja!
"Apa kita masih jauh?" tanyaku pada kedua laki-laki yang ada di depanku.
"Lumayan. Coba deh Ma tidur. Kali aja nanti waktu bangun dah sampai ke sana," ucap Arga mencoba untuk menenangkanku.
__ADS_1
Aku melirik ke arah Azka, dengan anak yang mulai aktif seperti itu memang dia kira aku bisa tidur dengan nyenyak?
"Gak apa-apa kalau Ibu mau tidur, biar saya saja yang jagain Azka. Iya, kan Babang Azka. Sama Mbak Sari aja," ucap Sari seraya menggoda Azka.