Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
60. Cerita Tentang Arga


__ADS_3

Ibu sudah tidur dari satu jam yang lalu sedangkan aku masih berkutat dengan hpku. Laptop aku biarkan untuk beristirahat setelah sekian jam aku pakai. Sepertinya aku harus membawa laptop ke tempat servis. Batrenya kini sudah tidak bisa bertahan lama, kalaupun dipakai agak lama, harus sambil terhubung dengan menyambungkannya ke listrik. Hah, kadang aku berpikir jika aku sedang menggunakan mejikom, harus selalu terhubung dengan listrik agar bisa dipakai.


Iseng aku membuka sesuatu di hpku. Facebook yang sudah sangat lama aku tinggalkan. Masih ingat dengan jelas apa nama dan juga kata sandinya, karena itu aku buat dengan sesuatu yang berkesan. Semoga saja tidak ada hacker yang memakai akunku.


Satu persatu aku melihat apa yang ada di sana. Ada sejumlah angka di tanda loncengku. Aku melihatnya, dari mulai pemberitahuan permintaan pertemanan dan juga notif lainnya. Tidak ada yang berkesan buatku, hanya ada beberapa berita tentang teman-teman di masa SMA. Aku tidak punya banyak teman, oleh karenanya banyak pemberitahuan yang masuk hanya aku lihat sekilas saja tanpa mau membukanya.


Kini aku melihat album foto yang ada disana. Foto-foto lawas zaman aku dan Diana menjadi alay. Meskipun aku tidak terlalu menonjol di depan teman-teman yang lain, tapi dengan Diana aku cukup eksis di laman FB.


Satu galeri aku lihat, disana ada kumpulan fotoku bersama dengan Arga. Waktu kami baru saja jadian hingga berpisahnya kami karena sesuatu. Kejadian itu membuat aku harus berpisah dengannya karena permintaan Ibu.


Boleh aku sedikit bercerita dengan Arga? Pertemuan dengannya tadi membuat aku mengingat masa dulu.


 


Arga adalah anak broken home. Orangtuanya berpisah saat dia baru menginjak bangku SMP. Dia pernah bercerita betapa kesepiannya hidup yang selama ini dijalani. Orangtua yang berpisah, ayah yang sibuk dengan pekerjaannya, dan Ibu yang tidak peduli lagi dengan dia. Arga remaja dipaksa menjadi sosok yang harus kuat tanpa kasih sayang yang lengkap. Hanya sang nenek yang bisa memberikan cinta kasihnya, dan itu pun tidak lama. Nenek Arga meninggal setahun setelah perpisahan ayah dan ibunya.


Arga yang beranjak remaja, tanpa kasih sayang orangtua, mencari kesenangan dan kebahagiaan sendiri. Maka dari itulah dia menjadi pribadi yang nakal. Termasuk saat dia mulai mendekatiku saat aku baru saja masuk ke bangku SMA.


Arga yang merupakan kakak kelas satu tingkat itu, entah kenapa, selalu saja menjahiliku. Padahal aku merasa tidak pernah berbuat salah kepadanya. Dia dan kelompoknya seringkali menjegal aku di jalan bersama dengan Diana dan mereka meminta uang kepada kami. Jika tidak diberi uang, maka kami tidak bisa lewat untuk bebas dari mereka. Aku dan Diana terlalu takut dan juga bodoh untuk melawan, hanya bisa pasrah menyerahkan uang jajan kami pada mereka.


Bukan hanya itu saja. Dia seringkali datang ke kelas dan mengambil bekal makananku, dengan terang-terangan memakannya di depanku. Nasi atau roti yang sudah susah payah disiapkan oleh Ibu dengan sekejap masuk ke dalam mulutnya. Kesal, pasti. Marah, iya. Akan tetapi, aku terlalu takut untuk melawan atau sekedar melaporkannya pada guru. Jika sudah begitu, aku hanya bisa menahan rasa perih yang mendera di perut ini.

__ADS_1


Pernah pada suatu ketika, penyakit lambungku kumat. Bekal makanan sudah habis Arga makan, uang jajan juga sudah diambil oleh kelompoknya. Saat itu aku sendirian berjalan pulang sambil menahan rasa perih di perut. Sesekali aku diam, tidak melanjutkan langkahku lagi karena tidak kuat dengan rasa sakit. Meskipun sudah menekannya kuat dengan menggunakan tangan, tapi rasa sakit itu tidak kunjung juga hilang.


"Kenapa?" tanya seseorang saat aku terduduk di trotoar. Aku malas menolehkan kepala, tahu pasti siapa pemilik suara itu. Juga kenal dengan sepatu yang kini aku lihat tepat di depanku.


"Heh, kamu! Kenapa?" tanyanya lagi, satu kakinya dia gerakkan menendang halus kakiku. Emm ... menendang mungkin terlalu kasar, dia seperti menyentuhku dengan menggunakan kakinya. Tidak sakit, tapi sumpah membuat aku kesal.


"Bisu ya gak mau jawab?" tanya Arga dengan kesal.


"Apaan, sih?! Pulang saja sana! Jangan ganggu!" usirku terhadapnya. Aku juga sama kesalnya.


"Yeee, ditanya malah ngusir," ucapnya lagi dengan kesal.


"Lagian ngapain kamu disini? Tumben gak nge-bully sama yang lain!" Entah kenapa aku bisa bicara seperti itu. Apakah karena rasa sakit ini yang memicu rasa kesalku?


"Mau apa nge-bully? Orang yang di-bully juga ada disini," ujarnya dengan santai.


Aku memutar bola mata malas mendengar dia berkata seperti tu. Dikira aku suka gitu dia bully?


"Kamu ngapain disini gak sama someone kamu?" tanya Arga lagi, kini dia ikut duduk tepat di sampingku, aku sedikit beringsut menjauh dari dia. Rasanya risih sekali dengan pria jahat ini!


"Eh, ngapain juga kamu duduk disini? Jauh-jauh sana!" ucapku sewot.

__ADS_1


"Capek, duduk dulu sebentar! Habis basket tadi," ujarnya dengan santai.


"Kemana someone kamu?" tanyanya lagi.


"Someone siapa?" tanyaku bingung. Aku tahu someone itu seseorang, tapi aku tidak tahu siapa yang dia maksud.


"Itu si chubby!"


"Oh, Diana? Gak masuk hari ini. Udah deh, kamu ngapain disini. Pergi sana. Nanti kalau anggota geng kamu datang, bikin onar lagi!" seruku padanya. Hari ini aku tidak mau bertambah sial dengan kehadiran mereka lagi, cukup tadi uang jajan ku yang raib, makananku yang habis, dan kini perutku yang sakit. Jangan ditambah lagi dengan ejekan berujung sakit hati atau apapun itu!


"Ah, mereka udah pada pulang. Lagian kamu ngapain disini duduk sendiri gak langsung pulang? Nanti Ibu kamu marah, loh," ujarnya seraya mendekatkan kepalanya ke arahku. Wangi rambutnya sampai tercium di bawah hidung. Refleks aku beringsut menyingkir dari dia, dan membuat perut ini semakin sakit. Salahku tidak membawa obat yang biasa aku makan. Aku lupa memasukkannya.


"Aww ...." Dengan susah payah aku menahan rint*hanku seraya memegangi perutku dengan kencang. Kugigit bibir ini agar tidak mengeluarkan rint*han lagi.


"Kamu kenapa? Sakit?" Dia bertanya padaku seraya menatapku dengan tatapan yang ....


Ah ... kalau saja dia baik aku pasti akan meleleh ditanya dan ditatap seperti itu oleh salah satu pria idola di sekolah.


"Enggak, aku baik-baik saja. Sudah, kamu pulang saja sana! Ngapain juga lama-lama disini? Nanti kulit kamu gosong lagi!" ujarku menakutinya. Siapa tahu dengan ucapanku itu dia akan pulang dan menjauh dariku. Kutatap kulit tangannya yang bening, lebih bersinar dari pada aku. Iri rasanya dengan kulitnya yang tampak terawat seperti itu. Insecure aku sebagai seorang anak perempuan, tapi wajar sih, dia anak orang kaya.


"Ah, ya sudah. Kamu suruh aku pulang, aku akan pulang," ujarnya sambil berdiri, tak lupa dia mencangklong tasnya pada bahu.

__ADS_1


"Bye. See you tomorrow. Siapkan mental untuk aku bully lagi besok!" Kulihat dia melambaikan tangannya sambil berjalan meninggalkanku.


__ADS_2