
Vita tidak mau pulang, dia menangis saat aku membawanya ke arah motor. Dewi sampai sedikit kewalahan membujuk anak gadisku ini. Mungkin saja jika di rumah dia tidak ada temannya, tapi di sini ada Gara dan Azka, juga ada beberapa anak kecil lainnya yang bisa diajak bermain.
"Mas, Vita malah tambah kenceng nangisnya," keluh Dewi, saking kerasnya sampai menjadi perhatian keluarga yang masih tinggal di rumah ini.
"Sudah gak apa-apa, nanti juga reda nangisnya. Kita mampir ke taman, yuk. Beli balon buat Vita." Dewi mengangguk setuju dengan ajakanku.
Ayu dan ibu khawatir dengan Vita, meminta kami pulang nanti saja dan membiarkan Vita kembali bermain dengan anak-anak mereka. Sungguh keluarga yang sangat baik sekali sehingga seringkali aku merasa rugi melepaskan mereka. Sekarang aku sudah punya keluargaku sendiri. Tidak boleh lagi merasa menyesal dengan masa laluku. Aku harus menatap masa depanku dengan baik.
"Gak apa-apa, Yu. Kami pulang saja. Ini juga sudah mau sore, sekalian aja kami mau jalan ke taman deket rumah, cari makanan buat ibu. Kami pamit, ya," ucapku pada mereka. Mereka melepaskan kami dengan raut wajah maish khawatir.
Perjalanan sore ini sungguh indah, baru pertama kalinya aku dan Dewi melakukan perjalanan bersama. Jika malam itu aku hanya mengantar dia, tapi tidak berjalan-jalan bersama. Rasanya sangat bahagia sekali bisa menghabiskan waktu sore ini bersama dengan istri dan anakku. Apalagi yang paling membahagiakan selain melihat senyuman mereka. Dewi bersama dengan Vita tertawa bersama sambil memainkan gelembung balon. Vita tertawa senang bertepuk tangan saat Dewi meniup gelembung balon tersebut dan mengeluarkan bulatan-bulatan transparan yang banyak di udara. Dengan senang hati anak itu menyentuh bulatan benda tersebut hingga pecah, lalu terdengar suara tawa yang renyah darinya.
Dewi sangat baik sekali, dia tidak banyak menuntut berapapun uang yang aku berikan kepadanya dia terima dengan baik. Untuk bulan ini aku belum memberikan uang seluruhnya, hanya bisa mengambil sedikit dari sisa pembelian motor kemarin. Aku jujur kepadanya jika Yang aku pakai untuk memberinya risiko adalah uang pengobatan Vita.
Dewi tanpa lelah mengajari Vita berjalan, mereka melepas alas kaki dan membuat Vita menjadi geli terkena rumput hijau di taman ini. Dengan telaten istriku itu memegangi Vita dan membawanya berjalan dengan pelan. Sangat sabar sekali, dan membuat aku merasa beruntung mendapatkan dia.
"Ayah ayo sini main bersama!" teriak Dewi ke arahku yang duduk di tepian taman. Dewi melambungkan bola sehingga mendarat di pangkuan Vita dan anak itu tertawa dengan sangat keras. Begitu seterusnya berkali-kali, rasanya melihat mereka itu damai sekali. Semoga saja kebahagiaan ini akan terus berlanjut hingga di kemudian hari.
Hampir maghrib kami pulang ke rumah, membawa makanan untuk ibu. Ingat waktu itu Ibu ingin makan seafood, dan aku baru bisa membelikannya sekarang. Semoga saja Ibu masih mau memakannya.
"Kamu juga mau sekalian?" tanyaku kepada Dewi. Dia menggelengkan kepalanya.
"Aku alergi makanan laut," ucap Dewi. Baru aku sadar sedari tadi dia menggaruk-garuk tangan dan juga kakinya. Sesekali menggerakkan ujung telunjuknya itu di pipi sehingga merah.
"Kamu alergi makan atau gimana kok ini merah semua?" tanyaku jadi khawatir.
Dia tersenyum kecil, tidak menghentikan gerakan tangannya pada kulit.
"Makan atau aromanya bikin aku gatal," ucapnya lagi. Aku merasa bersalah karena tidak tahu hal itu.
__ADS_1
"Maaf aku tidak tahu. Kenapa kamu nggak bilang sebelumnya kalau kamu alergi makanan laut?" tanyaku kepadanya. Vita yang dia pangku aku ambil alih. Aku bawa dia keluar dari tenda makanan tersebut. Satu kursi plastik yang ada di dalam sana aku bawa dan menyimpannya untuk dia duduk.
"Kamu tunggu di sini sebentar. Aku nungguin makanan di dalam."
Dia mengangguk pasrah, kasihan sekali melihatnya, kulitnya terdapat ruam berwarna merah.
Makanan yang aku pesan telah selesai dibuatkan. Kami berjalan menuju ke arah motor.
"Cari apotek dulu," pintanya dan aku mengangguk setuju. Kasihan sekali Dewi dari tadi menahan rasa perih pada tangannya. Jika saja tadi dia bicara pastinya aku tidak akan membawa dia masuk ke dalam warung tenda tersebut.
Jaket yang aku pakai aku berikan kepada Dewi, yang aku tahu jika terkena angin alergi itu akan semakin gatal, tapi tidak tahu apakah itu benar atau tidak karena aku hanya mendengarnya dari orang lain.
Kami menemukan satu apotek yang tidak jauh dari tempat kami berkendara. "Biasanya obat apa?" tanyaku pada Dewi.
"Aku aja yang masuk ke sana, namanya rada susah buat disebutkan," ucapnya lagi lalu memberikan Vita kepadaku. Dia menadahkan tangannya.
"Kurang gak buat beli obatnya?" tanyaku lagi.
"Enggak. Ini lebih dari cukup kok, makasih Ayang!" ucapnya sambil membentuk hati dengan ibu jari dan telunjuknya. Aku juga melakukan hal yang sama, pria yang kini sudah hampir berusia empat puluh tahun serasa kembali dua puluh tahun lebih muda. Tidak aku sangka jika Dewi yang usianya dua tahun di atasku ternyata bisa juga melakukan hal konyol, bagaimana nantinya kalau kita sedang na-ni-nu berdua? Hihi.
Haiss! Apalah ini pikiranku kotor sekali!
Tidak lama Dewi berada di dalam sana, dia keluar dengan membawa satu bungkusan kresek di tangannya. Ada beberapa obat yang aku lihat.
"Sudah dari sini mau ke mana?" tanyaku.
"Pulang saja lah aku sudah nggak tahan. Ini perih," ucapnya.
Ku lajukan motor ini dengan perlahan, kasihan kepada Dewi jika aku bawa mengebut. Sedari tadi dia terus saja menggaruk-garuk kulitnya. Apalagi Vita juga berada di belakang terlihat sedang mengantuk.
__ADS_1
Dewi aku turunkan terlebih dahulu di depan rumah. Lanjut ke rumah ibu dengan berjalan kaki. Tidak lama di sana karena aku harus mengurusi Dewi atau Vita.
"Ini ada titipan dari Ayu buat ibu. Dan ini makanan seafood yang Ibu mau waktu itu," ucapku menyimpan kedua benda tersebut di atas meja tamu.
"Ibu kan nggak datang ke sana kenapa dapat bagian juga?"
"Nggak tahu, tadi Hilman juga udah bilang gak usah, tapi Ayu maksa." Ibu terdiam mendengar ucapanku, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu terlihat Ibu mengusap sudut matanya.
"Kenapa Ayu baik banget sama kita? Padahal ibu dulu sudah berbuat jahat sama dia," ucap ibu dengan pelan. Tangan Ibu aku elus perlahan, tersenyum senang karena kini ibu menyadari kesalahannya.
"Ayu memang sedari dulu baik Bu, hanya Hilman yang tidak baik buat dia," ucapku.
"Hilman pulang dulu ya, Dewi kena alergi tangannya merah-merah."
Seketika Ibu panggil berdiri setelah aku berdiri. "Kenapa dengan Dewi? Alergi apa?" tanya ibu terlihat khawatir.
"Dewi alergi sama makanan laut, Hilman nggak tahu kalau dia nggak bisa kena udara yang berbau laut gitu," terangku.
"Ibu mau ikut juga ke sana!" Ibu kini berjalan ke arah kamar, mengambil kerudungnya dan memasangnya dengan asal. Makanan yang aku bawa diabaikan di atas meja. Berjalan mendahuluiku keluar dari rumah.
Sampai di rumah Dewi sedang mengoleskan salep pada kulitnya, tangan itu terlihat beberapa bagian yang lecet, pastilah terasa perih. Vita di sampingnya memainkan wadah obat yang lain, memperhatikannya seakan dia bisa membaca tulisan kecil tersebut.
"Kalau tahu alergi kenapa kamu nggak bilang? Kan jadinya seperti ini!" Tanpa salam atau permisi ibu masuk saja ke dalam rumah, mendekati Dewi dan merebut salep yang ada di tangannya. Dengan tangannya yang gempal Ibu mengoleskan salep tersebut pada kulit Dewi dengan lembut.
"Gak usah Bu, Dewi bisa sendiri." Tolak Dewi halus.
"Sudah terlanjur tangan ibu kotor kena salep! Sudah kamu diam jangan bantah!" ucap ibu dengan tanda marah.
Baru aku sadari, ibu memang sinis terhadap Dewi, tapi itu hanya ucapannya saja. Nyatanya dari perbuatan yang dia lakukan, dia perhatian kepada menantunya itu.
__ADS_1