
"Eh, memangnya kenapa, Sayang?" tanyaku kepada Gara. Anak itu tidak menjawab memilih masuk ke dalam kelas. Kepalanya tertunduk berjalan dengan sedikit lesu, padahal tadi dia tidak seperti itu.
Kelas masih kosong, masih ada waktu lima belas menit lagi untuk mereka melakukan pembelajaran. Aku memberanikan diri masuk ke dalam kelas tersebut dan menemui Gara di kursinya.
Anak itu terlihat menatapku dengan sedih. Kedua sudut bibirnya turun ke bawah. Mata Gara juga berkaca-kaca.
Aku berjongkok, menyetarakan tinggiku dengan anak, menatap matanya yang enggan melihatku. "Sayang, kamu kenapa? Tadi saja kamu nggak apa-apa kok, sekarang jadi sedih?" tanyaku kepada anak itu. Gara menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Mama akan lama menunggu Garra pulang sekolah. Pasti Mama capek," ucap anak itu lagi.
Aku berpikir sepertinya bukan karena ini dia bersedih. Bukan karena takut aku capek, karena sebelumnya dia ingin aku menunggunya sampai pulang sekolah. Apakah karena ucapan para wali tadi?
"Mama nggak capek kok. Kamu jangan sedih ya. Mama akan tunggu Gara sampai pulang sekolah," ucapku sambil memegang tangannya dan mengelusnya dengan lembut.
Gara kemudian terisak dengan pelan. Anak itu memeluk leherku dengan erat. Dia menangis tanpa suara meski kini bahunya naik turun karena tangisannya.
"Sudah jangan menangis. Mama tahu kok, Gara nangis karena apa. Kalau karena ucapan mereka, Mama nggak masalah. Mama nggak pa-pa. Serius deh!" Aku mengusap punggung Gara dengan lembut. Mencoba untuk menenangkan anak ini.
"Tapi mereka bilang yang burruk sama Mama. Garra gak bisa bantu Mama," ucap anak itu kini menarik dirinya, dia masih berusaha menahan isakannya. Satu tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipi dengan menggunakan punggung tangan.
"Nggak papa nggak bisa bantu, Gara kan masih kecil. Nanti kalau Gara sudah besar, Gara pasti tahu kok caranya bantu Mama," ucapku sambil tersenyum. Aku bantu anak itu mengeringkan air matanya dengan ibu jariku.
"Kalau Gara menangis seperti ini, gimana Gara akan kuat? Gimana nanti Gara akan bantu dan bela Mama?" tanyaku pada anak itu. Gara menatapku dengan matanya yang bulat, dia kerjakan beberapa kali sebelum menguceknya dengan tangan kanan.
Aku tersenyum dan mengusap pipinya. "Jadilah anak yang kuat, jangan cengeng seperti itu. Gara sedari dulu sudah kuat, bahkan anak-anak yang lain tidak sekuat Gara," ucapku pada anak itu.
"Gara kuat?" tanyanya dengan bingung menatapku. Aku menganggukan kepala.
"Gara dari dulu anak yang kuat. Anak yang lain punya ibu untuk menjaga mereka, tapi ibu Gara tidak ada di sini untuk menjaga Gara. Gara sudah sedari dulu belajar untuk tidak bersama dengan ibu. Bukankah Gara anak yang kuat dan berani?" tanyaku padanya. Dia terdiam terlihat sedikit berpikir, lalu menyunggingkan senyum yang lebar.
Aku pun ikut tersenyum. Meski rasanya di dalam hati ini terasa sakit melihat dia menangis, tapi yang aku bisa lakukan sekarang ini adalah menguatkannya, dan memberinya semangat.
"Mama tunggu di luar sampai Gara selesai belajar, ya?" tanyaku padanya. Dia menganggukkan kepalanya dengan senyum senang.
"Terrima kasih, Mama," ucap anak itu sekali lagi memeluk dengan erat. Tidak lupa dengan satu ciuman hangat di pipi.
__ADS_1
"Mama keluar dulu, kamu belajar yang rajin." Aku mengelus kepala Gara dengan lembut. Anak itu menganggukkan kepalanya masih dengan tersenyum. Aku keluar dari ruangan kelas itu diiringi tetap heran anak-anak seusia Gara.
Ketika di luar kelas aku menemui Dini. Wanita itu berjalan dengan tergesa ke arahku bersama dengan Selvi, putrinya.
"Apakah kita terlambat?" tanya Ibu satu anak itu padaku.
"Nggak terlambat, kok. Kelas juga masih belum dimulai," ucapku kepadanya. Dia tersenyum dengan lebar sambil membawa putrinya masuk ke dalam kelas. Tidak lama dia keluar kembali menemuiku.
"Ah, untunglah gak telat," ucapnya, dadanya terlihat kembang kempis seperti habis berlari jarak jauh.
"Memangnya kenapa?" tanyaku padanya.
"Hehe, kita semua terlambat bangun," ucap wanita itu lagi sambil tertawa meringis malu.
"Kok bisa?"
"Semalam kami bertiga menonton pertandingan sepak bola."
Aku tertawa melihat raut mukanya yang aneh, dia sangat kelelahan sekali.
Wanita itu tersenyum lebar menatap ke arahku dengan malu. "Nonton bola, habis itu main bola," ujarnya.
"Kafe, yuk!" Ngajaknya padaku setelah deru nafasnya mereda. Aku menjalankan kepala.
"Kenapa? Daripada di sini bosan nunggu anak-anak pulang," ucapnya.
"Nggak deh, kasihan Gara."
"Loh memangnya dia kenapa?" tanya Dini dengan bingung. Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Nggak apa-apa sih, cuma aku ingin menunggu Gara di sini sampai pulang sekolah aja," ucapku padanya.
"Ih, gak seru!" cibirnya terlihat kesal. "Kantin aja yuk." Dia wanita yang gigih.
"Kalau kantin aku oke," ucapku tersenyum. Kami berdua berjalan menuju ke arah kantin.
__ADS_1
Aku menunggu bersama Dini hingga bel sekolah berbunyi. Semua murid yang ada di kelas keluar untuk beristirahat, kami sudah ada di depan kelas saat itu mendampingi anak-anak untuk makan bekal yang mereka bawa dari rumah.
Aku dan Dini bersama dengan kedua anak, memilih duduk di atas bangku di bawah pohon yang rindang. Tidak panas karena terhalang dedaunan di atas sana. Suasana juga sedikit sejuk daripada tempat yang lainnya. Memang jika sedang panas terik seperti ini lebih enak jika mencari sebuah pohon besar untuk berteduh di bawahnya.
Gara dan Selvi memakan bekal makanan mereka. Sekarang aku membiasakan Gara untuk makan dengan sayur, meski aku harus memodifikasinya sedemikian rupa agar menarik perhatian anak itu dan dia ingin memakannya. Keduanya makan dengan sangat lahap sekali, sambil bersenda gurau.
"Katanya tadi Gara nangis ya sebelum pelajaran?" tanya Dini padaku.
Aku yang tidak ingin membahas soal itu dengan Dini, hanya tersenyum tidak menjawab.
"kenapa?" tanyanya lagi. Dia menatapku dengan penasaran.
"Nggak ada. Gara juga sekarang sudah baik-baik saja kok," ucapku padanya.
"Kenapa?" tanyanya sekali lagi dengan ada yang sedikit gemas kini terdengar di telingaku.
Aku melirik kepada putraku yang duduk tidak jauh dariku. Sebenarnya Gara menangis karena aku juga, jika bukan aku yang mendapat sindiran dari mereka tentu saja Gara tidak akan menangis seperti itu.
"Oke, aku akan tunggu ceritamu saat mereka masuk ke dalam kelas nanti." Dini sepertinya mengerti akan pandangku pada Gara.
"Oke." Kami saling tersenyum satu sama lain. Sepertinya Dini memang teman yang sangat menyenangkan dan bisa perhatian. Dia membuatku merasakan tenang.
Jam istirahat sudah selesai, anak-anak kembali ke dalam kelas masing-masing. Mereka berlari dan saling berlomba. Aku membiarkan Gara dan Selvi berjalan beriringan ke dalam kelasnya. Tinggallah kami berdua di taman ini, orang tua anak yang lain Entah pada menghilang ke mana saling bergerombol.
"Harusnya kita pergi ke cafe untuk kamu bercerita," ucap wanita itu.
Aku melihat jam tangan, lama waktu sampai anak-anak pulang sekolah hanya satu jam lagi. Aku tahu jika cerita seperti ini kepada Dini pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Apalagi wanita ini terlalu sering mengajukan pertanyaan.
"Di sini juga sudah cukup, lagian aku janji sama Gara aku nungguin dia sampai pulang sekolah."
"Gara juga nggak akan tahu kalau kamu pergi dulu sebentar," ucapnya sambil bicara sedikit bergumam.
"Ya sudah deh. Ayo cepat cerita. Aku dengar dari anak yang lain Gara menangis kenapa?"
Tidak ingin bercerita, tapi wanita ini sudah tahu jika Gara menangis. Jadilah Aku mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi, aku juga tidak menyalahkan yang lain. Jika memang pemikiran mereka seperti itu ya biarkan saja. Toh, aku juga tidak peduli!
__ADS_1