
Jarak rumah Arga lumayan jauh juga menurutku, apalagi jalan sedikit macet, tidak bisa mengebut sama sekali. Aku khawatir dengan keadaan Gara. Semoga saja Arga bisa menenangkan anak itu.
Setelah satu jam lamanya, akhirnya aku sampai di rumah itu. Rumah yang cukup megah, dengan taman hijau dan beberapa bunga yang ada di depan sana. Seorang penjaga sigap membukakan pintu gerbang untukku.
"Terima kasih, Pak."
Kembali roda dua ku lajukan ke dalam sana. Suara tangis dari dalam rumah semakin jelas terdengar saat aku memarkirkan motor bututku di antara tiga mobil yang ada di sana.
Arga terlihat keluar dari dalam rumah seraya menggendong Gara yang menangis tersedu di pundaknya.
"Arga. Gara gimana?" tanyaku dengan cepat mendekat ke arah mereka berdua. Gara mengangkat kepalanya dan menatap ke arahku, terlihat sendu dan merah wajahnya. Kedua tangannya terulur ke udara.
"Tante Ayu!" serunya, dia menangis lebih kencang. Aku mengambil alih tubuh kecil Gara dari dekapan sang ayah. Hawa panas seketika menerpa tubuhku yang masih terbalut jaket.
Tubuhnya panas dan berkeringat. Gara kini menangis dengan kepala bersandar di bahuku dan kedua tangannya yang kecil melingkari leherku.
"Cup-cup, Sayang. Jangan nangis lagi, ya." Aku menenangkan Gara, menepuk punggungnya dengan pelan. Tak lama tangis anak itu mereda. Sesekali tubuhnya tersentak karena isakan yang kuat.
"Garrlla mau sama Tante Ayu. Garrlla sakit, Tan," adunya padaku.
"Iya. Sekarang Tante disini. Gara jangan menangis lagi, ya." bujukku padanya. Kepala itu mengangguk pelan.
Arga menatapku dengan tatapan lembut. "Terima kasih, kamu sudah mau datang dan menenangkan Gara. Aku gak tau harus gimana lagi untuk bujuk dan tenangkan dia, Yu," ucap Arga pelan.
"Tidak apa-apa. Aku juga kasihan kalau Gara terus nangis."
"Kalau begitu, masuk. Angin agak besar di luar sini," ujarnya. Kami melangkahkan kaki, tapi aku teringat dengan bekal yang Ibu berikan tadi.
"Eh, itu ... di motorku ada bekal nasi."
Kening Arga mengerut mendengar ucapanku.
"Kenapa harus bawa nasi? Biar aku bawakan," ucapnya, lalu pergi ke arah motorku berada.
"Itu, Ibu yang bekalkan. Tadi aku pamit mau ke rumah sakit sama Ibu," jawabku jujur. Ah, kenapa aku sulit untuk bohong sama dia? Sama seperti waktu dulu.
"Kamu bohong sama Ibu?" tanya Arga.
__ADS_1
"Itu ... aku gak enak saja kalau bilang mau ke rumah seorang laki-laki." Aku menunduk, tidak berani menatap dia.
"Maafin aku, ya. Ini pasti sulit buat kamu, kan? Untuk ke depannya, aku akan urus Gara sendiri. Maaf, ya."
Ucapan Arga, sedikit membuat aku merasa aneh di dalam hati, ada rasa sakit seperti tercubit sedikit. Kenapa rasanya tidak suka dia mengatakan kalimat terakhir tadi?
"Ayo, masuk. Semakin dingin di luar sini," ucapnya. Arga mempersilakan aku untuk masuk terlebih dahulu.
Aku membawa Arga ke dalam kamarnya dan membujuk dia untuk makan terlebih dahulu. Menurut Arga, anak ini tidak makan sedari pagi. Pantas saja jika tubuhnya sangat lemas.
"Gara mau makan, kan? Kan, Tante sudah ada di sini. Makan ya?" Aku membujuk anak kecil yang sekarang berbaring dengan nyaman di kasurnya. Kepalanya mengangguk dengan lemah.
Arga memberikan semangkuk bubur yang telah dia hangatkan. "Maaf, ya. Sudah banyak merepotkan," ucap pria itu, terlihat tidak enak hati.
Aku tersenyum padanya. "Tidak apa-apa. Mana obatnya?"
"Gara sudah makan nanti, makan obatnya juga ya? Biar cepat sembuh," ucapku pada Gara dengan membujuk. Dia menggelengkan kepala. Menutup mulut kecilnya dengan kedua telapak tangan.
"Pahit!"
Aku membuka tutup botol obat berbentuk sirup cair dan meneteskannya sedikit di telapak tangan, kemudian menyesapnya dari sana. Rasa jeruk, memang sedikit ada rasa pahit, sih.
"Main bola di taman sama Tante Ayu?" Matanya yang bulat menatapku.
"I-iya," ucapku terbata. Ku lirik Arga yang terdiam menatap sang putra. Duh, aku harus bagaimana? Kenapa rasanya terjebak dengan keinginan anak ini?
"Mau!" teriaknya dengan suara serak. Raut bahagia terpancar di wajahnya yang sedikit tirus daripada saat terakhir bertemu tiga hari yang lalu.
Aku menyuapi Gara. Rasanya cukup canggung menyuapi anak Arga dengan ayahnya yang duduk di tepi tempat tidur yang lain. Aku merasa malu dekat dengan dia. Seperti tidak bebas gerak dan bernapas.
Suara dering telepon terdengar, bukan milikku.
"Aku keluar dulu, Yu. Ada telepon." Arga sudah berdiri kemudian pergi dari kamar itu, membuat aku bisa menghela napas dengan ringan.
Aku kembali menyuapi Gara, tapi setelah lima suapan anak itu sudah bilang tidak ingin makan lagi. Dia bilang pahit, mungkin saja memang lidahnya sedang tidak nyaman sekarang ini.
Obat dengan warna kuning itu kini aku suapkan ke mulutnya. Dia sempat protes, tapi aku meyakinkan pada anak kecil itu untuk meminum obat supaya bisa kembali bermain seperti sebelumnya.
__ADS_1
Dengan lucunya dia menutup hidung dengan tangan kecilnya.
"Anak pintar!" Aku menyodorkan minum untuk Gara. Mengelap mulutnya yang basah dengan tisu.
"Tante, mau gak tinggal sama Garrlla di sini? Kan nanti kalau Garrlla sakit bisa Tante yang urrllusin?" tanya anak kecil itu, gemas rasanya mendengar suara Gara yang sedang terserang flu, lebih merdu dan lucu. Ish, di saat seperti ini malah berpikir suaranya lucu.
"Em, itu ... gak boleh, Gara."
"Kenapa gak boleh?" tanya Gara dengan bingung. Matanya yang bulat tidak melepas tatapannya dariku.
"Itu ... kan. Em ...." Jujur aku bingung. Bagaimana aku harus bicara dengan bahasa anak-anak yang dia bisa pahami?
"Itu karena Tante dan Ayah Gara tinggal terpisah."
"Kalau begitu menikah saja!" ucap anak itu sedikit berseru.
"Eh, menikah? Gara tau dari mana kata itu?" tanyaku menepis rasa terkejut. Anak hampir lima tahun ini bicara soal menikah.
"Kata Rrllael, dulu Mama sama Papanya gak tinggal sama-sama, tapi sekarrllang sudah menikah. Jadi, Rraell punya Papa barrlluu. Bisa tinggal sama Papanya!" ucapnya menerangkan dengan nada khas anak kecil.
"Tante menikah saja sama Papa, biarrll Garrlla bisa panggil Mama juga!"
Eh, lagi-lagi dibikin baper sama anak kecil.
"Ehm, itu ... Gak bisa Gara. Tante kan punya Ibu. Nanti kalau tante menikah sama Papa Gara dan tinggal disini, Ibu Tante sama siapa?"
"Ya ajak kesini! Nanti kita tinggal sama-sama di sini. Ada Garrlla, Papa, Oma, Ibu Tante, sama Tante ... Eh, Mama!" ralatnya.
"Kita ... satu, dua, tiga ...," Gara memperlihatkan tangannya, menghitung jari yang ada di sana. "..., lima! Kita bisa berlima tinggal disini!" seru anak itu lagi.
"Ya, Tante, ya? Mau? Jadi Mama Garrlla. Garrlla gak punya Mama. Garrlla gak ada Mama kayak Rrllael bisa nunggu di sekolah! Garrlla janji jadi anak baik, nurrllut." ucap anak itu. Wajahnya yang tadi ceria kini terlihat sedih.
"I-iya. Gara sekarang bobo dulu, ya. Kan sudah makan obat, biar besok sembuh."
"Hem, tapi Tante tidurrll sini." Dia menepuk tempat yang ada di sampingnya. Aku mengangguk, pindah duduk di sampingnya dan menarik selimut untuk tidur di dekat Gara.
Tangan kecil yang masih hangat itu memeluk leherku, napas hangat dari hidungnya menerpa leher. Panas rasanya, membuat aku seperti di oven bersentuhan dengan tubuh demam Gara.
__ADS_1
Tepukan pelan aku berikan di pantatnya. Mulutku melantunkan solawat nabi, mengiringi Gara yang perlahan masuk ke alam mimpi.