
Yakin dengan Gara yang sudah tertidur, Arga menyuruhku untuk pulang. Tidak enak katanya jika aku terlalu malam pulang ke rumah.
"Semoga Gara gak nangis aku tinggal," ucapku, melihat Gara sekali lagi di dalam kamar dengan pencahayaan yang redup.
"Iya, semoga saja. Biar nanti Nira atau Sari yang jaga Gara. Aku antar pulang, biar motor sama Pak Sopir," ujar Arga. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Ini sudah hampir jam sepuluh malam, Tidka mungkin bagiku menolak usulan dia.
Kami berdua berada di dalam mobil, motorku dibawa oleh sopir Arga di belakang sana. Aku berpesan sebelumnya untuk berhenti di gang besar dan membawa motorku sendiri ke rumah.
"Memangnya kenapa? Apa Ibu kamu masih marah karena masa lalu dulu?" tanya Arga padaku. Aku merasa sungkan untuk menjawabnya. Aku hanya diam sambil memainkan jari jemariku.
"Maafkan aku soal yang dulu, Yu. Aku benar-benar membuat kamu susah ya?" tanya Arga lagi.
"Tidak apa-apa, memang ini sudah takdirnya mau bagaimana?" Aku balas menjawab.
Mobil melaju terus ke depan, menembus hawa yang semaki dingin. Jaketku tidak terlalu tebal, membuat tubuh ini rasanya lumayan dingin.
"Itu … ada di belakang jaket punyaku. Kalau kamu kedinginan pakai saja," ucap Arga.
"Tidak usah, aku gak terlalu dingin, kok," ucapku, padahal tubuh ini rasanya menggigil. AC di mobil ini sudah Arga matikan sedari tadi, tapi memang hawa dingin dari luar sampai membuat buram kaca di depan kami.
Arga menghentikan laju mobilnya, dengan segera mengambil jaket yang ada di kursi belakang mobil. Dia menyerahkan jaket itu padaku.
"Kamu gak boleh kedinginan. Nanti sakit," ucapnya.
Aku meraih jaket itu dengan malu dan dada yang berdebar.
Berhenti dengan perasaan ini. Jangan sampai terlena, Yu! aku mengingatkan pada diri sendiri.
__ADS_1
"Yakin Gara gak akan nangis, Ga?" tanyaku khawatir. Mencoba untuk menepis rasa tidak karuan di dalam hati. Jaket yang dia berikan aku pakai menutupi tubuhku.
"Tidak apa-apa, nanti biar Sari atau Nira yang urus Gara. Aku gak enak kalau kamu yang urus Gara sampai pagi nanti."
"Em, itu … soal yang Gara bicarakan tadi … kamu jangan pikirkan, ya. Omongan anak kecil, dia tentu masih sangat labil. Tidak mengerti dengan dunia orang dewasa," ucap Arga.
"Eh. Yang mana?" tanyaku tidak mengerti. Aku sampai menatap pada Arga.
Arga melirikku sekilas, lalu mengalihkan tatapannya kembali ke depan.
"Soal … ucapan Gara yang ingin kamu jadi … mamanya," ucap Arga lagi.
Aku masih menatapnya, lalu sadar dengan apa yang dia bicarakan. Keinginan Gara memang bertolak belakang dengan Arga. Ini sudah membuktikan jika Arga tidak terlalu berharap seperti Gara terhadapku.
Aku ini kenapa? Terlalu pede sekali. Padahal Arga tidak pernah menatapku sama sekali, tentu saja Arga sudah berubah banyak. Mungkin saja dia masih seperti dulu, suka berganti perempuan. Suka dengan banyak tipe wanita yang cantik dan seksi. Atau mungkin … dia sudah punya calon untuk menjadi ibunya Gara?
"Yu, kamu gak apa-apa, kan?" tanya Arga lagi menarikku dari pemikiran yang sok sibuk terhadap pria ini.
"Oh." Kembali kami terdiam berdua. Pikiranku terlalu sibuk sekarang ini. Banyak hal yang aku pikirkan hingga masa lalu pun tiba-tiba hadir di dalam ingatan.
Mobil sudah sampai di gang depan. Aku turun dari mobil Arga dan bersiap untuk melajukan motorku. Arga menatapku dengan khawatir.
"Kamu yakin gak mau kami antar sampai rumah?" tanya Arga padaku.
"Aku gak apa-apa, lagian ini juga tidak terlalu jauh juga," ucapku padanya.
"Tunggu sebentar, deh. Aku antar dari kejauhan, ya." Arga segera masuk ke dalam mobil, beserta sopirnya, ikut masuk ke dalam mobil tersebut.
__ADS_1
Aku mau bicara, melarang mereka mengikuti, tapi mereka berdua sudah bersiap untuk mengikutiku hingga aku sampai di rumah.
***
Rasanya lelah sekali tubuh ini, ngantuk dan sedikit lesu, itu mungkin karena aku langsung tidur semalam sepulang dari rumah Arga, sudah sampai di jam lebih dari sepuluh malam.
Jujur saja ucapan Arga malam tadi membuat aku sedikit kecewa.
Ah aku bingung sekali. Ada apa dengan hati ini. Aku harusnya tidak terlalu berharap kepada pria lain karena aku sendiri baru saja mengalami perpisahan.
Ini masih jam jam empat subuh, gegas aku mandi dan kemudian melaksanakan salat subuh. Pekerjaan rumah juga aku melakukan yang aku bisa. Menyiapkan sarapan dan menyapu seluruh rumah hingga ke halaman.
Hari ini aku harus pergi ke RC, untuk melakukan wawancara dengan atasan. Semoga saja tidak ada seleksi lain seperti di perusahaan-perusahaan sebelumnya.
Perjalanan lumayan jauh, tapi aku tidak menyerah dan putus asa untuk mengejar rezeki ku. Meskipun tempatnya jauh tapi aku tidak boleh mengeluh, ini adalah kesempatan yang langka untuk bisa bekerja di RC.
Aku menunggu sebentar hingga jam karyawan masuk dan seseorang memanggilku masuk ke dalam ruangan. Disana aku bertemu dengan orang lain berbeda dengan orang yang kemarin, namanya Pak Dani, orang yang diberikan tanggung jawab dari atasan untuk memantau keadaan perusahaan ini. Banyak yang dia tanyakan padaku, aku menjawabnya sebisa mungkin
“Apa Mbak Ayu bersedia jika nanti suatu saat harus turun tangan ke lapangan untuk mengecek para pekerja?” tanya Pak Dani kepadaku.
“Tentu saya bersedia Pak. Saya tidak keberatan untuk turun tangan ke lapangan,” ucapku dengan mantap. Tidak ada salahnya jika sesekali turun ke lapangan untuk melihat pekerjaan mereka. Aku juga penasaran bagaimana proses di lapangan menjadikan sebuah kapas menjadi selembar kain dan selanjutnya menjadi pakaian yang indah.
Pria dengan menggunakan kacamata bulat itu menutup berkas yang ada di tangan. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku.
“Mulai hari ini Mbak Ayu mulai bekerja ya.” ucapnya padaku. Aku tersenyum senang dengan hati yang membuncah bahagia mendengar penuturannya barusan.
“Saya diterima?” tanyaku dengan tidak percaya. Pria itu menggerakkan tangannya sedikit ke atas akan memperlihatkan jika dia menawarkan berjabat tangan.
__ADS_1
“Iya. Mbak Ayu diterima di perusahaan ini. Nanti setelah selesai dari sini saya akan panggil seseorang untuk membawa Mbak Ayu ke ruang HRD dan menandatangani kontrak. Silakan nanti Mbak Ayu membaca dengan seksama kontrak tersebut. Saya harap Mbak Ayu betah bekerja di sin,” ucapnya sekali lagi.
Aku mengangguk dengan cepat, dan membalas jabatan tangannya seraya mengucapkan terima kasih kepadanya.