
Bruk!
"Aww!" Aku berjalan sambil berpikir, tidak melihat jalan dengan baik sehingga menabrak seseorang.
"Maaf ...."
Ku usap keningku yang sakit akibat menabrak punggungnya. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku hingga aku menjadi ceroboh seperti ini.
"Maaf. Saya tidak sengaja," ucapku padanya.
Aduh, rasanya malu sekali karena banyak mata yang menatap ke arahku.
"Tidak apa-apa, Mbak. Mbak baik-baik saja?" tanya seorang wanita yang baru saja aku tabrak punggungnya.
"Eh, Mbak yang waktu itu kan? Yang ketemu di taman?" tanya wanita itu. Aku seketika menoleh ke arahnya. Ya, aku kenal dengan wanita ini. Tidak kenal juga sih, tapi pernah bertemu dengannya.
Di sampingnya ada seorang wanita tua duduk di kursi roda, terlihat sangat lemah. Aku perkirakan usianya tujuh puluh lebih, terlihat dari kulit wajah dan tangannya yang sudah keriput. Selang infusan terpasang pada lengannya.
"Eh, iya. Benar sekali. Mbak pengasuhnya Gara, kan?"
"Iya. Mbak apa kabar?" tanya dia balik.
"Alhamdulillah baik. Sedang apa Mbak disini?"
"Oh, ini. Oma sedang sakit, sedari kemarin tidak mau makan. Makanya badannya lemas." Tunjuk wanita muda itu pada sosok wanita tua di sampingnya.
Wanita tua itu menatapku dengan diam, sedikit memiringkan kepalanya lalu tersenyum.
"Aifa!" seru nenek itu dengan nada yang lemah. Dia menggoyangkan tanganku dengan gerakan pelan.
"Aifa, cucuku!" Nenek itu berkata lagi. Wajah berbinar terlihat kini, tidak seperti tadi.
"Eh. Bukan, Nek."
"Aifa!" Nenek tetap berseru meski aku bilang kalau aku ini bukan orang yang dia maksud.
"Nek. Bukan Mbak Aifa. Namanya Mbak Ayu!" Wanita itu berkata pada Nenek dekat dengan telinganya.
__ADS_1
"Aifa, Nira. Aifa." Hanya itu yang Nenek ucapkan. Terus saja menyebut nama Aifa.
"Mbak Ayu, maafkan Oma, ya. Oma sudah pikun," ucap wanita yang dipanggil Nenek dengan Nira itu. Aku tersenyum dan membiarkan Nenek itu menyentuh tanganku.
"Gak apa-apa."
"Oh iya, Mbak Ayu sedang ada urusan apa di rumah sakit ini?" tanya Nira.
"Ibu saya sedang dalam operasi."
"Oohh. Ya ampun. Semoga operasinya lancar."
"Terima kasih.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar, tiba-tiba saja berharap bertemu dengan sosok anak laki-laki kecil itu. Siapa lagi kalau bukan Gara.
"Gara gak ada?" tanyaku. Nira menggelengkan kepalanya membuat aku sedikit kecewa.
"Di rumah, Mbak. Gak baik kalau sering-sering ikut ke rumah sakit," jawabnya.
Aku menganggukkan kepala mendengar jawabannya.
"Mbak Ayu, minta maaf sekali. Kami harus kembali ke ruangan kami. Ini sudah hampir sore. Oma, kembali ke kamar, ya?" bujuk Nira kini pada sang nenek.
Oma menggelengkan kepalanya.
"Aifa ikut Oma, ya." Nenek menarik tanganku, suaranya terdengar lemah.
"Oma, Mbak Ayu lagi ada urusan gak bisa ikut ke kamar Oma." Nira kembali membujuk Nenek dengan lembut, tapi wanita tua itu tidak mau mendengar. Akhirnya aku mengalah karena nenek tidak mau melepaskan aku sama sekali.
Kamar Nenek sangat besar dan juga sangat nyaman, karena ini adalah ruang VIP. Berbeda sekali dengan ruangan Ibu, aku memesan kelas satu untuk kamar rawat inap Ibu, agar Ibu merasa nyaman saat pemulihan nanti.
Nira bercerita jika Nenek sulit makan sekarang ini dan juga seringkali tidak bisa tidur saat malam hari. Nenek juga banyak bicara menganggap aku ini adalah Aifa. Aku hanya menanggapi pembicaraan Nenek dengan banyak senyum, karena aku tidak tahu siapa Aifa.
"Aifa itu Ibunya Gara," bisik Nira.
"Oh." Hanya itu tanggapan yang aku berikan pada Nira.
__ADS_1
Nenek terus bercerita tentang bahagianya dia bertemu denganku, sangat senang sekali karena aku merawatnya, juga karena aku tadi menyuapinya.
Jam di dinding kulihat semakin bertambah angkanya. Kurang dari tiga puluh menit seharusnya operasi Ibu sudah akan selesai. Aku berbisik pada Nira jika aku harus kembali ke ruangan operasi.
"Oma, Mbak Aifa mau ke toilet dulu," ucap Nira berbisik pada Nenek. Aku beranjak bangun.
"Nanti kesini lagi, kan? Ayahnya Gara pasti senang bertemu Aifa lagi!" tanya Nenek dengan wajah terlihat berat. Pegangan tangannya erat pada bajuku.
"Iya, Oma. Nanti Ifa kesini lagi, ya. Ifa sudah gak tahan!" seruku padanya. Nenek mengangguk aku segera pamit pada Nenek dan juga Nira.
"Terima kasih, Mbak." bisiknya padaku sebelum aku berdiri.
"Sama-sama." Aku kembali ke ruangan operasi dengan segera. Di tengah jalan aku bertemu dengan Sinta yang panik mencariku. Sinta berlari dan langsung mengomel.
"Mbak aku cari di toilet tadi! Kata Bapak Mbak ke toilet aku cari ke dalam gak ada!" serunya dengan kesal.
"Aku juga telepon Mbak, gak diangkat kemana aja sih? Kami semua khawatir loh! Aku kira Mbak kenapa-napa!"
"Maaf, tadi ada gangguan sedikit," ucapku pada Sinta. Kami berlari ke arah ruangan operasi Ibu. Mas Hilman sudah tidak ada. Yu Tarni dan Pak Handoyo terlihat khawatir terhadapku. Mereka berdua bertanya, dan aku menjawab apa yang terjadi.
"Ya ampun, aku telepon sedari tadi Mbak malahan sedang suapi seorang nenek? Aku tadi bolak balik cek Mbak ke dalam toilet dan cari Mbak. Takut Mbak diculik sama Mas Hilman!" seru Sinta.
"Huss, kamu ini ngawur! Kok culik segala?!" Ibu Sinta kini sama berserunya kepada sang anak, memukul lengan anaknya dengan sedikit keras.
"Tadi mau balik sini, tapi si nenek malah narik Mbak, gimana dong?" Aku merasa bersalah karena tadi telah menghilang. Tidak sempat mengabari Sinta karena kupikir hanya mengantarkan saja si nenek ke kamarnya.
"Ya sudah. Kamu makan, Yu. Yang lain tadi sudah makan, tinggal kamu yang belum," ucap Yu Tarni seraya memberikan bungkusan kresek putih itu padaku. Aku mengangguk. Lapar juga karena aku belum makan siang, sedangkan ini sudah menjelang sore.
Acara makan di rumah sakit memang tidak terlalu menyenangkan, apalagi dengan keadaan Ibu yang berada di dalam sana. Rasa khawatir membuat aku hanya bisa makan sedikit saja.
Ini sudah lewat dari tiga puluh menit, tapi lampu itu belum padam juga. Aku mulai merasa cemas. Yu Tarni dan Sinta selalu mencoba menenangkan aku yang gelisah.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya diam dan kembali berdoa serta berharap yang terbaik untuk Ibu di dalam sana.
"Mbak Ayu!" Panggil suara yang lain mengagetkan aku dan yang lain. Nuri terlihat datang mendekat dengan membawakan beberapa kantong kresek di tangan.
"Ada apa Mbak Nuri?" tanyaku, kini bangkit dan mendekat ke arah pengasuh Gara.
__ADS_1
"Ini dari Bapak. Sebagai ucapan terima kasih karena telah menyuapi Oma. Bapak bilang minta maaf karena gak bisa menyampaikan secara langsung karena beliau harus cepat kembali lagi bekerja," ucapnya. Nuri tidak lama disini, dia harus kembali ke ruangan Oma karena ayahnya Gara tidak bisa lama.
Sinta membuka bungkusan kresek yang kusimpan di bangku. Dia tersenyum senang ketika mendapati kue brownies di dalam sana.