Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
73. Bertemu Pengacara


__ADS_3

"Mbak!!" teriak Sinta yang terdengar dari luar.


"Iya!" Aku balas berteriak, tapi tidak bisa mendekat ke sana karena aku sedang sibuk memasak sambal.


Sinta terlihat berlari ke arahku sambil membawa sesuatu di tangannya. Dia baru saja pulang dari kampusnya, tas masih dia sandang di bahu.


"Ini!" serunya seraya memberikan map berwarna cokelat kepadaku.


"Apa itu?" Aku tak lantas menerimanya karena harus mencuci tanganku terlebih dahulu.


"Dari ... pengadilan agama." Sinta membaca tulisan yang tertera di luar amplop itu.


Aku tersenyum senang dengan dada yang berdebar. Alhamdulillah, tidak lama setelah pengajuanku tempo hari akhirnya surat ini aku terima juga.


Ku keringkan tanganku terlebih dahulu sebelum membuka map itu.


"Eh itu ... tolong." Aku menunjuk ke arah kompor meminta Sinta menggantikan tugasku.


Di atas meja makan aku membuka amplop cokelat ini, sedangkan Sinta mengaduk sambal yang ada di atas wajan, sesekali dia bersin karena aroma pedas yang menyengat.


"Kecilin aja apinya," titahku padanya.


"Iya!"


Aku membaca kertas itu dari atas sampai bawah, ku baca satu persatu huruf dan kata yang ada disana dengan cermat. Satu tanggal dan bulan yang pasti kulihat tertera disana, tidak lama dari sekarang.


"Sin, kalau airnya sudah menyusut matikan saja, ya." pintaku padanya.


"Iya!" Aku bangkit dan menuju ke arah kamar Ibu, mengambil hp dan menghubungi pengacara yang di rekomendasikan oleh Dokter Wira. Setelah kepulangan Dokter Wira hari itu aku langsung menghubungi pengacara itu. Mbak Wanda namanya.


Aku kira Mbak Wanda adalah orang yang jauh di atasku, ternyata dia masih muda. Usianya mungkin tak jauh di atasku beberapa tahun. Waktu itu kami membahas masalah yang aku punya. Malu sebenarnya untuk menceritakan aib yang ada, tapi mau bagaimana lagi. Jika tidak bercerita bagaimana Mbak Wanda akan dapat membantuku?


Singkat saja aku menelepon Mbak Wanda, hanya untuk mengabarkan jika surat panggilan sudah diterima di tangan.

__ADS_1


"Kalau begitu lusa kita bertemu untuk pembahasan masalah yang lainnya," ujar Mbak Wanda tadi saat di telepon. Aku menyanggupinya, karena ingin sekali segera selesai dengan Mas Hilman.


"Mbak sambal sudah matang," ucap Sinta saat aku keluar dari kamar.


"Oh, iya. Kalau begitu tolong panggilkan Ibu, kita makan siang sama-sama." Sinta mengangguk lalu mencari Ibu di halaman belakang.


Tak lama Ibu kembali dengan membawa ember di tangannya.


"Ini lele. Ibu mau makan ini, Yu. Digoreng, ya." pinta Ibu, aku hanya mengangguk menuruti permintaannya.


Di halaman belakang memang ada kolam yang sengaja ku buat beberapa tahun yang lalu atas permintaan Ibu. Disana berisi ikan lele untuk konsumsi pribadi. Terkadang para tetangga Ibu bagi jika lele yang ada di kolam berjumlah banyak.


"Makanan sudah banyak gini loh Budhe!" tunjuk Sinta ke arah meja makan. Dari mulai ayam goreng, cah kangkung, sambal, dan tempe tahu goreng, juga ada terong sambal yang aku suka terhidang disana.


"Tapi Budhe ingin makan lele, udah lama gak makan," ucap Ibu.


"Iya, Ayu akan gorengkan. Tapi Ibu mandi dulu, lah. Bau amis gitu badannya." Aku menutup hidungku. Ibu mendekat dan melayangkan pukulan halusnya padaku.


"Gak sopan!" cerca Ibu, aku memberikan dua jariku berbentuk V pada Ibu.


Seperti yang diucapkan Mbak Wanda kemarin lusa, aku dan beliau bertemu di sebuah kafe. Cukup sepi karena kami bertemu setelah lewat dari jam makan siang. Dia juga menawariku makan, tapi aku tolak karena aku sudah makan sebelum datang ke sini.


"Ini sudah semua ya, bukti dan segala macamnya?" tanya wanita yang ingin aku panggil Mbak ini padaku, seraya memasukkan kertas yang aku bawa sebagai bahan pertimbangan hakim.


"Iya."


"'Kalau ada yang kurang nanti, saya akan hubungi Mbak Ayu. Mbak Ayu tinggal melengkapi apa yang saya minta. Kalau nanti ada kesulitan, Mbak Ayu hubungi saya. Saya akan bantu," ucap Mbak Wanda lagi.


"Terima kasih, Mbak. Saya sangat berterima kasih sekali pada Mbak Wanda karena sudah mau membantu saya," ucapku padanya.


Mbak Wanda tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Sama-sama, Mbak Ayu. Saya juga senang membantu Mbak Ayu."

__ADS_1


Kami tidak lama bertemu, hanya membicarakan pembahasan yang akan menjadi materi di dalam persidangan nanti. Baru aku tahu beberapa step yang harus aku hadapi. Entah apakah saat panggilan nanti Mas Hilman akan datang atau tidak.


"Mbak Wanda, aku takut kalau nanti Mas Hilman tidak datang ke persidangan bagaimana?" tanyaku padanya.


"Jangan khawatir, Mbak Ayu. Persidangan akan tetap dilaksanakan ada atau tidaknya Mas Hilman. Mungkin waktu yang kita tempuh akan menjadi lebih lama hingga sampai persidangan itu selesai. Tapi Mbak Ayu jangan khawatir, justru itu akan membuat langkah kita menjadi mudah jika pihak tergugat tidak datang terus menerus."


Aku menganggukkan kepala, semoga saja persidangan pertama kami dilancarkan.


"Tapi jika pihak tergugat membawa pengacara dengan tujuan untuk perebutan hak asuh anak dan harta gono gini, kita harus berusaha lebih keras lagi dengan hal itu," ucap Mbak Wanda. Aku terdiam. Kami tidak punya anak, tapi mungkin harta gono gini yang bisa saja Mas Hilman perebutkan.


"Kami hanya punya mobil dan rumah serta isinya sebagai harta gono gini," ucapku padanya. Mbak Wanda mengangguk.


"Surat sertifikat tanah dan bangunan itu ada pada saya," ucapku. Ingat waktu itu saat aku mengambil baju-bajuku aku mengambil sertifikat tanah yang ada di dalam lemari.


Mbak Wanda kembali menggerakkan kepalanya naik dan turun.


"Kalau nanti itu akan memberatkan, akan saya ikhlaskan saja." Aku menambahkan.


"Oh, tidak perlu. Harta gono gini juga ada hak Mbak Ayu di dalamnya. Mbak Ayu berhak untuk mendapatkan bagian dari rumah dan mobil itu," ucap Mbak Wanda padaku. Dia meyakinkan aku jika aku tidak perlu risau dengan hal itu.


Kami saling melepas kepergian masing-masing setelah pembahasan itu selesai. Dalam perjalanan pulang, aku mengucap syukur pada Sang Ilahi dengan bantuan yang aku dapatkan dari Mbak Wanda.


...****...


*


*


*


*


*

__ADS_1


Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan pembahasan di atas. Jika ada yang salah, mungkin author kurang dalam riset 🙏


__ADS_2