Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
129. Apa Karena Ibu?


__ADS_3

Aku berangkat ke kantor tanpa menyalami Ibu. Sudah beberapa kali aku panggil, tapi Ibu tidak keluar dari dalam kamar. Sebelum berangkat ke kantor, aku mampir ke rumah Yu Tarni terlebih dahulu untuk meminta beliau menemani Ibu di rumah. Rasa khawatir aku rasakan setiap kali aku meninggalkan Ibu di rumah seorang diri.


Di atas roda dua ku yang berjalan di jalanan dengan udara yang masih dingin, aku banyak berpikir. Sepertinya aku akan menuruti apa kata Ibu saja. Sudah tidak ada lagi yang aku punya selain Ibu di sini. Mamang dan kerabat lain tentu jauh keberadaan mereka dari sini.


Sudah lah. Aku harus jadi anak yang berbakti, bukan? Jangan sampai membuat Ibu bersedih lagi.


RC sudah ada di depan mata. Rasanya kali ini aku berat untuk masuk ke dalam sana. Tidak seperti hari sebelumnya yang selalu membuatku semangat untuk masuk kerja.


"Mbak Ayu!" panggil Desi mendekat ke mejaku, Nina juga sama mendekat dengan tatapan yang tajam dan tak teralihkan.


Aku yang baru saja duduk menatap mereka dengan bingung.


"Itu ... kemarin, kata Amar Mbak Ayu pulang sama Pak Eka ya?" tanya Desi dengan cepat. Nina tidak berkata suatu apapun, tapi tatapannya mengharap aku untuk bicara sesuatu.

__ADS_1


"Mbak Ayu punya hubungan apa sih sama Pak Eka, kok kelihatannya akrab banget!" ujar Desi lagi.


Aku jadi salah tingkah jadinya.


"Jujur deh, Mbak. Ada hubungan apa sih? Kok aku lihat Mbak kayaknya Deket banget gitu sama Pak Eka." tanya Desi lagi.


"Aku dan Arga ... kita, cuma temen lama," jawabku. Aku tidak mau menyebut Arga adalah mantan, kalau berita ini jadi heboh terdengar ke luar bisa gawat karena bisa saja mereka menganggap aku masuk ke RC dengan adanya koneksi dari bos, padahal aku melamar kerja sendiri.


"Yah, cuma teman lama. Aku kira Mbak Ayu sama Pak Eka ada sesuatu!" seru Desi dengan nada suara yang kecewa.


Jam istirahat aku dan Desi serta kedua teman yang lain ke kantin. Kami duduk makan di salah satu meja yang ada. Suasana mendadak heboh di dalam kantin ini saat seseorang masuk ke dalam sini.


"Ayu!" panggil seorang pria. Aku kenal suara itu dan mengalihkan tatapanku dari makanan di atas meja. Arga tiba-tiba saja menarik kursi kosong yang ada di meja sebelah dan duduk di sampingku.

__ADS_1


"Boleh kami bicara berdua?" tanya Arga kepada yang lain.


"Boleh, boleh sekali!" ucap Desi seraya mengambil piringnya. Nina dan Amar juga melakukan hal yang sama. Mereka lalu duduk di meja yang kosong tak jauh dari tempatku.


"Kenapa kamu gak angkat teleponku semalam?" tanya Arga.


Aku terdiam. Makanan yang ada di depanku kini rasanya hambar.


"Yu. Pasti ini ada sesuatunya sama Ibu kan?" tanya Arga lagi. Mendadak kantin menjadi sepi.


"Itu ... rasanya tidak pantas untuk aku bicara disini. Banyak orang yang melihat kita, "ucapku padanya. Arga menatap ke sekeliling, dan dia terdiam.


"Oke, nanti sepulang kerja kita ketemu," ucap Arga lalu pergi dari hadapanku. aku terdiam menatap punggung Arga yang kini menghilang ke luar dari kantin.

__ADS_1


Desi, Nina, dan Amar kembali ke mejaku berada, makanan mereka masing dibawa di tangan.


"Mbak gak mungkin cuma teman lama. Aku kira Pak Eka ada sesuatu sama Mbak!" ujar Desi


__ADS_2