
"Itu gara-gara si Yana, tuh. Kalau aja dia enggak di sini, bapak kamu gak akan kegoda sama dia!" jerit ibu dengan keras sambil memegang dadanya. Air mata keluar dengan banyak.
"Jangan salahkan Mbak Yana juga, Bu. Ibu yang suruh Mas Dirga tinggal di sini. Kan dulu Mas Dirga dah pengen ngontrak, Ibu yang larang, kan?"
"Jadi maksud kamu yang salah ibu? Begitu?" tanya ibu dengan berang, menatapku tajam.
"Hilman gak salahkan Ibu. Tapi harusnya Ibu sudah bisa menilai bagaimana baik dan buruknya. Bisa menjaga keharmonisan rumah tangga dengan baik. Ibu itu terlalu mengatur makanya bapak gak tahan sama Ibu dan memilih pergi dengan menantunya!" teriakku tak kalah kencangnya. Ibu menatapku dengan tajam, matanya membulat besar dengan dada yang naik turun.
Aku tidak mau berdebat lagi, takut jika melakukan hal yang tidak aku sadari. Kaki ini pergi meninggalkan ibu dan menutup pintu kamar dengan keras sampai Vita terkejut dalam tidurnya. Untung saja tidak terbangun dan menangis.
Ku rebahkan diri yang lelah di samping Vita. Sangat lelah sekali setelah dua malam lembur dan hari ini tahu kenyataan jika kami sedang menghadapi masalah yang serius.
__ADS_1
Duh, apa yang harus aku lakukan? Hutang kepada Arga saja dengan nilai tiga puluh juta belum bisa aku lunasi, masih dalam cicilan yang entah kapan aku akan bisa melunasinya. Sekarang ditambah lagi dengan urusan ibu soal penipuan ini.
Ah, gara-gara emosi aku belum tahu berapa uang yang harus diganti. Bagaimana ini?
Aku termenung dalam pembaringan ku, menatap langit-langit kamar yang sedikit gelap di beberapa bagian karena rembesan air hujan. Aku yang sibuk bekerja, tidak sempat membenarkan genteng yang bocor sehingga kamar seringkali tergenang air di pojokan sana. Ember hitam kecil tersedia di sana untuk saat nanti jika hujan besar datang.
Aku memutar diri menatap Vita yang terlelap dalam tidurnya. Sangat dai sekali melihatnya, rasa lelah yang tadi kini perlahan sirna sudah. Meski dia bukan putriku, tapi dia adalah kesayangan ku. Beruntung, Vita akhir-akhir ini sehat, semoga selalu sehat sampai bila nanti. Ku usap kepalanya, menyingkirkan rambut yang menghalangi mata. Tak lupa dengan ciuman di keningnya.
Sedih rasanya hati ini melihat nasib Vita, nasib aku, dan juga ibu. Bapak tega berbuat mesum dengan menantunya sendiri, tidak tahu dari kapan, tapi banyak tetangga bilang anak Mas Dirga dan Mbak Yana memiliki paras yang lebih mirip dengan bapak daripada ayahnya. Sedari dulu, tapi kami hanya berpikir jika kemiripan itu adalah gen yang diturunkan dari Mas Dirga karena Mas Dirga keturunan bapak. Ah, entahlah. Apakah benar anak Yana adalah anak bapak atau anak Mas Dirga, aku tidak tahu soal itu.
Aku tidak habis pikir, ibu selama ini ada di rumah, tapi tidak tahu dengan permainan suaminya.
__ADS_1
Ah, nasib. Jelek sekali yang datang pada kami. Bapak pergi dengan menantunya. Mas Dirga pergi tidak tahu kemana, dan juga dia meminjam uang dan melimpahkannya kepadaku. Sedangkan ibu sekarang memiliki masalah dengan warga lain. Ya Rabb, aku hanya meminta kuatkan lah hatiku. Kuatkanlah imanku.
***
Aku terbangun oleh tamparan tangan kecil Vita di pipiku. Sedikit perih karena pukulannya cukup kuat. Ku lihat jam yang ada di dinding, ternyata aku tertidur hampir dua jam.
"Vita mau susu?" tanyaku padanya, dia tidak menjawab, hanya tertawa dengan lengkingan suaranya yang khas. Aku membawa dia ke dekatku, mengecek pampers-nya. Sudah penuh, sekalian saja aku membawa Vita ke kamar mandi untuk mandi karena ini sudah hampir jam empat sore.
Ibu tidak keluar dari kamarnya semenjak aku selesai memandikan Vita dan mendudukkannya di depan TV. Gerah sekali badan ini, tapi tidak bisa meninggalkan Vita karena takut dia meraih sesuatu dan jatuh. Bukan barang yang aku takutkan. Aku takut sesuatu terjadi kepada Vita.
Hampir satu jam aku menunggu, tapi ibu tidak keluar juga. Aku bingung, takut terjadi sesuatu pada ibu, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengetuk pintunya.
__ADS_1
"Bu, sudah sore. Mandi dulu," teriakku di depan kamar ibu. Tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Bu. Ibu?" Tetap tidak terdengar suara jawaban ibu. Aku nekat membuka pintu kamar yang tidak terkunci, mengedarkan pandangan ke segala arah. Ibu tidak ada di kamarnya!