
"Eh, itu ... Aku belum bilang saja. Lagi pula kami ini hanya berteman, Mbak Ayu ini adalah putri dari pasienku," Dokter Wira berkata, menjadi semakin salah tingkah dengan kini menggaruk kepalanya saat aku menatapnya.
"Yaah! Aku kira ini calon kamu, cantik. Cocok deh. Kalian jadian saja, kan sama-sama sudah dewasa. Wira juga sudah mapan, cocok Mbak buat melangsungkan pernikahan tahun ini—."
"Maaf, Mbak. Saya baru saja melakukan sidang cerai beberapa minggu yang lalu. Saya masih belum ada rencana untuk dekat dengan orang lain." Potongku membuat wanita itu terdiam, kini dia terbengong dengan apa yang aku katakan.
"Eh?" Dia menatap Dokter Wira dan Mbak Wanda dengan bingung.
"Mbak Ayu ini adalah putri dari pasien Wira, dan juga klien Mbak kemarin. Baru saja selesai sidang perceraian. Jadi mungkin butuh banyak waktu untuk menata hati kembali," ujar Mbak Wanda mencoba menjelaskan.
"Eh, aku kira ... aduh. Maaf, Mbak. Maafkan saya. Saya tidak tau," ucap wanita itu dengan tak enak hati. Aku menjawabnya dengan senyuman.
Dokter Wira mengajakku untuk duduk. Setelah kejadian tadi aku masih berpikir, jika aku merasa ditipu olehnya. Wira, Wanda. Ah ... ya ampun. Kenapa pikiranku pendek waktu itu. Aku tak menaruh curiga sama sekali selain terpaku pada senyuman mereka yang sama.
"Mbak Ayu, maafkan saya atas kejadian ini." Dokter Wira duduk di sampingku setelah tadi pamit untuk ke toilet, dan baru saja dia kembali dengan membawa makanan dan minuman untukku.
Aku menatap Dokter Wira, dan dia hanya menundukkan kepalanya.
"Kenapa Dokter gak bilang saja kalau Dokter dan Mbak Wanda adalah saudara kembar?" tanyaku pelan, tak ingin menjadi perhatian orang lain yang sudah mulai sangat ramai disini.
"Em, itu ... saya hanya tidak mau kalau Mbak Ayu merasa canggung dan akhirnya menolak untuk menerima tawaran saya. Saya kira Mbak Ayu bukan tipe wanita yang mau menerima bantuan dengan begitu saja, apalagi jika tau kalau orang yang saya maksud adalah kakak saya sendiri."
Aku menghela napas mendengar penjelasannya barusan. Memang benar apa yang dia katakan, jika tahu Mbak Wanda adalah saudara Dokter Wira aku akan berpikir dua kali untuk menerima tawarannya.
"Terima kasih karena Dokter sudah mau membantu saya. Saya sangat berterima kasih sekali pada Dokter karena sudah membantu kami selama ini, tapi saya mohon ... saya hanya tidak ingin membuat Dokter merasa di berikan harapan oleh saya hanya karena saya menerima bantuan dari Dokter selama ini."
Dokter Wira menundukkan kepalanya.
"Saya butuh waktu untuk sendiri, Dokter. Setelah selama ini apa yang terjadi dengan saya, saya hanya ingin menenangkan diri saya terlebih dahulu."
Kali ini dia yang menghela napasnya, terdengar berat.
"Jika saya mau menunggu Mbak Ayu sampai waktu itu tiba, apa Mbak Ayu izinkan saya untuk mendekati Mbak Ayu?" tanyanya dengan gigih.
__ADS_1
Aku hanya diam, bagaimana aku harus katakan lagi padanya jika aku tak ada rasa dengannya? Aku hanya ingin menata hatiku ini sendirian, setelah kejadian yang membuat aku terpuruk karena dikhianati oleh suamiku sendiri. Oh, sekarang telah menjadi mantan.
"Saya tidak tau," ucapku. Antara kesal dan juga tak bisa berkata apa-apa lagi.
"Saya akan menunggu," ku pandang dia sekilas, senyum manisnya tersungging di bibir.
Aku membuang wajah ke arah lain. Rasanya tidak benar saja jika dia masih gigih mendekatiku. Bagaimana kalau aku tetap tidak ada rasa dengan dia? Bukankah ini akan membuat dia lebih kasihan lagi?
"Mbak Ayu. Silakan nikmati makanan yang ada. Setelah ini kita pulang? Ini sudah malam. Saya janji sama Bu Diah akan membawa Mbak Ayu pulang sebelum tengah malam," ujarnya dengan senyuman.
Aku hanya mengangguk. Makanan yang dia bawa tadi aku nikmati. Akan tetapi, rasanya tidak seperti ekspektasiku. Memang ini lezat, tapi aku tidak bisa menikmatinya dengan baik. Mungkin karena masalah tadi.
Malam semakin larut, tapi memang masih lumayan jauh dari tengah malam, kami sudah sampai di depan rumah. Setelah hampir satu jam perjalanan yang kami lewati dengan hanya diam di dalam keheningan.
"Terima kasih karena telah mau menemani saya, Mbak Ayu." Dokter Wira berkata sebelum aku keluar dari dalam mobil.
"Sama-sama, terima kasih juga karena telah mengajak saya ke luar malam ini." Aku berkata sambil membuka pintu mobil.
"Mbak," panggilnya. Aku kembali menoleh.
"Em, saya harap Mbak Ayu bisa memaafkan segala kesalahan saya soal itu," ucapnya.
"Soal itu?"
Dia tertunduk, "Soal Wanda," ucapnya.
"Oh, tidak masalah. Saya juga minta maaf karena telah berlebihan menanggapi soal itu," ucapku.
Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum senang.
"Saya masuk dulu, ya."
"Iya, hati-hati," ucapnya. Gerakanku terhenti.
__ADS_1
"Dokter yang harusnya hati-hati. Dokter kan mau perjalanan pulang," ucapku.
"Eh, iya." Dia tertawa canggung seraya menggaruk belakang kepalanya.
Mobil itu kini telah pergi, sedangkan aku masuk ke dalam rumah setelah memastikan mobil itu menghilang di kegelapan malam.
Ku hela napas ini dengan cukup keras, lelah? Tidak! Hanya saja aku merasa kasihan terhadap pria itu. Perasaanku tak bisa dipaksakan. Dulu pun jika Mas Hilman tidak berjuang keras mendapatkan hatiku, mungkin saja aku belum bisa move on. Eh, tapi bagaimana kalau kali ini aku juga tidak bisa move on? Kalau Dokter Wira berjuang keras untuk mendapatkan perhatianku ....
"Sudah pulang, Yu?" Suara Ibu memutus lamunanku. Aku yang baru saja menutup pintu agak terkejut dengan kehadiran Ibu di ruang tamu.
"Eh, Ibu belum tidur?" tanyaku.
"Nunggu kamu," jawab Ibu. Raut wajah Ibu terlihat tidak begitu enak dipandang. Sebuah keranjang bunga terdapat di atas meja. Indah sekali, dan wanginya yang semerbak cukup menenangkan hati.
"Tadi sore setelah kamu pergi ada kurir yang mengantar ini. Dari siapa, Yu?" tanya Ibu.
"Eh? Siapa? Buat Ayu?" tanyaku dengan bingung. Jelas sekali jika pertanyaan Ibu tertuju padaku, tapi aku malah menjawabnya seperti itu, terkejut pasalnya.
Ibu tidak menjawab lagi, hanya menatapku dengan pandangan curiga.
"Ayu gak tau, memangnya dari siapa?" tanyaku lagi.
"Kalau Ibu tau, Ibu gak akan tanya!" jawab Ibu, nadanya sedikit ketus.
Aku mendekat ke arah keranjang bunga itu dan mencari kartu nama atau kartu ucapan, atau apapun lah yang akan memberi petunjuk, tapi tak satu pun yang aku temukan di sana.
"Dari siapa, ya?" Aku bergumam sendiri, menatap Ibu yang hanya diam seraya menatapku juga.
Bunga mawar putih ini sangat wangi, juga sangat indah di pandang mata.
Siapa yang mengirimkan bunga ini?
Mawar putih, bunga yang melambangkan kesucian dan cinta murni. Juga sering diartikan sebagai simbol cinta abadi.
__ADS_1
Siapa? Siapa yang mengirimkan bunga ini untukku?