
Arga tidak menjawab, dia malah semakin dekat dan dekat sehingga aku sedikit menggeserkan dudukku ke belakang. Deru napasnya terdengar dengan sangat jelas, juga hangat di hidungku. Tatapan mataku terkunci olehnya, sehingga aku tidak bisa mengalihkan tatapanku ke arah lain.
Dug. Dug.
Akankah jantungku terlepas dari tempatnya.
"A-Arga, kamu terlalu dekat. Ma-mana yang mau dikerok?" tanyaku saat aku merasakan sesak dan tidak bisa bernapas karenanya. Aku merasa kikuk karena dia. Jarak yang terlalu dekat membuat aku kehilangan pikiranku yang waras. Bayangan mesum di otak datang silih berganti.
Hey! Aku wanita normal! Aku wanita dewasa! Lagi pula, Arga adalah suamiku. Jangan ditunda lagi! Ayo lakukan!
Entah suara dari mana terdengar di telingaku, mencoba untuk mengambil alih pikiran yang sedang tidak karuan ini.
Aku menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran yang membuat kepala ini rasanya berdenyut. Beberapa bulan tidak disentuh dan disiram membuat aku memikirkan hal yang kotor. Eh, bukan kotor, tapi menyenangkan. Emmm ... ya, apapun lah itu.
"Gak ada, kok. Memang siapa yang mau dikerok? Aku tadi cuma alasan aja," ucap Arga. Aku membolakan mataku saat dia semakin mendekat dan mendekat.
"Eh, tadi kamu bilang kan mau dikerok." Aku masih mencoba membuat detak jantungku ini menjadi normal. Arga menggelengkan kepalanya, mengambil tanganku dan sedikit menariknya, sehingga aku tidak bisa lagi mundur ke belakang. Dia semakin mendekat sehingga pipi kami saling menempel. Kulit halus Arga membuat aku semakin berdebar jantung ini.
__ADS_1
"Aku gak suka dikerok. Aku sukanya dibelai, diusap, dimanja!" bisik Arga di dekat telinga. Suaranya yang lembut membuat aku semakin ingin tenggelam dan tidak ingin sadar kembali pada kenyataan.
Arga menarik dirinya, menatap ku dengan senyum di bibirnya yang tipis. "Kita sudah sah, bolehkah aku mendapat hak ku?" tanya Arga.
Aku terkejut, tidak sengaja membulatkan mata saat mendengar ucapan itu. Dengan gerakan cepat menarik tanganku dari cengkeramannya.
"Se-sekarang?" tanyaku terbata, menatap Arga dengan tajam. Aku tidak menyangka jika dia akan lebih cepat meminta haknya.
"Iya, kalau boleh. Aku sudah lama sendiri, sudah lama tidak mencangkul dan mengurus ladang. Tadi siang, aku sudah mendapatkan lahan, aku sudah susah payah menahan diri untuk tidak menggarap ladangku. Sekarang, kita hanya berdua. Boleh kah?" tanya Arga sekali lagi, masih dengan senyum yang sama seperti tadi, sehingga aku tidak bisa berkata lagi.
Arga mengambil tanganku, menyimpannya di kedua bahunya yang bidang. Ku tautkan jari-jemari di belakang lehernya meski dia tidak meminta. Eh, kenapa dengan tubuhku?
Detak jantungku semakin keras tatkala Arga mendorong tubuhku semakin condong ke belakang. Perlahan dan perlahan. Sampai pada akhirnya aku pasrah dan tepat di bawah tubuhnya.
Arga mendekat, mencium keningku dengan lembut. Refleks aku memejamkan mata ini. Rasa kenyal dan hangat di kening, menyenangkan! Desir darahku semakin laju kurasakan di dalam diri ini. Bolehkah aku mendapatkan yang lebih dari ini?
Perlahan ciuman itu kurasakan turun ke hidung, mata, kedua pipi, dan akhirnya ... benda kenyal itu sampai juga di bibirku. Hangat. Basah yang aku rasakan di sana sangat menyenangkan.
__ADS_1
Aku masih kaku. Bukan karena aku tidak bisa, tapi ... Ah. Aku malu!
Apa yang Arga lakukan sangat lembut sekali. Gerakan bibirnya sangat perlahan, tidak menggebu. Membuai, menenggelamkan aku ke dalam dunia yang lain. Aku hanya diam saat dia mulai memainkan bibirku dengan mengecupnya, melu-mat, dan sedikit mengigit sehingga aku merasa sakit, tapi enak. Suara desa-han lembut terdengar dari bibir Arga, berdecak bagai anak kecil yang sedang merasai permen di mulutnya.
Sekali lagi dia mengigit bibirku, masih lembut dan kurasakan saat dia menjulurkan lidahnya sehingga tanpa sadar aku membuka mulutku. Aku yang tadinya malu kini menjadi berani untuk membalas gerakan lidahnya yang baru saja merangsek masuk ke dalam rongga mulut.
Dia menutup matanya, aku pun sama. Kami menikmati penyatuan bibir kami dengan rasa cinta yang ada di dalam hati kami masing-masing. Suara-suara indah terdengar, aku pun tidak bisa menahan suara itu di dalam diri. Gelenyar aneh aku rasakan di dalam darahku, semakin terpacu mengusir hawa dingin di malam ini menjadi panas dan semakin panas.
Satu tangan Arga kurasakan menelusup di dalam bajuku, memainkan kulit perut dengan sangat lembut, semakin naik dan naik lagi. Bak tersengat listrik, tubuhku bereaksi atas perlakuannya, mengge-linjang dan naik ke atas. Kaki ku tidak bisa hanya berdiam diri, bergerak-gerak kecil saat tangan itu menyentuh area privat di dalam wadahnya.
Arga menjauhkan dirinya, membuat aku kehilangan rasa hangat di bibir dan juga sentuhan lembut di kulit tubuhku. Kecewa. Apa? Kenapa?
Ku lihat Arga duduk di tepi ranjang, di dekat kakiku. Wajahnya terlihat frustrasi. Dia mengusap wajahnya dengan kasar seraya berdecak kesal.
Aku bangun, duduk di sampingnya sambil merapikan pakaianku yang sudah berantakan. Menatap Arga dengan bingung.
"Kenapa, Ga?" tanyaku pelan. Arga menoleh dan tersenyum, menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," jawabnya.