
"Ah? Ta-ta'aruf?" tanyaku refleks.
Pria tua itu menganggukkan kepalanya. Pria muda yang ada di samping Kyai kini angkat bicara.
"Iya. Ta'aruf, tapi ya nanti kalau Mbak Ayu tentunya sudah selesai dengan masa iddahnya. Maaf kalau sekiranya kedatangan kami terburu-buru, sebelum masa Mbak Ayu selesai. Tapi adik saya Zain selama ini tidak pernah seantusias ini dengan perempuan, dan kemarin waktu selesai mengisi kajian, Zain datang dan bicara sama saya kalau dia melihat Mbak Ayu dan ya ... dia bilang, dia ingin saya dan Romo mencarikan alamat Mbak Ayu. Akhirnya setelah mencari info ada seseorang yang tau kalau kelompok pengajian Mbak Ayu adalah desa ini. Maaf, kalau kedatangan kami membuat Mbak Ayu terkejut," ucapnya dengan tersenyum.
"Saya hanya ingin membantu adik saya," ucapnya lagi.
Aku dan Ibu terdiam. Jujur saja aku bingung dengan semua ini. Dokter Wira, si pengirim bunga yang entah apa maksudnya, dan sekarang ... entah apakah aku harus bilang astaghfirullah, atau Alhamdulillah?
"Bagaimana Mbak Ayu? Kami gak akan memaksa mbak Ayu untuk menerima Zain sekarang ini. Mungkin kami ini seperti egois karena datang di waktu yang belum tepat," ujarnya lagi.
"Maaf, Mas. Ini sebenarnya saya merasa tersanjung sekali ya dengan kedatangan Mas dan juga Pak Kyai, tapi ini loh, saya ... baru saja selesai bercerai dengan mantan sumi saya, dan apakah Pak Kyai dan Mas tahu kalau saya di ceraikan karena belum mempunyai keturunan setelah tujuh tahun menikah?" tanyaku pada keduanya. Wajah mereka datar. Akan sangat bersyukur sekali jika mereka tahu hal ini dan pulang tanpa meneruskan niatan mereka.
"Kami tau kalau soal itu, Mbak Ayu. Dan Zain juga sudah mengetahuinya. Adik saya tidak akan mempermasalahkan soal itu, toh kalau urusan anak bisa dibicarakan lagi nanti. Yang penting sekarang ini adalah kebahagiaan adik saya," ujar pria itu lagi.
Kepala ini rasanya mendadak pusing. Hati ini belum siap menerima kehadiran orang lain, apalagi dengan status anak kyai.
"Saya kenal sangat dengan adik saya, jika mungkin Mbak Ayu ragu dengan dia. Dia itu adalah pria yang taat dengan agama, insyaallah, Zain bisa membawa Mbak Ayu menuju ridho Allah."
Duh, bawa soal agama. Memang bagus jika seperti itu adanya, tapi rasanya , akh ... Bukan aku tak ingin mendapatkan ridho itu, tapi hati ini memang belum siap untuk menerima kembali setelah luka yang ditorehkan Mas Hilman untukku.
"Em, Pak Kyai, Mas. Maaf kalau soal itu, saya masih belum tahu apa yang baik dan tidak buat saya, bukan berarti Ustadz Zain tidak baik untuk saya, tapi setelah pengalaman pahit saya sebelum ini, saya jadi ... mungkin Pak Yai dan Mas mengerti" ucapku pada keduanya. Mereka menganggukkan kepalanya. Semoga saja mereka mengerti dengan apa yang aku maksud ini.
__ADS_1
"Iya, tentu saja." Pak Yai bicara masih dengan menganggukkan kepalanya.
"Gunakan waktu yang baik untuk Mbak Ayu memikirkan permintaan kami. Mbak Ayu coba shalat istikharoh di sepertiga malam, meminta petunjuk pada Allah, semoga saja Allah memberikan petunjuk atas apa yang kita bicarakan hari ini. Nanti dua bulan lagi, kami akan datang kembali. Kami harap sudah ada jawaban atas permintaan kami hari ini," ucap Pak Kyai, terdengar bijaksana, tapi juga terdengar sedikit menyeramkan untukku.
Kedua orang itu kini telah berpamitan menggunakan mobil yang tadi terparkir di luar pagar. Bu Rahmi masih berada dengan kami, kembali duduk di sofa.
"Beruntung sekali kamu, Yu. Belum selesai masa iddah, tapi sudah ada yang mengkhitbah," ujar Bu Rahmi seraya tersenyum senang.
"Bangga rasanya kalau ada orang kampung sini yang menikah dengan anak Yai sekondang Yai Amrul," ujarnya lagi. Aku hanya tersenyum tipis, terpaksa.
Untung saja, tadi mereka memberikan waktu untuk berpikir dan juga salat istikharoh menjadi pilihan untukku.
"Aduh, Bu Rahmi. Bangga sih, iya. Tapi hati saya ini kok gimana, ya? Baru saja cerai kemarin kok sudah ada yang datang lagi, kan saya syok, Bu. Untung saja gak jantungan!" ujarku kepada wanita paruh baya itu sambil memegangi dada.
"Ya janganlah. Jangan sampai syok dan jantungan. Nanti nggak bisa menikah dengan anaknya Yai. Kan dia lumayan ganteng juga, soleh lagi," ujar Bu Rahmi.
Wanita itu tersenyum dan terlihat salah tingkah.
"Em, itu ... Pak Yai nanya, ya masa nggak dijawab," tuturnya malu.
"Tapi beneran deh, saya juga nggak menyangka kalau ternyata Pak Yai datang ke sini dengan niatan yang seperti itu. Saya nggak tahu sama sekali, makanya tadi sempat kaget juga, tapi ya juga seneng sih," ucapnya lagi.
Tak lama Bu Rahmi di rumah kami. Setelah berbicara sebentar beliau pamit untuk pulang.
__ADS_1
Kini aku dan ibu hanya duduk berdua di ruang tamu. Terlihat ibu yang bingung, dan aku juga masih diam. Entah apa yang Ibu pikirkan, kalau aku sih jelas memikirkan hal yang baru saja terjadi.
"Yu. Apa nanti Kyai Amrul bakal datang ke sini lagi?" Tiba-tiba saja Ibu bertanya seperti itu.
Aku mengangkat kepala dan menatap ibu. Wajah Ibu terlihat bingung dan resah.
"Tidak tahu, Bu. Ayu masih bingung, Ayu hanya ingin menikmati waktu sendiri. Tidak ingin memikirkan soal jodoh dulu." Ungkapku kepada Ibu. terdengar helaan nafas Ibu yang sedikit kasar.
"Kamu berhak menolak kalau tidak mau, Ibu pikir juga tidak apa-apa kalau tidak mendapatkan menantu anak dari Kyai. Senyamannya hati kamu saja untuk sekarang ini," ucap Ibu seraya tersenyum.
Aku menganggukan kepala. Tidak ada pembicaraan lagi di antara kami karena Ibu kini hanya diam.
"Ayu ke dapur dulu Bu. Tak mau beresin belanjaan yang tadi." Aku pamit pada ibu dan kemudian pergi ke dapur.
Belanjaan yang tadi aku beli kini aku bereskan dan beberapa dimasukkan ke dalam kulkas.
Ustadz Zain memang memiliki paras yang lumayan. Dia cukup manis jika dilihat, ukuran wajahnya lebih kecil daripada pria lain. Aku tidak terlalu memperhatikan dia waktu kemarin, hanya suaranya saja yang aku dengar dengan jelas saat ia memberikan khutbah. suaranya begitu menenangkan dan menentramkan, mungkin itu sebabnya ada beberapa orang yang tertidur pulas saat mendengarkan khutbahnya termasuk aku.
Ah, entah bagaimana nanti kalau Pak Yai kembali ke sini lagi. Tidak mudah bagiku untuk bisa menata hati kembali. Aku hanya ingin tenang. Hanya ingin menjalani hidupku dengan tanpa memikirkan hal lain. Meski kini Ibu telah sehat tapi terkadang aku juga khawatir akan diri Ibu.
Ya Rabb, berikan aku petunjukmu.
****
__ADS_1
Hai-hai. yuk teman sambil nunggu Ayu up lagi kita mampir dulu sini.