Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
33. Ancaman Ibu


__ADS_3

Aku marah dengan permintaan Ibu tadi. Bisa-bisanya Ibu meminta aku untuk menikah lagi. Bagaimana perasaan Ayu jika aku menikah dengan wanita lain. Kami cukup bahagia saat ini meskipun tidak ada tangis bayi di dalam rumah tangga kami.


Aku mengambil jaket dan juga tas kerjaku. Berjalan keluar menuju ke arah mobil.


Rasanya masih tidak menyangka jika Ibu menginginkan hal itu.


"Hilman!" Suara seruan Mas Dirga terdengar di belakang. Dia berlari tergesa-gesa ke arahku, wajahnya terlihat panik.


"Hilman tolong Ibu!" seru Mas Dirga dengan kening berpeluh besar. "Lihat Ibu di dapur sana!" tunjuk Mas Dirga ke dalam rumah.


"Ada apa?" tanyaku dengan bingung.


"Ibu mengancam akan bunuh diri kalau kamu tidak mau menikah lagi. Ibu sudah ambil pisau dan dia tidak mau mendengarkan Mas!" seru Mas Dirga lagi.


Aku terkejut mendengarnya, gegas kaki ini melangkah dengan cepat ke arah dapur dan tidak menyangka dengan apa yang dilakukan Ibu di sana, Ibu sedang mengarahkan pisau ke pergelangan tangannya.


"Apa yang Ibu lakukan?" tanyaku dengan panik. Aku mendekat ke arah ibu, tapi Ibu mundur dua langkah sambil mengarahkan pisau itu lebih dekat lagi pada kulit tangannya. Segores berwarna merah terlihat di sana.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak mau mengikuti keinginan Ibu, lebih baik Ibu mati saja!" seru Ibu dengan marah.


"Jangan nekat begitu, Bu! Itu namanya bunuh diri!"


"Ibu gak peduli! Kalian sudah tidak sayang lagi sama Ibu kenapa ibu harus bertahan lagi?"


"Bu eling! Bapak pasti akan marah kalau lihat Ibu seperti ini!" ucapku membujuk Ibu. Kalau saja Bapak ada di sini, sudah pasti bapak bisa menenangkan Ibu sekarang. Bapak sedang berada di rumah saudaranya di kampung. Kakak tertuanya sedang sakit.


"Gak akan! Bapak kamu juga akan mendukung dengan apa yang Ibu lakukan!" teriak Ibu.


"Ibu tolong, Bu. Jangan lakukan itu. Kan sudah ada Yudi yang bisa menemani Ibu. Nanti aku akan bilang sama istriku untuk izinkan Yudi main sama Ibu," bujuk Mas Dirga.


"Iya, oke. Aku akan turuti yang Ibu mau! Tapi tolong Ibu simpan pisau itu!" Aku berteriak kepada Ibu yang kini menatap ke arahku dengan tatapan tidak percayanya. Aku mengulurkan tanganku meminta pisau itu darinya.


"Beneran?" tanya Ibu kepadaku. Aku menganggukkan kepalaku.


"Kamu mau menikah dengan anak temen Ibu?" tanya Ibu lagi.

__ADS_1


"Iya. Hilman akan menuruti apa mau Ibu, tapi Ibu simpan pisau itu. Jangan lakukan hal yang berbahaya," ucapku lagi. Aku sungguh takut jika Ibu melakukan hal yang nekat seperti itu.


"Janji?" tanya Ibu lagi.


"Iya. Aku janji. Sekarang Ibu simpan pisau itu ya. Hilman akan menuruti apa yang Ibu mau," ucap ku lagi kepadanya.


Perlahan ibu menyimpan pisau itu ke maja makan. Aku dan Mas Dirga menjadi lega melihatnya. Segera Mas Dirga menjauhkan pisau itu dari jangkaunan. Aku segera mendekat ke arah Ibu dan memeluknya dengan erat.


Apa yang akan terjadi kalau Ibu melakukan hal itu? Usia tidak ada yang tahu. Walaupun aku marah karena Ibu meminta aku menikah lagi, tapi aku adalah putranya yang tidak mau melihat seorang wanita yan melahirkan ku ini sedih dan juga terluka apalagi sampai merengang nyawa di depan mataku.


"Kamu bener mau menikah dengan Hana?" tanya Ibu menyebut nama seorang wanita. Ibu merenggangkan pelukannya di dadaku dan menatapku penuh harap.


"Iya, aku akan lakukan apa yang Ibu mau, tapi Ibu tidak boleh melakukan hal itu lagi. Jangan buat kami takut sperti ini, Bu." Pinta ku kepada Ibu.


Aku menatap Mas Dirga. Dia hanya menatap kami tanpa bisa berkata apa-apa.


...***...

__ADS_1


Halo teman-teman,mampirin juga kesini yuk



__ADS_2