Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
252. Maaf Dari Hilman


__ADS_3

"Aku yang tidak mampu mempunyai keturunan, Yu. Maafkan aku. Aku sudah sia-siakan kamu."


Aku membulatkan mata, sedikit bingung dengan ucapannya barusan. Apa yang Mas Hilman maksudkan? Apakah mungkin jika selama ini Mas Hilman yang bermasalah? Tapi bagaimana bisa? Bukankah dia memiliki anak dengan Hana?


Dia tidak lagi berbicara, tapi menangis dengan cukup keras. Banyak yang melihat, aku khawatir kepadanya. Terutama karena dia bekerja di sini. Takut jika nanti akan mengganggunya di kemudian hari.


"Mas, sudah lah. Bangun." Pintaku sekali lagi padanya. Dia menggelengkan kepala beberapa kali. Mengucapkan maaf dan maaf sedari tadi.


"Hilman, sudahlah bangun jangan seperti itu. Tidak baik dilihat orang lain." Kini Arga maju dan menarik tangan Mas Hilman untuk berdiri. Kali ini laki-laki itu menurut, dia berdiri tapi masih menundukkan kepalanya. Wajahnya kini telah basah dengan air mata.


"Maafkan aku, Arga. Aku pernah berbuat salah kepada kalian. Aku sangat meminta maaf untuk itu," ucap Mas Hilman masih menangis.


"Kami sudah tidak punya dendam sama kamu. Jangan sampai kamu merendahkan diri lagi seperti itu di hadapan kami. Tolong jangan sampai membuat kami menjadi tidak enak hati karena pemikiran kamu," ucap Arga lagi.

__ADS_1


"Ayu sekarang sudah bahagia, kamu tidak perlu merasa bersalah. Sekarang benahi diri kamu, berbuat baiklah kepada orang lain. Kami sudah lama memaafkan kamu."


Aku menatap Arga dengan takjub, betapa baiknya suamiku ini. Jika mengingat perlakuan Mas Hilman kepadanya dulu, tentu sepertinya bukan hal yang bisa dengan mudah dimaafkan.


"Kami permisi ya ini sudah malam," pamit Arga kepada Mas Hilman. Dia mengganggukan kepala dengan terlihat kaku, seperti terpaksa. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Mas Hilman menjawab salam dari Arga dengan suaranya yang lirih. Kami berdua berbalik.


Kami berdua berhenti melangkah dan kembali membalikkan badan.


"Selamat atas kehamilan kamu. Aku doakan semoga kamu dan calon bayi kalian sehat selalu," ucapnya terdengar jelas. Dia menangis, tapi bibirnya tersenyum.


Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih. "Kamu juga, Mas. Semoga diberikan kesehatan dan dilimpahkan rezeki oleh Allah." Doaku untuknya dan disambut dengan kata aamiin oleh dia dan juga Arga.

__ADS_1


Kami berbalik tanpa menunggu jawabannya lagi. Aku mengulurkan tangan kepada Gara dan membawa anak itu untuk menuju mobil kami. Sampai saat kami pergi dari sana Mas Hilman masih menatap kami dari tempatnya. Terlihat dari sorot matanya penyesalan yang begitu dalam.


Arga memegang tanganku, ibu jarinya mengelus punggung tangan. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya. Senyum aku perlihatkan kepada Arga.


"Aku tidak apa-apa. Sudah tenang di dalam hati ini," ucapku seraya memegang dadaku. Pikiran-pikiran yang selama ini mengganggu dan juga gundah hati yang selama ini menyesatkan dada ini kini sudah tidak ada lagi. Aku tidak mau ada dendam, atau mereka yang berpikir aku memiliki dendam, kini hidupku menjadi lebih tenang. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang.


"Alhamdulillah kalau begitu. Aku berharap dia bisa menjalani kehidupan yang lebih baik," ucapnya sambil tersenyum.


"Terima kasih ya. Kamu sudah izinkan aku berbicara dengan dia," ucapku kepadanya.


"Iya. Apapun untuk kebahagiaan istriku."


Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Melihat dari sorot matanya tadi saat aku meminta izin, dia terlihat sedikit berat untuk mengizinkan. Akan tetapi, sepertinya dia menahan ego. Seperti apa yang dia katakan barusan. Demi kebahagiaanku.

__ADS_1


__ADS_2