
"Kamu sudah bicara sama Ayu?" Tanya Bapak saat aku datang ke rumah karena suruhan Bapak.
"Belum, Pak. Hilman gak tega mau bicara ini sama Ayu," ucapku dengan bingung.
"Ya sudah. Kalau kamu gak tega bicara sama Ayu, ya gak usah bicara saja. Bapak juga sudah bicarakan pernikahan ini dengan keluarga Hana. Kami sudah setuju, kalian akan menikah minggu depan." Aku tersentak saat Bapak mengatakan hal itu.
"Minggu depan?" tanyaku terkejut. Ada rasa tak percaya saat Bapak berbicara seperti itu.
"Iya, Man. Minggu depan. Weton kalian ini bagus untuk menikah di waktu dekat ini dan minggu depan itu tanggal yang baik untuk kalian menikah,"ucap Ibu yang duduk di samping Bapak.
Aku menatap mereka tidak percaya. "Bu, Pak. Ada apa sih kalian ini? Kenapa kalian seenaknya saja menyuruh aku menikah lagi, dan sekarang ini, kenapa kalian seenaknya saja memutuskan kapan tanggal pernikahanku? Aku belum bisa bicara sama Ayu, Pak, Bu!" seruku kepada Ibu dan juga Bapak yang berada di depanku. "Setidaknya berikan aku waktu untuk bicara sama Ayu dulu dan mendapatkan restu dari dia!" seruku lagi.
"Kapan, Man? Ibu dan Bapak ini sudah bertemu dengan keluarga Hana karena kami tau kalau Ayu pasti gak akan izinkan kamu! Kami sudah membawakan dia mahar dan juga menyerahkan biaya untuk pernikahan kalian. Lalu kamu mau menunda hal baik ini begitu?" tanya Ibu dengan keras dan juga terdengar sangat kesal.
__ADS_1
"Tapi Ibu dan Bapak kenapa juga harus bertindak secepat ini? Hilman juga belum siap dengan pernikahan dadakan ini, apalagi dengan tidak adanya izin dari Ayu selaku istri pertama!" ucapku dengan tak kalah keras dari Ibu.
"Itu karena Ibu dan Bapak yakin kalau Ayu gak akan izinkan kamu." Ibu bersikukuh.
"Bu, bukankah poligami itu harus atas izin istri pertama? Pernikahan Hilman dan dia tidak bisa dilaksanakan jika tidak ada izin dari Ayu!" Aku berharap dengan mengatakan ini Ibu dan Bapak akan berpikir lagi.
"Kamu cukup menikah saja secara agama. Nanti kalau Hana hamil dan punya anak dari kamu, Ibu yakin Ayu juga akan menerima keberadaan dia diantara kalian. Kalian bisa melegalkan pernikahan kalian dan urus akta serta surat-surat atas hadirnya anak kalian. Kalau wanita itu tidak mau menerima kalian, kamu ceraikan saja. Kamu akan lebih senang hidup bersama dengan anak kamu daripada istri kamu yang gak bisa kasih kamu anak itu!" ucap Ibu dengan nada kesal.
"Jaga bicara kamu sama orangtua, Hilman!" bentak Bapak
"Coba deh kamu fikir, Man. Istri mana yang mau didua dan memberikan izin suaminya menikah lagi?" Bapak yang berbicara. Sikapnya tenang, tapi nadanya bersiap penuh ancaman.
"Ya itu Bapak tau, gak ada Pak istri yang mau didua, termasuk Ibu kan? Coba Hilman tanya sama Ibu, apa Ibu mau didua sama Bapak? Ibu akan izinkan kalau Bapak mau menikah lagi?" tanyaku pada Ibu dan juga menatap ke arah Bapak.
__ADS_1
"Jangan durhaka kamu Hilman sama orangtua. Apa salahnya kalau kamu menurut? Lagipula itu juga buat kebaikan kamu! Coba kamu pikir, kalau kamu tua nanti siapa yang akan urus kamu? Siapa yang akan temani kamu kalau bukan anak kamu?" tanya Bapak lagi kepadaku.
"Sudah, pokoknya Ibu gak mau tau, kamu minggu depan harus menikah dengan Hana! Ibu gak mau tau! Sudah banyak uang yang Ibu keluarkan untuk membujuk Hana supaya menikah sama kamu!" ucap Ibu lagi dengan sewot.
"Itu artinya kalau dia mau menikah dengan Hilman karena uang dong, Bu?" tanyaku kepda Ibu.
"Bukan begitu juga Hilman! Dia memang mau menikah dengan kamu memang Ibu yang meminta dia untuk kamu nikahi. Dia itu gadis yang baik. Dia gak mau pacaran padahal usianya sudah cukup. Waktu Ibu kesana dia bilang mau menikah langsung aja kalau ada jodohnya, mau cari yang dewasa. Cocok sama kamu, Man!" ucap Ibu dengan senyum senang di bibirnya. Aku memijit pangkal hidungku yang berdenyut nyeri.
"Ya, Man. Pokoknya Ibu gak mau tau! Kamu harus menikah sama Hana. Ibu yakin kalau Hana bisa cepat kasih kamu keturunan. Ibu gak sabar, Pak!" seru Ibu lagi dengan melirik ke arah Bapak. Bpak hanya mengangguk sebagai jawaban terhadap Ibu.
Aku tidak tahu lagi harus bicara seperti apa kepada orangtuaku ini. Mereka sangat berharap sekali aku menikah dengan gadis yang bernama Hana itu dan segera mempunyai anak.
Sampai di rumah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepada Ayu. Wanita cantik ini begitu sangat menghormatiku dan juga sangat perhatian padaku. Aku jadi tidak tega untuk mengatakan hal ini padanya. Apalagi malam-malam sebelumnya aku melihat Ayu yang selalu saja sedih jika mengingat apa yang dia tidak bisa berikan kepadaku.
__ADS_1