
Aku terpaksa menyetujui apa yang Ayu mau karena desakan Ibu. Ibu sudah tidak ingin lagi bermenantukan Ayu, alasan Ibu karena Ayu tidak bisa memberikan keturunan untukku. Selain itu juga Ibu sudah sakit hati dengan ucapan Ayu yang entah apa dan yang mana. Seingatku Ayu sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Ibu semenjak dia pergi dari rumah ini.
Ku pandang kamar yang sudah lama sepi, tak ada kehangatan, tak ada senyuman, tak ada lagi tawa yang terdengar merdu di telinga tatkala Ayu sedang bersenda gurau denganku seperti dulu. Kini hanya aroma pengap dan bau tak sedap di dalam kamar ini karena hampir selama Ayu tak ada jendelanya tak pernah di buka. Itu yang sering aku lihat jika aku sedang mengambil bajuku di kamar ini.
Hana tak pernah mau menyentuh kamar ini untuk dibersihkan hingga kini banyak sekali debu yang berterbangan saat aku membuka pintu dan menyalakan lampunya.
Rasa rindu yang terus hadir di dalam hati ini pada istri ... hah. Mantan istriku sekarang!
Aku sangat rindu dengan Ayu hingga aku sering memimpikan dia. Bahkan tak jarang saat sedang bersama dengan Hana, aku malah sering sekali memikirkan jika aku sedang bersama dengan Ayu. Untung saja tidak keceplosan menyebut nama itu. Kalau tidak, Hana pasti akan marah.
"Mas, kamu lagi ngapain sih di sana?" Hana kini masuk sambil menutupi hidungnya. Sesekali tangan yang lain ia kibaskan di depan wajahnya untuk menghalau debu tebal.
"Kamu ngapain lagi di kamar ini? Aku tunggu juga sedari tadi di luar. Aku lapar, Mas! Tadi pulang dari persidangan kamu gak ajak aku makan. Tega!" sungutnya dengan kesal.
Aku mendekat ke arahnya dan membawanya keluar dari kamar ini. Ku tutup pintu kamar setelah mematikan lampunya.
"Maaf, kamu tau kan kalau aku gak ada uang? Kamu juga gak mau jual kalung itu. Uang yang ada sama aku gak banyak dan kita harus bisa berhemat sebelum aku dapat kerja," ucapku meminta pengertian darinya.
"Hemat. Hemat! Hemaaaat terus yang kamu bilang dari kemarin? Mas, aku ini udah cukup ya kamu sabarin dengan kata itu. Hemat gak bikin aku kenyang, Mas. Kalau kamu cuma kasih aku makan sama daun-daunan doang aku akan jadi manusia kurang gizi!" ucapnya dengan seruan. Wajahnya terlihat sangat kesal sekali saat mengatakan hal itu.
Aku menghela napas dengan lelah. Permintaan Hana memang tidak berat, tapi untuk menyediakannya setiap hari yang buat aku sedikit kesal karena keinginannya.
__ADS_1
"Sesekali dong kamu belikan aku daging, Mas. Ini cuma daun singkong, kangkung, sayur sop, sayur asem. Duh! Mau gimana anak kamu ada gizi makan begituan setiap hari!" cercanya.
"Iya, aku akan belikan kamu makanan sekarang. Kamu mau makan apa?" tanyaku pasrah, daripada dia terus bicara sepanjang waktu sampai sore nanti dan ujung-ujungnya tetap saja aku yang dia marahi dan juga disuruh tidur di luar malam nanti.
"Rendang!" jawabnya dengan acuh.
Astaghfirullah ....
"Oke, aku akan cari. Kamu masak nasi dulu, deh. Nanti siapa tau sudah matang pas aku pulang."
"Gak mau! Mau rendang sama nasinya lengkap dari sana!" ujarnya dengan cemberut.
Aku menghela napas panjang, mengeratkan gigiku. Permintaan Hana selalu saja seperti ini. Ayam geprek, Ikan bakar, rendang, ada saja yang dia mau setiap harinya. Belum lagi dengan makanan lain seperti martabak, roti bakar, atau cemilan berat di malam hari. Kalau aku kerja sih tidak apa-apa, akan aku belikan semua yang dia mau.
"Iya, aku pergi sekarang!" ucapku langsung menyambar kunci mobil. Rasanya telinga ini panas sekali mendengar omelannya yang seperti itu.
Ah, kenapa sesulit ini tak ada motor. Jika saja ada motor Ayu, aku gak akan keluar hanya ke depan sana dengan menggunakan mobil. Aplikasi pemesanan makanan aku hapus dari hp-ku karena Hana selalu saja seenaknya memesan makanan. Sedikit-sedikit, pesan. Sedikit-sedikit, pesan. Duh!
Ku lirik dompetku yang kini telah terbuka. Ku pandangi uang yang hanya tinggal tiga lembar lagi, dua merah dan satu biru, sisanya hanya uang recehan untuk parkir. Ku usap wajahku dengan kasar. Ini uang tak lama pasti akan habis, jika aku tidak segera mendapatkan pekerjaan, bagaimana aku akan menghidupi Hana di kemudian hari? Pinjam sama Mas Dirga ... ini saja yang kemarin belum aku kembalikan.
Rasanya sangat sulit sekali mencari pekerjaan, apalagi aku sudah terlanjur di kenal sebagai pria beristri dua yang telah tega menampar istri pertamanya di depan umum. Mungik karena kesalahanku waktu itu yang tak bisa menjaga emosi membuat aku kini dikenal seperti itu.
__ADS_1
Pulang dengan sebungkus makanan yang Hana pesan. Sudah cukup hanya itu saja. Aku tak boleh boros dan mengelola keuangan yang ada, meskipun tadi sempat tergiur juga dengan makanan yang ada di salah satu etalase.
"Hana!" teriakku setelah memasuki rumah. Hana baru saja keluar dari kamar setelah ku panggil, matanya terlihat merah khas baru bangun tidur.
"Sudah pulang?" tanya Hana. Aku baru saja mau menjawab, tapi tak jadi karena dia melengos ke arah dapur setelah menyambar plastik makanan yang aku bawa tadi.
Tanpa menungguku yang juga lapar, Hana mulai memakan makanan itu dengan lahap. Tak menawari, atau hanya sebatas basa basi, dia kini makan dengan rakusnya terlihat seperti sangat kelaparan sekali.
"Kamu gak makan, Mas?" tanya Hana yang melihatku kini di ambang pintu.
"Makan, aku juga lapar," ucapku. Aku mengambil nasi yang tinggal setengah piring di dalam mejikom, lalu bergabung dengan Hana di meja makan, menatap sayur jamur yang aku masak tadi pagi. Rendang yang ada di atas bungkus nasi itu kini hanya tinggal secuil, kini dia nikmati dan dia gigit diantara giginya.
Ah, mulutku rasanya ... stop untuk membayangkan potongan daging enak itu ada di mulutku. Itu hanya khayalan!
Kenapa rasanya jadi begini? Jika dia adalah Ayu, pasti kami akan makan sebungkus berdua seperti dulu saat kami sedang berhemat untuk bisa membel rumah ini.
"Kok bengong? Gak jadi makannya?" tanya Hana lagi membuat aku tersentak. Sedari tadi ternyata pandanganku terfokus pada mulutnya yang mengunyah makanan.
Hana kini bangkit, dia membungkus kembali makanan itu, masih banyak sisa nasi Padang di dalam bungkus itu dan dia simpan ke dalam kresek semula tadi.
"Aku ngantuk, mau tidur sebentar sebelum mandi nanti." Hana selesai mencuci tangan lalu pergi ke kamar.
__ADS_1
Aku menghela napas dengan lelah. Sayang sekali nasi sebanyak itu kini jika terbuang percuma, Hana pasti tidak akan memakannya lagi nanti malam. Ku geserkan piring milikku dan mengambil bungkus makanan tadi. Sayur daun singkong dan sisa sambal masih lumayan untuk ku nikmati, biarlah nasi utuh yang ada di piringku ini untuk makan malam Hana nanti.