Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
233. Inginkan Sesuatu


__ADS_3

"Mama!" teriak Gara dengan kencang seraya berlari masuk ke dalam kamar, tak lama setelah Arga menyimpan nampan di atas nakas. "Ketemu! Gambarnya ketemu!" teriak anak itu lagi dengan riang sambil melompat di lantai. Menciptakan suara berisik karena sepatu dan teriakannya.


"Ketemu!" teriaknya lagi, di tangannya ada buku gambar, ku lihat sekilas itu gambar yang kami buat kemarin.


"Apanya yang ketemu?" tanyaku berpura tidak tahu.


"Jangan lompat, kasihan Mama." Arga menarik tangan Gara untuk diam dan tenang.


"Buku gambar Abang ketemu di kamar nenek!" serunya lagi, wajahnya berbinar senang dan bahagia.


"Loh, kok bisa di kamar nenek?" Arga bertanya dengan bingung.


Gara sedikit terdiam, terlihat dia sedang berusaha mengingat, lalu anak itu tersenyum meringis. "Hehe, baru Abang ingat. Kemarin malam Abang ke kamar nenek lihatin ini," ucapnya tanpa rasa bersalah.


Arga menggelengkan kepalanya dan melihat gambar yang Gara pegang.


"Bagus juga. Siapa yang buat?"


"Abang, dong. Dibantu Mama." Senyum Gara mengembang, seakan dia tidak ingat lagi bagaimana tadi pagi saat dia menangis di kamarnya.

__ADS_1


"Lain kali jangan teledor. Kalau sudah simpan lagi di tempatnya, atau mau tidur cek lagi apa yang gak ada di tas, jadi gak akan nangis kayak tadi pagi," peringat Arga. Gara hanya tersenyum, terlihat sedikit merah di pipi gembulnya.


"Iya, Papa. Abang ngerti," ucapnya.


Gara menatapku yang berbaring di atas kasur, terlihat keningnya mengerut. "Mama kenapa? Mama sakit?" tanya Gara padaku. Dia mendekat dan menempelkan punggung tangannya di keningku. Nyama sekali merasakan hangat sentuhan anak itu.


"Enggak, cuma lagi lemes aja. Butuh istirahat," jawabku. Tidak ingin membuat Gara khawatir.


"Pasti karena Mama tadi antar jemput Abang sekolah, ya? Jadi Mama capek?" tanyanya dengan nada pelan. Aku menggelengkan kepala. Wajah Gara terlihat sedih kali ini.


"Gak juga, Mama gak kenapa-kenapa, kok. Cuma tadi kayaknya Mama kebanyakan buka jendela mobil jadi sedikit pusing. Banyak angin," dustaku.


"Mama jangan sakit, dong. Kalau Mama sakit yang urusin Abang siapa? Yang nemenin Abang belajar siapa? Kasihan juga dedek bayinya," ucapnya sambil terus menggerakkan tangannya di keningku. Aku tersenyum dan menarik kepalanya, mencium pipi kiri dan kanan milik Gara.


"Iya, sembuh kok. Kan sudah dapat pijatan dari Abang. Sembuh sudah ini juga. Ganti baju dulu, gih. Terus makan siang. Nanti tidur, istirahat." Gara menganggukkan kepalanya, dia berdiri dan berlari keluar kamar tanpa menutup pintu.


"Terima kasih ya, Yu," ucap Arga saat Gara baru saja keluar.


"Eh, terima kasih untuk apa?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Untuk semua yang telah kamu berikan untuk kami, untuk Gara," ucap Arga lagi.


"Jangan seperti itu. Sudah jadi tugasku untuk melakukan yang terbaik untuk kalian. Justru aku yang harus berterima kasih sama kamu dan Gara. Kalian sudah menjadi hal terindah yang aku dapat di dalam hidup aku." Tanpa terasa, air mata ini mengalir. Bahagia mendapatkan kedua laki-laki yang sangat perhatian sekali padaku. Sungguh jika memang ingin dibandingkan, bukan untuk perbandingan dengan masa lalu. Semua yang terjadi di masa sekarang jauh lebih baik daripada masa dulu.


Arga mengalihkan duduknya di sampingku, dia mendekat dan mencium keningku dengan lembut, satu tangannya mengelus perut.


"Dia gerak," bisik Arga dengan senyum bahagia. Aku hanya mengangguk, sama tersenyum pula seperti dirinya.


Tangan Arga kini masuk ke dalam pakaianku, mengelus secara langsung perutku dengan kulit telapak tangannya yang halus. Gelenyar aneh dan menyenangkan aku rasakan, seakan sebuah setruman yang membangkitkan hasr*t.


Arga diam, mencoba merasakan dan menemukan gerak kembali di dalam sana. "Bergerak lagi, Yu." Senyuman itu mengembang sempurna. Terlihat bahagia sekali wajah Arga. Aku diam-diam menahan diri. Entah kenapa sentuhan Arga di sana membuatku ingin.


"Pa," panggilku. Arga menolehkan kepalanya, aku malah melempar pandanganku ke arah lain. Malu.


"Anu ... itu ...."


"Ada apa?" tanya Arga.


Duh, aku bingung. Apakah aku harus meminta duluan?

__ADS_1


__ADS_2