Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
194. Gombal Terus!


__ADS_3

Gara kembali melanjutkan tidur setelah selesai Solat Subuh, dia tidak mengganti pakaiannya sama sekali. Dengan cepat kembali masuk ke alam mimpi. Terlihat sekali dia terlelap tidak lama setelah merebahkan dirinya. Aku bangga sekali dengan anak ini, dia tidak sulit dibangunkan, tidak protes tidurnya terganggu karena harus melaksanakan kewajibannya meski masih jauh dari keharusan dia, di mana dia wajib melaksanakan solat di usia lima belas tahun untuk anak laki-laki.


Kening Gara tidak luput dari sentuhan bibirku, penghargaan untuk dia yang sangat patuh sekali. Gara sedikit bergerak di tidurnya, tapi tidak sampai terbangun karena ulahku.


"Kita kembali ke kamar?" tanya Arga, tangannya melipat sajadah yang tadi Gara pakai.


"Iya," ucapku. Kami kembali ke kamar setelah selesai membereskan tempat kami solat tadi.


Arga menepuk sisi tempat tidur setelah aku melipat mukena ku. Aku menurut, duduk di hadapannya. Dia mendekat dan merebahkan dirinya di pangkuanku.


"Eh, aku mau turun siapkan sarapan," ucapku. Ini sudah jam lima pagi, sudah waktunya untuk memasak dan beberes.


"Ada asisten, jangan kamu merepotkan diri, nanti aku ketagihan," ucapnya.


"Sudah, di sini saja. Elus kepalaku. Aku mau bermanja sama kamu," ucapnya lagi, dia mengambil tanganku dan menempatkannya di kepalanya.


"Ya ampun. Suamiku ini manja sekali," selorohku.


Arga tidak menanggapi, dia hanya menutup kedua matanya dan memelukku dengan erat. Hembusan napasnya terasa hangat di perutku.


"Aku senang sekali," ucapnya dengan pelan.


"Menikah dengan kamu adalah mimpiku dulu. Kamu tau, Yu? Saat kita pacaran dulu, aku selalu berdoa agar kita dipertemukan dengan keadaan yang sangat baik dan bahagia. Aku berdoa ingin menjalani hidup sampai akhir hayatku dengan kamu. Mungkin aku egois, ya namanya juga manusia. Aku ingin hidup bahagia, tapi ... karena kejadian itu kita harus berpisah dan aku harus menikah dengan orang lain, begitu juga dengan kamu. Kamu harus menikah dengan laki-laki lain. Aku merasa bersalah sekali sama kamu, Yu. Kamu pasti dulu kecewa dengan aku, kan?" tanya Arga. Dia mengungkit luka lama yang tidak ingin aku ingat lagi.


"Kenapa kamu tanya lagi? Kamu juga sudah tahu jawabannya kan?" tanyaku balik. Arga tersenyum, terdengar tawa kecil setelah itu.


"Aku hanya merasa bersalah sekali. Sekarang kita sudah bersama dengan keadaan kita ini, kelebihan dan kekurangan kita masing-masing. Maukah kamu hidup denganku sampai akhir hayat?" tanyanya lagi, kepalanya dia putar, menatap diriku dengan penuh kelembutan.


Aku tersenyum, menepuk kening Arga sedikit keras. "Gak perlu kamu tanya dan minta, aku sudah jadi istri kamu. Pasti akan temani kamu sampai kapanpun. Ya ... selama kamu bisa aku percaya dan juga gak macam-macam di luaran sana," ucapku dengan nada yang tegas. Kening Arga mengerut, dia bangun dengan cepat, terllihat di wajahnya itu tidak terima dengan apa yang aku katakan.


"Hei, kok kamu bicara begitu? Itu artinya kamu gak percaya sama aku?" tanyanya dengan nada tidak suka.


"Aku pernah di khianati. Rasanya sakit sekali. Jika pun kamu setia, tapi banyak wanita di luaran sana yang masih mengharapkan kamu, Ga," ucapku dengan lirih. Aku tidak berani menatap wajahnya. Takut dia marah sebenarnya, tapi tidak kuasa juga menahan sesak saat mengingat di pesta resepsi kami beberapa hari yang lalu, banyak wanita yang masih menatap Arga dengan tatapan yang penuh harap. Apa lagi dengan gadis yang bernama Letta, dengan jelas dan sengaja memeluk dan mencium pipi Arga di depan mataku. Aku cemburu, ku akui itu!


Arga semakin mendekatkan dirinya padaku. Dia menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Mengusap sudut air mataku yang tidak aku sangka telah basah.


"Jangan kamu berpikiran yang buruk, Yu. Memang banyak wanita yang inginkan aku, tapi tidak begitu denganku. Aku orang yang setia, bahkan mungkin jika Haifa tidak meninggal aku akan jalani hidup dengan dia. Apalagi dengan adanya kamu di sisiku."


"Aku bukan berkata seperti ini hanya untuk menyenangkan hati kamu saja, tapi ini jujur dari hatiku yang paling dalam, Yu. Aku sangat sayang dengan kamu, tidak akan aku kecewakan kamu. Kalau aku melakukan itu, nyawaku ada di tangan kamu," ucapnya dengan nada yang bergetar. Tatapan matanya sangat tajam sekali sehingga mengunci pandanganku, tidak bisa teralihkan dari dia.


Arga mengambil ku ke dalam pelukannya. Merasakan gemuruh di dalam dadanya yang tidak karuan. Napasnya juga terdengar dengan sangat jelas, naik turun karena emosi.

__ADS_1


"Please, jangan samakan aku dengan dia. Aku gak mau kamu punya pemikiran seperti itu, Yu." Pintanya. Aku mengangguk, mengusap air mata yang telah mengalir dengan bebas, meluncur membasah ke jilbabku.


Apakah aku harus belajar untuk percaya dengan laki-laki ini? Apakah dia benar tidak akan mengecewakanku?


"Jangan menangis, Yu. Aku sakit kalau lihat kamu sedih seperti ini. Jangan samakan aku dengan yang lain. Oke?" pintanya lagi. Aku mengangguk.


Ya, aku harus belajar percaya dengan dia. Dia adalah suamiku, meski mungkin tidak harus seratus persen karena aku juga harus menjaga diriku dari kemungkinan lain, tapi setidaknya aku harus sedikit menambah kadar percayaku kepada laki-laki ini. Semoga saja memang dia laki-laki yang tepat yang bisa membahagiakanku.


"Aku mau masak saja," ucapku mendorong dadanya. Arga menggelengkan kepalanya.


"Sudah ada yang akan memasak," ujarnya.


"Aku ingin menaikkan moodku, Ga. Lebih enak kalau bisa mengalihkan pikiran buruk ku dengan kesibukan. Biar aku gak memikirkan hal yang buruk, memikirkan hal yang lain." pintaku.


Arga menganggukkan kepalanya, dia mengelus kepalaku dengan pelan.


"Soal tadi, aku minta maaf. Bukan–"


"Sudah lah. Aku ngerti kok. Pengalaman kamu yang buruk memang mengajarkan untuk berhati-hati. Aku paham. Aku juga belajar dari pengalamanku yang dulu, bahwa mempertahankan apa yang menjadi milikku memang harus aku lakukan agar aku tidak menyesal pada akhirnya."


"Jadi, kamu nyesel karena tidak bisa mencintai Haifa?" tanyaku lagi.


Duh. Aku bodoh! Kenapa juga aku menanyakan hal ini. Apakah aku juga masih cemburu dengan orang yang sudah tiada?


"Gak tau juga. Mungkin sedikit menyesal, merasa bersalah juga, karena tidak pernah memberikan dia hal yang baik. Padahal apa yang dia berikan kepadaku sudah yang maksimal, termasuk dengan adanya Gara dalam hidup ku," ucapnya dengan pelan.


"Aku ... aku juga akan jadi yang terbaik. Bolehkah aku melebihi dia?" tanyaku menatapnya. Lagi-lagi dia tersenyum dan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Tentu, meskipun kamu tidak meminta dan tidak berbuat hal seperti itu, kamu selalu menjadi yang terbaik buat aku," ucapnya, dia mengambil tanganku dan mencium punggung tangan dengan lembut.


"Kamu mau masak, kan? Ayo, aku bantu," ucapnya, lalu bangkit dan menarik tanganku.


"Eh, kamu bukannya mau lanjut tidur?" tanyaku.


"Gak ah, lebih baik menyenangkan hati istri dengan memasak bersama. Sudah lama juga gak masak," ucapnya. Aku tersenyum mendengar ungkapannya. Kami turun bersama.


Rasanya plong sekali setelah pembicaraan tadi. Ah, mungkin salahku juga, harusnya aku tidak mengungkit soal tadi yang mengakibatkan mood kami turun. Selama dalam perjalanan menuju ke daur, Arga tidak melepaskan tanganku sama sekali.


Di dapur sudah ada asisten yang sedang menyapu, dia menyapa saat melihat kami dan terlihat bingung.


"Mbak, biar kami yang akan masak," pintaku padanya.

__ADS_1


"Eh, tapi Bu ...."


"Mbak libur masak pagi ini, biar Ibu Ayu yang masak sarapan untuk kami. Nanti Mbak masak saja untuk yang lain ya." Kini Arga yang angkat bicara. Meski wajahnya terlihat tidak nyaman, tapi asisten yang aku perkirakan usia kepala empat itu mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.


"Mau masak apa?" tanya Arga saat aku melihat isi di dalam kulkas.


"Gara suka makan apa?" tanyaku padanya.


"Kecuali sayuran hijau, wortel dia masih suka," ucap Arga.


"Kamu gak tanya aku mau makan apa?" tanyanya dengan nada sedikit protes.


Aku menoleh padanya, tersenyum dengan manis. "Suami tersayangku, apa yang suamiku mau makan pagi ini?" tanyaku dengan nada yang lembut. Arga mendekat ke arahku.


"Aku maunya sih, makan kamu," bisiknya dengan lembut.


Aku segera menjauhkan diri dari dia, wajah ini rasanya panas mendengar ucapannya yang seperti itu.


"Aku serius, kenapa kamu jawabnya bercanda?" tanyaku padanya.


Arga terkekeh pelan. "Aku juga serius, kok!" ucapnya dengan masih tertawa kecil. Kalau saja kamu gak luka sudah aku makan sedari kemarin," bisiknya lagi.


Ah, panas. Rasanya ingin masuk saja ke dalam freezer.


"Arga hentikan! AKu tanya serius, bukan main-main," ucapku padanya.


"Aku benar serius, loh. Memangnya kamu kira aku bercanda?" tanyanya dengan tatapan tajam.


Aku melotot padanya. Dasar! Aku ingin tahu dia makan apa malah bercanda, sih!


Arga menarikku dan menangkap pinggangku, melabuhkan dagunya di pundak. "Aku gak rewel kok, makan apa aja boleh. Apalagi kamu yang masak pasti akan sangat enak meski cuma telor ceplok," ujarnya.


"Apa kamu dan gara punya alergi?" tanyaku. Arga menggelengkan kepalanya.


"Kalau Gara tidak ada. Kalau aku alergi dengan wanita selain istriku," ucapnya.


Ye, gombal terus!


"Aku serius, Sayang." Mulai harus ingat dengan panggilan ini, bukan?


"Aku juga serius," ucapnya lagi, memeluk semakin erat diriku yang mulai merasa panas karenanya.

__ADS_1


__ADS_2