Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
286. Dewi


__ADS_3

"Ya jangan dijual juga, Man. Kita akan tinggal di mana kalau sampai rumah ini dijual?" tanya ibu kini dengan nada yang tidak terima.


"Ngontrak," ucapku.


"Ibu gak mau! Sempit kalau ngontrak, Man."


"Daripada Ibu masuk penjara!" ucapku menyela. Ibu terdiam dengan kesal.


"Sudah, pokoknya Hilman gak mau ya kalau sampai Ibu mendesak Hilman buat pinjam sama Ayu atau suaminya. Hilman malu, Bu. Hilman akan cari pinjaman uang dari tempat lain, tapi kalau sampai gak bisa, kita terpaksa jual saja rumah ini. Lagian, di sini juga sudah gak nyaman. Lihat saja kita sudah jadi perbincangan orang sedari dulu, apalagi sekarang kalau orang sini tau Ibu melakukan penipuan, mau ditaruh di mana muka kita, Bu?" tanyaku dengan kesal. Aku tidak mau mendengar lagi jawaban ibu yang membuat emosiku semakin meningkat. Ku ambil Vita dan meninggalkan ibu di sana. Biar saja ibu merenung atas kesalahannya sekarang ini. Jujur aku capek dan juga malu dengan tetangga sekitar.


Vita aku bawa ke kamar, memakaikannya jaket tebal dan juga kaos kaki serta sepatu, tidak lupa dengan topi rajut hadiah ulang tahun Vita dari Dewi beberapa bulan yang lalu. Akan aku ajak dia pergi ke luar untuk mencari angin. Penat rasanya tinggal di rumah dengan segala pemikiran seperti ini. Hidup banyak hutang membuat aku rasanya tercekik, apalagi dengan ancaman akan membawa polisi segala.


"Kamu mau ke mana, Man?" tanya ibu saat aku baru saja keluar dari kamar.


"Pergi sebentar," ucapku dan langsung pergi sebelum ibu bertanya lagi.


Vita terlihat sumringah saat aku menyalakan motor, dia melompat-lompat di dalam gendongan tanda dia senang dan seakan mengerti jika kami akan pergi.


"Ayo, Vita. Kita pergi," ucapku berusaha tersenyum padanya. Vita berteriak dengan suara khas-nya. saat aku mulai menjalankan motor keluar dari gerbang rumah.


Aku tidak tahu mau kemana, rasanya ingin pergi sejenak untuk menenangkan hati ini. Akan tetapi, jelas tidak bisa abai dengan kehadiran Vita yang aku ajak, Vita tidak boleh kena angin lama-lama. Jaket yang dia pakai meski tebal juga tidak bisa menjamin angin nakal yang bisa saja membuat putriku sakit dan tidak nyaman.

__ADS_1


Ku putuskan untuk pergi ke taman yang berada tidak jauh dari rumah. Hanya berjarak sepuluh menit saja menggunakan motor, biasanya taman itu masih ramai dengan beberapa orang yang menikmati malam, terutama banyak anak muda yang sedang keluar untuk menikmati malam Minggu, juga aku sering melihat beberapa keluarga kecil pergi ke taman itu hanya untuk menikmati jajanan yang ada di sana. Beruntung malam ini langit sedang bagus sehingga tidak ada awan hitam di atas sana.


Vita terlihat sangat senang saat aku membawanya pada sebuah bangku di sana. Dia melihat ramainya orang-orang yang ada di sini. Beberapa hilir mudik di depan kami. Mata Vita berbinar dengan bibirnya yang tersungging senyuman.


Aku memperhatikan keluarga kecil yang ada tidak jauh di depanku, sedang duduk bersama di atas rumput dan bermain dengan anak mereka, ku kira usianya juga tidak jauh dengan Vita. Mereka terlihat sangat bahagia. Beruntung sekali, anak itu memiliki kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya, sedangkan Vita ....


"Aaahh!" Suara Vita menyadarkanku dari lamunan. Vita bergerak tidak beraturan di atas pangkuanku, menunjuk ke arah balon gelembung yang terbang melewati depan kami. Dia terus berusaha dan menggapaikan tangan, seakan ingin memecahkan gelembung yang ada di depannya.


"Vita mau?" tanyaku. Dia tentu tidak menjawab, belum bisa berbicara di usianya yang sudah lebih dari satu tahun. Berjalan pun Vita masih belum bisa karena sakit yang dia derita membuat tumbuh kembangnya jadi sedikit terhambat. Di saat anak lain sudah mulai bisa berjalan di usia satu tahun, Vita masih belum bisa berdiri sama sekali. Bahkan, kini di usia tujuh belas bulan, dia baru bisa berdiri, itu pun masih harus berpegangan dan sering terjatuh. Vita juga masih belum lancar berbicara.


"Assalamualaikum," sapa seseorang terdengar dengan jelas. Aku menolehkan kepala menatap seseorang yang mengucap salam. Terlihat seorang wanita dengan pakaian rapi menggandeng seorang anak kecil laki-laki di hadapanku, tersenyum lebar.


"Vita di sini juga?" sapa wanita itu yang tidak lain adalah Dewi kepada Vita.


"Iya, nih. Tadi kita dari rumah sakit, mamanya Cio sudah lahiran. Aku di suruh jagain Cio sampai mamanya pulang dari rumah sakit. Kebetulan Cio pengen kesini, malah ketemu Vita," ucap Mbak Dewi sambil mencubit pipi Vita. Vita mengulurkan kedua tangannya meminta digendong dan segera Dewi ambil dari pangkuanku. Terlihat sekali Vita sangat dekat dan juga akrab dengan Dewi, beda rasanya jika dengan ibu, Vita termasuk cuek dengan neneknya itu. Tidak seantusias sekarang ini.


"Oh, Alhamdulillah. Laki-laki atau perempuan adiknya?" tanyaku, senang rasanya jika mendengar ada yang telah melahirkan.


"Perempuan, Man," jawabnya. Aku menggeserkan tubuhku. "Mau duduk?" tanyaku pada Dewi.


"Eh, iya. Cio sini, duduk." Dewi menepuk tempat di tengah antara kami. Anak laki-laki berusia sekitar empat tahun itu menurut dan duduk. Mainan bola dia mainkan, menyala, membuat Vita terlihat sangat antusias dan mengulurkan tangan hendak meraihnya.

__ADS_1


"Vita mau?" tanya Dewi, lalu dia memanggil salah satu pedagang mainan yang ada di dekat kami. Laki-laki itu datang sambil memainkan bola menyala di tangannya, terbuat dari karet transparan warna warni dengan tali elastis melingkar pada jari tengahnya, yang saat dihempaskan dan ditarik maka akan mengeluarkan cahaya kelap kelip yang indah.


Aku mengeluarkan uang dari dompetku. "Gak usah, Man. Aku yang bayarin," ucapnya seraya menyingkirkan tanganku yang sudah terulur untuk membayar.


"Eh, jangan. Biar aku yang bayar, Mbak."


"Sudah, ini hadiah dari aku buat Vita," ucapnya lagi, dengan segera dia menyodorkan uang pas seharga mainan kepada penjual tersebut. Vita terlihat sangat senang sekali dengan mainan baru yang dia dapatkan, memukulnya sehingga mengeluarkan cahaya. Aku senang melihatnya tertawa dengan keras.


"Terima kasih, Mbak."


"Sama-sama," ucapnya.


"Kalian cuma berdua? Gak sama neneknya Vita?" tanya Dewi.


"Enggak, ibu ada di rumah saja," jawabku singkat, Dewi hanya menjawab 'oh' saja, setelah itu kami hanya diam dan lebih banyak memperhatikan Vita dan Cio yang sedang bermain bersama menunjukkan mainan masing-masing.


"Mbak, makasih ya sering aku repotkan untuk menjaga Vita," ucapku padanya. Tidak enak hati sebenarnya saat harus menitipkan Vita dengan dia.


"Gak apa-apa, kok. Aku malah seneng Man, Vita ada di rumah. Gak sepi kalau ada temannya," ucap Dewi sambil tersenyum.


"Aku jadi tertolong kalau ibu sedang rewel," ucapku malu. Dewi hanya tertawa sambil mengajak Vita memainkan bola itu.

__ADS_1


"Haha, mungkin nenek Vita lagi capek kali. Apalagi kalau Vita nangis, kan susah berhenti nangisnya. Ya kan, Vit?" tanya Vita di kalimat terakhir pada putriku dengan nada yang dibuat gemas, yang lalu dijawab teriakan Vita. Aku tersenyum senang karena Dewi lebih sabar menghadapi Vita dari pada ibu.


Aku melirik kepada Dewi, melihat interaksi dengan Vita membuat aku berpikir sesuatu. Apakah Dewi bersedia jadi ibunya Vita?


__ADS_2