Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
161. Berkunjung Ke Pusara Haifa


__ADS_3

Arga mengantarku pulang pada pagi menjelang siang, setelah aku mendapatkan perawatan dari dokter. Tiga hari lagi cek kontrol kembali untuk melihat keadaan jahitan. Itu tepat di hari pernikahanku. Dokter mengatakan jika aku juga boleh datang sehari sebelumnya saja.


"Yu, besok pagi aku jemput, ya."


Aku mengernyitkan keningku. Pasalnya tidak ada urusan lain besok dengan Arga.


"Jemput? Mau kemana?" tanyaku.


Arga menolehkan kepalanya dari jalanan di depan.


"Aku ingin pergi ke makam Aifa, ibunya Gara. Ingin mengabarkan hal baik saja," ucap Arga. Lirikannya terlihat takut-takut.


"Iya, boleh. Jam berapa? Biar aku bersiap-siap," jawabku. Wajah Arga yang tadi terlihat sedikit tegang dan tidak enak menyunggingkan senyuman.


"Kamu gak marah aku ajak ke sana?"


"Marah? Kenapa juga harus marah?" tanyaku bingung.


"Ehm ... ya ... karena ...." Ucapan Arga terhenti sejenak. Ku tatap dia dalam-dalam. "Karena dia ibunya Gara," ucap Arga lirih.


Aku tertawa kecil. "Maksud kamu bicara begini tuh apa? Takut aku marah karena kamu bawa aku ke sana? Takut aku cemburu gitu? takut aku gak suka gitu?" tanyaku. Arga menganggukkan kepalanya pelan.


"Gak lah, kenapa juga aku harus cemburu sama orang yang sudah tidak ada. Lagi pula, dengan adanya Aifa di dalam hidup kamu dulu, bukannya bagus?" Arga mengernyitkan keningnya.


"Dengan adanya dia aku jadi punya Gara. Mungkin saja terdengar jahat aku bicara seperti ini, tapi dengan adanya Haifa dan takdir yang dia punya, bukannya telah membuat aku jadi wanita yang sempurna?" tanyaku. Arga mengalihkan tatapannya padaku sekilas. Dia tersenyum dan mengatakan terima kasih.


"Allah sudah menakdirkan hal seperti itu, manusia hanya tinggal menjalani dan menerima saja," ucapku. Arga tersenyum, dia mengulurkan tangannya dan mengusap kepalaku dengan lembut.


"Terima kasih, Yu. Gak salah aku pilih kamu untuk aku dan juga Gara."


Aku pun sama tersenyum, rasanya bahagia sekali dekat dengan laki-laki ini. Meski iya dia terkesan jahat karena tidak pernah mencintai istrinya, tapi harus bagaimana membawa perasaan? Tidak bisa dipaksakan sama sekali. Pun itu yang aku rasakan dulu saat Dokter Wira dengan tulusnya menyatakan padaku bahwa dia mencintaiku. Aku tidak tahu harus bagaimana karena merasa bersalah jika menerima dia padahal hati ini tidak ada getaran sama sekali. Bukankah jika dipaksakan tidak akan baik juga? Urusanhati hanya masing-masing yang tahu.


"Hei, aku tanya kok malah ngelamun?" tanya Arga menarik aku dari dalamnya pemikiranku.

__ADS_1


"Eh, apa?" tanyaku gugup.


"Mikirin apa?" Aku menggelengkan kepalaku.


"Kamu tadi tanya apa?"


"Aku tanya, kamu mau beli makanan?" Senyumnya mengembang, tangannya menunjuk ke arah penjual makanan yang berjajar di tepi jalan.


"Tidak, aku lagi gak mau makan apa-apa," jawabku.


***


Keesokan paginya, udara sangat cerah dengan hawa yang masih terasa dingin. Cahaya matahari cukup terik, tapi belum bisa memberikan kehangatan pada tubuh yang sedikit meremang karena angin yang bertiup di luaran sana. Aku menunggu Arga di dalam rumah.


"Yakin mau keluar, Yu?" tanya Ibu, terlihat khawatir di wajahnya.


"Iya, Bu. Arga sedang di jalan."


"Pengantin itu seharusnya gak boleh keluar rumah sebelum hari pernikahannya loh."


Aku sudah mengajak Ibu serta, bilamana Ibu ingin ikut, tapi Ibu tidak bisa pergi takut jika saudara dan kerabat kami datang dari kampung hari ini.


Tidak lama menunggu, Arga datang bersama dengan Gara. Anak itu tersenyum sangat lebar, mencium punggung tanganku dan juga memeluk Ibu. Ibu sangat senang sekali degan kedatangan Gara. Senyumnya sangat lebar, berkali-kali mengatakan bahwa Gara adalah cucu Ibu yang paling tampan.


Kami pergi bersama dengan sopir. Tidak butuh waktu yang lama, dengan jalanan yang lancar di pagi ini, hanya butuh waktu satu setengah jam untuk kami bisa sampai di pemakaman umum di ujung kota. Arga membawaku ke sebuah makam dengan tampilan yang sangat cantik, melebihi nisan yang ada di sekitarnya.


"Ibu!" Gara mendahului kami berjalan dan kemudian berjongkok di samping nisan ibunya. Tangan kecilnya langsung menaburkan bunga mawar putih di atas tanah makam sang ibu. "Mama, ini ibu Garrlla!" seru anak itu sambil tersenyum, tidak menghentikan laju tangannya yang terus menaburkan sisa kelopak bunga mawar putih di sana. Aku berjongkok di samping Gara dan memperhatikan nama yang tertera di sana. Baru aku tahu jika Haifa memiliki usia yang jauh di bawah Arga. Beda tujuh tahun.


Arga pun sama, berjongkok di sisi tubuh Gara yang lain, dia mengusap nisan dengan ukiran nama yang indah. Sebentar terdiam, lalu terdengar suara Arga yang dengan ucapan salam terlebih dahulu.


Tidak lama kami di sana, terlihat Arga sedikit sedih di wajahnya saat tadi dia bicara dengan nisan Haifa. Dia mengabarkan jika kami akan menikah dua hari lagi dan Gara juga sudah menemukan sosok ibu yang sangat sayang dengan dia. Aku hanya diam, mendengarkan saja Arga yang berbicara. Tidak ada hak aku bicara di sini, apa lagi dengan perasaan Arga yang tadi sedih dan sendu. Mungkin saja Arga merasa bersalah juga dengan sikapnya selama ini, sempat aku dengar tadi dia bilang seperti itu.


Kami pulang setelah hampir tiga puluh menit berada di sana.

__ADS_1


***


Sejak semalam aku tidak bisa tidur mengingat hari ini adalah hariku yang paling penting. Malam terakhir aku tidur bersama dengan Ibu karena malam-malam selanjutnya aku tidak akan bisa lagi tidur dengan beliau. Ibu tidak henti menggodaku yang resah semenjak sore hari. Entah lah, ini bukan pengalaman pertama, tapi aku sangat gugup sekali malam ini. Bagaimana kalau Arga tidak bisa mengucap akad dengan baik? Bagaimana kalau aku gugup dan malah membuat hal yang memalukan di depan para tamu? Meskipun dulu aku tidak ada masalah soal kegugupan saat menikah bersama dengan Mas Hilman.


Luka yang ada di belakang kepalaku masih menunggu kering, terkadang terasa sakit jika aku menggerakkan kepala dengan sedikit keras, harus perlahan saja. Kemarin aku sudah cek ke dokter bersama dengan ibu, tidak ada masalah, hanya membersihkan luka dan mengganti perbannya saja. Juga dokter bilang tidak boleh terkena air, padahal kulit kepalaku sudah terasa lengket, ingin sekali rasanya keramas. Ibu hanya membantu sebisanya, mengelap rambutku dengan perlahan menggunakan handuk setengah basah, menghindari area yang luka sehingga aku merasa lebih ringan dan juga nyaman.


"Duh, yang mau jadi pengantin. Senyum dong, kok tegang gitu sih?" Ina datang dan bersembunyi di belakang MUA yang Arga datangkan ke rumah.


Aku memang sedang tegang sekarang ini. Bagaimana tidak, MUA terkenal sedang merias wajahku. Jadi berdebar, bagaimana aku jadinya setelah ini?


"Apa sih, Na. Kamu datang-datang kok ganggu! Sana ke dapur sama Budhe bantuin di belakang!" titah Bibi. Ina merengut protes dengan perintah ibunya.


"Nanti atuh, Bu. Ih! Ina teh penasaran pengen lihat cara nge-make up-nya si Teteh MUA ini, ih!" ujar Ina kesal. Kulihat Ina memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh MUA ini pada wajahku. Terlalu banyak aplikasi yang dia pasangkan, sehingga membuat wajahku serasa tebal. Ah, aku memang jarang sekali berdandan. Jika pun harus merias diri hanya memakai make up standar saja, tidak memakai yang berlebihan sehingga menghabiskan banyak waktu di depan cermin.


"Ih, Mbak Ayu, makin cantik, deh." Ina mengangkat kedua jempolnya dengan senyum yang merekah indah, manis sekali. Aku tidak bisa tersenyum, karena MUA kini sedang mengusap bibirku dengan lipstik.


"Aduh, Ina. Kaditu atuh, lah. Ngaheurinan kamar!" (Aduh, Ina. Kesana kamu. Membuat sesak kamar saja!) Bibi mulai marah, dan itu sukses membuat Ina menyingkir dan tidak lagi mengganggu di sini.


Bibi datang kemarin bersama dengan beberapa kerabat yang lain. Aki -kakek dari pihak Bapak- juga hadir dalam acara sakral hari ini.


Tak berapa lama ibu datang, membawakan aku makanan serta minum. Ingat jika setelah tadi bangun tidur dan mandi aku belum menyentuh sarapan. Gugup membuat aku tidak ingin makan sama sekali.


Ibu menyuapi aku memakan roti, paksakan saja kata ibu meski aku tidak merasakan lapar. Acara hari ini adalah akad yang akan dilaksanakan di masjid tidak jauh dari rumah ini. Ibu yang meminta acara akad dilakukan di sini, agar masyarakat sekitar bisa ikut merasakan kebahagiaan, setelah itu dilanjut acara prasmanan untuk tetangga sekitar, baru besok siang acara resepsi dilakukan di hotel untuk para tamu undangan, tetangga pun jika ingin menghadiri acara di hotel besok diperbolehkan juga.


Dadaku berdebar dengan sangat kencang. Aku sangat gugup ketika sudah memakai pakaian kebaya yang aku coba beberapa hari yang lalu, Mbak Yeni sangat berhati-hati sekali saat memasangkan kerudung di kepalaku, sebelumnya dia memasangkan sesuatu di belakang kepala, entah apa, katanya untuk melindungi area kepala yang masih luka agar memiliki ruang dan tidak tertekan oleh kerudung.


"Kalau sakit bilang saya, ya," ujar Mbak Yeni. Pelan dia memasangkan kerudung itu dan melilitkannya di leher.


Lebih dari satu jam aku dirias dan memakai kebaya hingga selesai dan bersiap untuk keluar.


***


Nah loh, Ayu mau akad hari ini, jangan lupa siapkan amplop yang tebel ya ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


Jangan lupa juga datang nanti ke akadnya, terus prasmanan. Ada sate sama asinan ๐Ÿคค๐Ÿคค. Makanan yang selalu Othor nantikan kalau sedang ke kondangan๐Ÿ˜‹๐Ÿ˜‹


__ADS_2