
Azka sudah tidak menangis lagi, hanya sesekali saja rewel dan tidak mau lepas dari gendongan. Entah itu gendonganku atau ibu. Azka tidak mau dengan ayahnya sama sekali. Sakit pundak ini, pinggang juga. Lemas rasanya.
Gara, saking khawatirnya tidak mau kembali ke kamar. Ingin menemani dan memantau keadaan Azka di malam ini, katanya supaya bisa menenangkan Azka saat menangis nanti, meski aku sendiri tidak yakin karena sekarang saja matanya sudah lima watt seperti itu. Terantuk-antuk di atas tempat tidur sambil memeluk bantal.
Aku dan Arga tidak bisa menolak keinginan dia. Betapa sayang sekali Gara pada Azka.
"Coba sini, deh. Kali aja Azka mau sama Papa," ujar Arga meminta Azka. Dia berdiri dan mengulurkan tangannya. Akan tetapi, Azka menepis tangan Arga dan tidak mau beralih dari gendonganku. Azka sampai berteriak dengan suara pendek 'Ah' sambil menyingkirkan tangan besar ayahnya.
"Sudah, dia gak mau. Biarin aja," ucapku pasrah. Azka memelukku dengan erat, tidak mau sama sekali dengan Arga.
__ADS_1
"Kaka sama Papa, ya?" tanya Arga sambil terus membujuk Azka. Lagi-lagi tangannya ditepis oleh Azka dan berteriak sampai Gara terbangun, tapi kemudian tertidur kembali.
"Sudah, Pa. Azka gak mau."
Arga pergi ke kasur, mengambil mainan kesukaan Azka dan mencoba kembali membujuk anak ini. Tidak berhasil. Azka semakin erat memelukku.
"Aku kasihan sama kamu, Ma. Kamu lagi hamil, loh," ucap Arga dengan khawatir.
"Bujuk biar tidur aja, yuk. Biar bisa rebahan di kasur," ucapnya lagi. Aku mengangguk, menurut, karena aku juga lelah. Ini sudah hampir jam sebelas malam.
__ADS_1
Perlahan aku membaringkan Azka sambil membujuknya. Terpaksa Arga mengiming-imingi Azka dengan hp. Nyanyian khas dari video anak-anak terdengar dari sana.
Azka menjadi tenang, matanya terfokus pada layar datar di depannya. Demi membuat aku bisa beristirahat, Arga memegangi hp-nya tinggi-tinggi. Memang tidak baik mengajari hal seperti ini pada anak kecil, tapi jujur saja aku sudah tidak kuat lagi menggendong Azka.
Selesai dengan Azka yang kini tenang, aku meminta Arga untuk memindahkan Gara ke kamarnya, takut jika tidurnya terganggu, dan lagi aku juga mendengar kalau anak kecil sakit bisa menular, entah itu benar atau tidak, tapi aku tidak mau Gara terkena sakit juga.
Tak lama Arga kembali ke kamar. "Aku sudah pindahkan Gara. Kamu baiknya tidur. Azka dah ngantuk kayaknya," ucap Arga. Aku membuka kancing pakaian, mengeluarkan buah besar di dadaku, memberikan nutrisi pada Azka yang juga sebagai obat bius untuknya. Segera Azka lahap dengan mulutnya. Semoga saja jika dia kenyang akan cepat tertidur. Jika sudah seperti ini rasanya mengantuk sekali, baik menidurkan Azka di saat siang pun sama. Tidak tahan rasanya jika tidak ikutan tidur.
...***...
__ADS_1
Pagi ini Azka sudah sembuh, semoga saja tidak terserang demam lagi nanti, badannya sudah dingin daripada kemarin. Entah karena obat, atau baluran alami bawang dan asem, tapi aku berucap syukur karena kini panasnya sudah reda.
Rencana, kami akan pulang lusa. Akan tetapi, masih tetap saja harus menunggu hingga Azka sembuh. Aku tidak yakin jika dengan perjalanan panjang nanti, apakah Azka akan anteng?