
Pesta ulang tahun telah selesai. Sangat meriah menurutku untuk ukuran anak seusia itu. Mungkin juga karena aku tak pernah menghadiri acara ulang tahun anak yang seperti ini.
Ah, jadi malu rasanya dengan hadiah yang aku bawakan. Melihat beberapa hadiah yang dibuka oleh anak Mbak Wanda tadi membuat aku merasa menyesal dengan hadiah mobil remote yang aku beli seharga lima ratus ribuan.
"Mbak Ayu terima kasih banyak, ya sudah meluangkan waktu datang kesini," ucap Mbak Wanda mengantarkan ku hingga ke teras.
"Sama-sama, Mbak. Terima kasih juga Mbak Wanda sudah mengundang saya. Ini menghibur sekali. Saya senang menghadirinya," ucapku dengan senyuman.
"Alhamdulillah kalau Mbak Ayu senang. Lain kali datang lagi, boleh? Untuk makan malam bersama keluarga kami," ucap Mbak Wanda lagi. Aku tak bisa menjawabnya. Tak tahu harus menjawab apa tepatnya. Mbak Wanda dan keluarga sangat baik sekali padaku.
"Iya, Mbak. Insyaallah." Hanya itu yang aku ucapkan.
"Saya pamit dulu, Mbak. Sampaikan salam juga sama Ibu dan Bapak. Saya pamit." Aku menitip salam untuk keduanya, tadi di tengah acara pesta berlangsung, Ibu pamit untuk istirahat karena lelah, lalu tak lama Bapak menyusul istirahat juga.
"Iya, nanti Mbak sampaikan," ucapnya.
Aku dan Dokter Wira menuju ke mobil tapi langkah kami terhenti saat suara panggilan terdengar menyebut namaku.
"Kenapa gak bangunkan Ibu, Mbak Ayu mau pulang?" tanya Ibu terlihat marah pada sang putri.
"Mbak Ayu. Ini bawa pulang. Untuk Ibunya di rumah," ucap Ibu padaku seraya mendekat dan memberikan sebuah tas karton berwarna emas.
"Eh, Bu. Ini saya sudah dapat juga," ucapku seraya mengangkat tas karton pemberian Mbak Wanda tadi. Semua orang dapat hidangan serupa untuk dibawa pulang, entah apa isinya aku hanya mengintipnya sekilas.
"Itu kan dari Wanda. Ini dari Ibu!" serunya. Tangannya mengambil tanganku dan memaksa untuk mengambil tas karton tersebut.
__ADS_1
"Eh, aduh. Ini ... saya jadi gak enak. Ini juga sudah banyak," ucapku padanya.
"Sudah! Ini bawa saja. Mba Ayu udah meluangkan waktu untuk datang kesini. Ibu ucapkan terima kasih banyak," ungkap Ibu lagi. Terus memaksa hingga aku pun jadi tak enak hati. Tak enak menerima, tapi tak enak juga menolak. Duh, piye iki?!
Aku jadi malu sekali karena Ibu dan semua anggota keluarga Dokter Wira sangat baik sekali terhadapku.
Kami pamit. Mbak Wanda dan Ibu melambaikan tangannya ke arahku yang sudah masuk ke dalam mobil, aku mengangguk dalam sebagai ganti lambaian tangan. Tak lupa sebelum tadi masuk ke dalam mobil aku menitip pesan untuk menyampaikan salam ku untuk Bapak dan suami dari Mbak Wanda yang sedang menemani putranya lanjut membuka kado.
Mobil melaju meninggalkan kediaman Mbak Wanda.
Jalanan tidak juga sepi, malah semakin ramai menjelang sore hingga kami harus terjebak kemacetan. Memang tak parah, tapi lumayan juga membuat lambat laju mobil ini dan sulit untuk berjalan.
Langit sudah mulai menghitam di atas sana. Beruntung sebelum pulang tadi aku sudah menunaikan solat Ashar di rumah Mbak Wanda, jadi tak perlu khawatir meninggalkan kewajibanku.
"Terima kasih, ya, Mbak Ayu sudah mau datang ke pesta kecil kami," ucap Dokter Wira padaku. Suasana yang sepi sedari tadi membuat aku tersentak saat Dokter Wira mengatakan hal itu.
"Itu sudah kewajiban saya, Mbak. Saya yang jemput Mbak Ayu, maka saya juga yang harus mengantarkan Mbak Ayu untuk pulang dan selamat kembali sampai ke rumah," ucapnya. Ku akui dia sangat baik sekali, tapi kenapa hati ini tak ada getaran sama sekai terhadapnya.
Kami terdiam kembali. Dokter Wira kembali fokus menyetir sedangkan aku menikmati suasana di luaran sana yang sangat ramai. Tepatnya menghindari pandangan Dokter Wira yang sedari tadi ku rasa sering melirikku. Entah lah itu benar atau hanya perasaanku saja, tapi aku tak nyaman lama-lama berada di dalam tempat yang sama hanya berdua dengannya.
“Em … Mbak Ayu. Kitakan sudah lumayan lama kenal. Saya harap Mbak Ayu tidak terus menerus memanggil saya dengan sebutan Dokter. Saya ingin disebut dengan panggilan lain oleh Mbak Ayu.”
Eh, rasanya de javu dengan ucapannya ini. Teringat saat dalam perjalanan menuju ke pesta pernikahan sepupu Dokter Wira tempo hari. Dia sama mengatakan hal seperti itu.
“Eh, gak sopan dong kalau saya panggil dengan sebutan lain,” ucapku padanya. Sebenarnya agak tak nyaman juga.
__ADS_1
“Maaf, Mbak Ayu. Tapi rasanya aneh juga jika selau memanggil saya dengan sebutan Dokter. Kita sedang tidak di rumah sakit. Lagipula em ... anu ...." Dokter Wira kini terdiam, terlihat kebingungan untuk mengatakan kalimat selanjutnya. Dia memalingkan wajahnya ke arah depan. Mobil berjalan dengan sangat lambat sekali.
"Apa?" tanyaku pada Dokter Wira.
"Tidak ada!" jawabnya dengan cepat.
"Em ... saya, hanya ingin bilang kalau saya suka dengan Mbak Ayu, tentu Mbak Ayu juga sudah tahu kan karena saya sudah pernah bilang sebelumnya?" ucapnya pelan.
Suasana di sini semakin tak nyaman untukku.
"Emh, ya. Saya masih ingat," jawabku.
"Saya hanya ingin tau bagaimana perasaan Mbak Ayu terhadap saya sekarang ini?" ucapnya lagi. Kali ini aku terdiam. Aku harus menjawab apa? Memang tak ada perasaan khusus pada dokter ini.
"Saya gak tau," jawabku. Ku palingkan wajah ini ke arah lain.
"Gak mudah untuk saya menjalani semua ini, Dokter. Saya baru saja mengalami patah hati karena perpisahan. Luka di dalam hati saja masih belum kering dan tertutup semua. Masih terlihat cacat dan gak tau kapan akan normal kembali ...."
"Saya tau, maka dari itu saya ingin menjadi obat hati untuk luka Mbak Ayu," ucapnya memotong pembicaraanku. Refleks aku menoleh ke arahnya. Dokter ini sangat gigih sekali.
"Saya sudah meminta izin juga dari Bapak dan Ibu mengenai hal ini. Jangan khawatir dengan mereka. Mereka menerima Mbak Ayu apa adanya," ucapnya lagi semakin membuat diri ini tidak percaya.
"Kenapa? Kenapa Dokter melakukan ini? Saya hanya wanita yang tidak sempurna. Rasanya saya gak pantas juga untuk Dokter. Dokter berhak bahagia bersama dengan wanita yang sempurna. Bukan wanita cacat seperti saya," ucapku. Ingin rasanya aku menangis karena ucapanku sendiri, karena apa yang terjadi padaku selama ini, ketidakmampuanku memiliki anak yang membuat kebahagiaan dengan Mas Hilman selama ini hancur lebur.
Kurasakan mobil yang semakin pelan lajunya, lalu berhenti di tepi jalan yang sepi.
__ADS_1
Aku tak bisa menahan diriku hingga satu titik air hangat lolos dari sudut mata. Tidak ingin ketahuan jika aku menyusut wajahku, kupalingkan diri ini ke arah lain.
"Jadi itu menurut Mbak Ayu yang baik? Bagimana kalau aku tidak merasa baik dengan salah satu dari mereka?"