Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
253. Kisah Hilman


__ADS_3

Hilman


Aku bahagia kini telah bertemu dan berbicara lagi dengan dia. Tidak menyangka jika wanita yang pernah aku sakiti hatinya, yang pernah aku sakiti fisiknya, dia tidak memiliki dendam sama sekali kepadaku. Bahkan sudah memaafkanku sedari lama. Itulah Ayu yang aku kenal, tidak pernah sombong dan juga pemaaf.


Sebenarnya bisa saja dia berpura-pura tidak mengenaliku, atau pergi tanpa berkata sama sekali. Akan tetapi, dia tidak bisa seperti itu. Bahkan saat aku menyakiti hatinya saat aku menikah lagi, dia lebih memikirkan hati ibunya daripada hatinya sendiri. Sungguh aku ini adalah pria yang bodoh. Jika saja mungkin aku menolak usulan ibu, atau mungkin seperti apa kata dia aku bisa adil kepada keduanya, mungkin aku tidak akan kehilangan seperti ini. Ini adalah karmaku.


Langit semakin gelap, saat aku pandangi jalanan yang kini telah semakin ramai. Mobil yang Ayu kendarai juga sudah tidak nampak. Gegas aku kembali ke tempat kerjaku, mengatur masuk keluar motor yang hendak menitipkannya di sini.


"Mas ke mana aja kok lama?" tanya Dani, pemuda yang mengajakku untuk bekerja di sini.


"Ah enggak, tadi nggak sengaja ketemu teman di sana," ucapku berdusta.


"Oh, aku kira tadi ke mana. Kamu nggak pa-pa kan, Mas? Kok kelihatannya wajahnya merah?" tanya pemuda itu lagi.


Aku menggelengkan kepala dengan cepat seraya mengusap wajahku dengan tangan yang tidak lagi halus. "Nggak apa-apa, cuma ini kayaknya debu tadi." Lagi-lagi aku berdusta. Tidak perlulah dia harus tahu dengan siapa tadi aku bertemu.


"Aku makan dulu deh, lapar. Nggak apa-apa ya aku duluan?" tanyanya lagi.


"Iya nggak apa-apa, bebas kok mau siapa juga." Aku mengeluarkan tangan meminta nomor parkir kepadanya, siapa tahu ada pengunjung mall ini yang akan mengambil motornya.


Sambil menunggu dengan sepi, aku kembali terbayang wajah Ayu. Dia memang benar ayu, cantik yang sesungguhnya. Namanya mencerminkan kepribadian yang baik dan juga cantik.


Dia terlihat semakin menawan, apalagi pipinya yang chubby menggemaskan sekali.


Ah, aku memang laki-laki yang kurang beruntung. Di bohongi oleh istri sendiri. Wanita yang lebih aku cintai ternyata menghianatiku.

__ADS_1


Hampir jam sebelas malam aku baru sampai di rumah, keadaan sudah sepi lampu juga sudah banyak dimatikan. Begitu juga di ruang tv. TV menyala dengan ibu yang tertidur di atas kasur. Vita masih membuka mata, dia menyedot botol susu yang sudah tidak ada isinya. Tangannya meraih pakaian ibu menariknya, seakan dia meminta untuk dibuatkan susu, tapi ibu sudah terlelap jauh ke dalam mimpinya sulit untuk dibangunkan.


"Vita!" Panggilku setelah menyalakan lampu. Anak itu menutup matanya dengan kedua tangan, sepertinya silau karena cahaya. Kasihan sekali dia, matanya bisa rusak karena menonton TV dengan tanpa cahaya lampu.


Selang berapa lama anak gadisku melepaskan botolnya dan merangkak turun dari kasur. Senyumnya lebar berangkat dengan cepat ke arahku. Aku berjongkok untuk meraihnya.


"Anak Ayah kok belum tidur?" tanyaku, meski tahu dia tidak akan menjawab, tapi dia tersenyum sambil menepuk-nepuk pipiku.


"Aaahh!" Suaranya terdengar khas, sedikit berteriak kegirangan.


"Vita lapar? Mau susu?" tanyaku padanya.


"Cu ...." ucapnya dengan singkat. Aku membawanya ke dapur tidak lupa dengan botol minumnya yang ada di atas kasur. Membuatkan dia susu tidak terlalu banyak, karena stok susunya masih belum aku beli. Susu yang ada di dalam kaleng tinggal sedikit lagi, mungkin masih bisa sampai lusa. Semoga saja aku ada rezeki untuk memberikan dia susu formula.


Vita aku tidurkan di atas kasur. Menepuk pahanya dengan lembut agar dia kembali tidur. Lelah rasanya tubuh ini, serasa remuk. Lelah setelah seharian bekerja, malam juga harus mengurus Vita, jika saja mungkin aku punya istri tentu aku tidak akan kerepotan seperti ini. Akan tetapi, siapa yang ingin denganku? Aku ini hanyalah orang yang tidak layak. Tidak seperti dulu saat aku berjaya.


"Ma!" seru Vita tiba-tiba, melepas botol yang ada di mulutnya. Aku terpana mendengarnya. Sekali lagi dia berbicara, "Ma." Dan mengulanginya berkali-kali. Sesekali aku dengar dia menyebutnya dua kali hingga menjadi kata 'mama'. Sangat jelas sekali aku dengar hingga aku merasa sedih dengan keadaan dirinya.


"Yah. Ma!" Dia berbicara lagi. Kali ini sambil tertawa, tangannya menyentuh pipiku menusuk-nusuknya dengan jari mungilnya.


"Apa?" tanyaku padanya meski di dalam hati ini rasanya perih.


"Ma!" ucapnya lagi.


Apakah yang aku pikirkan adalah sama dengan yang dia maksudkan? Apakah dia menginginkan mamanya?

__ADS_1


"Ma siapa?" tanyaku. Vita tidak menjawab, hanya tertawa sambil memukul pipiku sedikit keras.


"Tidur yuk ayah capek. Anak Cantik, tidur ya?" pintaku kepadanya. Aku memejamkan mata. Biasanya jika aku melakukan hal itu Vita akan mengikuti menutup matanya.


Benar saja tidak sampai sepuluh menit dia sudah tertidur dengan pulas. Botol yang ada di tangannya hampir terjatuh. Aku mengambilnya dan menyimpan di atas meja.


Ku usap keningnya yang berkeringat, hawa di rumah ini memang rasanya panas, aku masih belum mampu membelikan kipas angin agar menjadi sedikit sejuk di kamar ini.


Vita, kasihan sekali dia. Masih kecil sudah kehilangan kasih sayang dari ibunya. Sejak saat itu Hana pergi dan tidak pernah kembali. Padahal aku masih berharap dia datang untuk menemaniku dan mengurus Vita. Aku tidak peduli apa yang pernah dia lakukan kepada kami. Meskipun dia telah menipuku mentah-mentah, setidaknya dia kembali karena ingat dengan putrinya.


Ya, Vita adalah anak Hana, tapi bukan darah dagingku. Baru aku tahu saat dia berusia dua bulan, mengalami sakit yang cukup serius, memiliki penyakit ginjal bawaan dari lahir. Dokter sudah memeriksa, sepertinya ini adalah faktor keturunan. Aku tidak tahu apakah Hana atau mungkin ayah dari Vita yang menurunkan penyakit ini. Baru aku tahu saat itu ketika dokter bertanya mengenai penyakit Vita. Dokter membutuhkan darahku, tapi saat aku melakukan pengecekan darahku tidak cocok sama sekali dengannya. Begitu juga dengan darah keluargaku yang lain. Hana pun tidak sama darahnya. Lantas di anak siapa?


Awalnya Hana tidak mau mengaku. Akan tetapi, setelah aku mendesak dia dan juga mengancamnya dia angkat bicara. Ternyata di belakangku dia bermain dengan laki-laki lain. Dia berkata dengan tanpa rasa bersalah tidak suka dengan aku yang baginya adalah laki-laki yang sudah tua. Usia kami memang jauh berbeda, dia juga bertemu kembali dengan mantan pacarnya di kota ini.


Aku pikir dia ikhlas menerima pernikahan kami waktu itu, ternyata dia hanya ingin hidup dengan layak. Semua yang telah aku berikan kepadanya dan juga keluarganya tidak membuat dia benar-benar mencintaiku. Aku tertipu karena parasnya, aku tertipu karena kepolosannya, ternyata dia adalah ular yang berbisa.


Setelah mengakui kebenaran tentang Vita, diam diam diam pergi. Aku tidak tahu ke mana dia sekarang. Padahal jika dia kembali dan mau mengurus Vita aku juga tidak akan mempermasalahkan apa yang telah dia lakukan kepadaku. Aku akan berusaha dengan tulus menerima dia, tidak mungkin juga aku membiarkan dia hidup sendiri bersama dengan bayinya. Akan tetapi, lain dengan pemikirannya. Aku tidak tahu terbuat dari apa hatinya sehingga dia meninggalkan bayi yang baru berusia dua bulan padaku.


Aku mencintai Vita dengan tulus. Sangat menyayanginya dan tidak pernah menganggap dia sebagai anak orang lain. Hanya dia yang bisa membuat aku tersenyum bahagia, meski awalnya rasanya sangat sakit melihat wajahnya yang sama sekali tidak mirip denganku ataupun dengan Hana. Seakan Allah sedang memberikan teguran untukku dan memberikan balasan atas dosa yang pernah aku lakukan selama ini.


Lagi-lagi, jika aku sedang seperti ini yang aku ingat adalah Ayu. Jika memang mungkin Ayu bukan jodohku, tapi aku selalu berdoa di akhirat nanti aku bisa berjodoh kembali dengannya. Aamiin.


***


Yang mau cerita Hilman mana nih. Othor udah buatkan ya. Jangan nagih lagi. Gak kuat ngetiknya nih, 😭😭

__ADS_1


__ADS_2