
Sudah hampir tiga bulan aku menjalani hidup rumah tangga ini bersama dengan Arga. Kami hidup bahagia bersama tidak banyak hal yang membuat kami saling bertengkar satu sama lain. Wajarlah jika ada perselisihan sedikit saja. Selebihnya kami hanya lebih sering bercanda. Aku tenang karena Ibu sekarang juga ada yang menjaga di rumah, Mama kondisinya sudah membaik. Gara juga sekarang sudah bisa menyebut huruf 'r' dengan sangat lancar tanpa cadel sama sekali.
Aku masih menjalani program kehamilan yang dokter ajukan waktu dulu. Meski rasanya bingung juga karena sudah tiga bulan ini aku masih dengan kondisiku yang seperti semula. Dokter bilang aku sehat, tapi kenapa sampai saat ini aku masih belum hamil juga? Apakah mungkin benar kata orang jika aku memiliki salah atau suatu ucapan yang tidak sengaja dan orang lain mendoakan aku supaya aku tidak bisa hamil? Aku tidak tahu, aku merasa tidak ingat pernah menyumpahi atau mengatakan hal buruk kepada orang lain. Entahlah, jika mungkin di masa lalu sebelum aku bisa berpikir dengan baik. Untuk sekarang ini aku hanya berdoa yang terbaik untuk aku dan juga suamiku.
Pagi ini dadaku berdebar sekali, aku sudah telat haid selama tiga hari, rasanya takut dan tidak percaya tapi aku ingin sekali melihat dan mengetes apakah program ini berhasil atau tidak. Biasanya aku tidak pernah telat sama sekali. Mungkin jika telat satu hari pernah lalu pada sore harinya aku mendapatkan menstruasi.
Pintu diketuk dari luar, aku masih menunggu hasilnya dengan keringat dingin yang ada di tangan.
"Ayu, kamu sedang apa kenapa lama sekali?" tanya suara harga dari luar pintu sambil menggedornya sesekali.
"Iya sebentar lagi!" Teriakku dengan berseru kepada Arga yang ada di luar.
Aku melirik pada wadah yang kini berisi urine dan tespek yang aku beli dengan diam-diam kemarin. Di dalam hati terus berdoa semoga saja, semoga saja, tentunya aku sangat berharap sekali jika ini adalah kabar baik.
"Kamu sakit perut, ya?" tanya Arga lagi kepadaku.
"I-iya!" Aku berteriak sekali lagi. Memang harga tidak tahu jika aku membeli satu buah tespek untuk melihat bukti dari rasa penasaranku ini.
"Aku belikan jamu? Yang seperti biasa kan?" tanya laki-laki itu. Yang dimaksud adalah jamu untuk pereda sakit perut saat menstruasi. Arga memang tidak segan-segan untuk membelikan benda kepentingan wanita seperti itu di minimarket. Bahkan, dia tanpa malu membelikan aku pembalut di sana tentunya saat aku tidak memilikinya sama sekali.
"Iya boleh! Tapi sebentar dulu deh. Aku juga mau ikut."
"Oke aku akan tunggu di luar, cepat keluar, ya!" Teriaknya lagi.
Aku menunggu hasil tes urine yang ada pada tespek tersebut. Bukan satu kali ini aku memakai benda yang seperti ini, dulu kan aku sering melakukannya. Selalu berharap jika ada satu garis samar yang terlihat. Saat merasa yakin sudah selesai, aku mengangkat benda kecil itu dan mengintipnya dengan satu mata. Di dalam hati terus berdoa untuk mendapatkan hasil terbaik, semoga saja di dalam rahim ini akan disegerakan sebuah nyawa untukku.
Aku menelan rasa kecewa saat di sana tidak ada lagi garis yang samar. Hanya satu garis tersebut yang ada di sana. Lagi lagi aku harus kecewa dengan hal itu. Rasanya ingin menangis, apa yang aku harapkan ternyata membuatku kecewa sekali lagi.
Aku menutup mulutku, menahan suara yang hampir keluar dari sana. Mata ini sudah panas dan bersiap untuk mengalirkan bulir-bulir yang hangat melewati pipi.
Meskipun aku sudah menyiapkan hati ini untuk menerima apapun hasil yang aku lihat sekarang, tapi tetap saja rasanya kecewa karena apa yang aku harapkan tidak terjadi.
Aku menangis, masih sambil memegangi benda pipih hasil tesku barusan.
"Ya Allah, kapan aku akan mendapatkan omongan?" Aku bertanya kepada diriku sendiri. Memukul dada ini yang terasa sesak.
__ADS_1
"Ayu kenapa lama sekali?" Suara itu terdengar kembali.
"Apa sakit banget ya?" tanya Arga lagi.
Aku menekan tombol pada toilet yang tertutup dan aku duduki sehingga terdengar suara air yang mengalir di sana. Mengusap wajahku yang penuh dengan air mata aku mencoba menetralkan suara.
"Iya sebentar, perutku sakit sekali!" Teriakku sebagai alasan. Aku memang sengaja tidak mengatakan jika aku membeli tespek kepada Arga, takut jika laki-laki itu berharap banyak dengan benda ini. Padahal selama ini hanya zonk semata. Kapan aku akan mempunyai anak? Apakah aku tidak berhak mempunyai anakku sendiri?
Segera aku bangun dan menuju ke arah wastafel untuk mencuci mukaku. Mencoba menghilangkan bekas-bekas air mata yang ada di sana. Aku mengeringkannya dengan handuk sebelum keluar dari kamar mandi tidak lupa dengan tespek yang aku bungkus dengan kresek hitam dan aku simpan di tempat sampah.
"Kita ke dokter ya, perut kamu sakit sekali ya?" tanya laki-laki itu lagi kepadaku dengan khawatir.
"Ini sakit perut biasa sih, nggak apa-apa," ucapku sambil pura-pura mengelus perutku yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.
Arga mengambil alih mengelus perutku. Terasa sangat lembut sekali elusan itu. Dia terlihat sangat khawatir.
"Kalau kamu nggak mau ke dokter, terus obat apa yang bisa bikin kamu enakan?" tanyanya sekali lagi padaku. Aku menggelengkan kepala.
"Tiduran juga bakalan enak kok,"
"Iya, memang biasanya sakit sekali," ucapku dengan alasan. Mungkin karena bulan-bulan sebelumnya saat aku menstruasi juga merasakan rasa sakit yang seperti itu sampai Arga mengira jika kali ini aku juga sakit karena akan haid.
Arga keluar dari kamar ini dan tidak lama kemudian dia masuk kembali dengan membawa kompres di tangannya. Dia menyibak selimut dan juga pakaianku lalu menempelkan kompres itu di atas perut.
"Ini kepanasan, nggak?" tanyanya kepadaku. Aku menggelengkan kepala merasakan hangat yang benar-benar hangat di sana. Bukan hanya hangat dari kompresan tersebut tapi juga hangat dari perlakuan Arga kepadaku.
"Terima kasih, Ga. Kamu baik banget sama aku," ucapku kepadanya.
Dia duduk di tepi ranjang sambil mengelus-elus perutku dengan lembut.
"Kamu itu bilang apa sih? Aku kan suami kamu tentu saja aku harus baik dong sama kamu. Aku harus sayang dan perhatian seperti dulu saat aku janji sama ibu," ucapnya dengan tersenyum. Aku menjadi terharu dengan perkataan dan perlakuannya ini. Merasa diri ini menjadi istri yang masih belum bisa sempurna baginya.
Meski dulu Arga mengatakan bahwa dia akan menerimaku apa adanya dan tidak masalah jika aku tidak bisa memiliki anak, tapi nyatanya pemikiranku sendiri yang telah membuat aku jatuh ke dalam lubang kesedihan.
"Aku akan belikan kamu jamu dulu ya," ucapnya lalu bangkit. Dia pergi dari kamar ini.
__ADS_1
Melihat perjuangan dia yang sangat besar selama aku hidup bersamanya, jujur saja membuat aku sangat sedih sekali. Aku merasa belum bisa memberikan yang terbaik untuknya, tidak seperti dia yang selalu memberikan yang terbaik untukku.
Sepeninggal Arga pergi keluar, aku kembali menangis. Tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata. Pemikiranku juga tidak bisa aku alihkan dari harapan-harapan yang selama ini telah membuatku bersemangat untuk mempunyai seorang momongan. Memiliki keluarga kecil yang sangat bahagia dan tentunya menjadi wanita yang sempurna seutuhnya.
Sadar dengan Arga yang mungkin sebentar lagi akan kembali, aku kembali membasuh wajahku di kamar mandi. Menggosoknya dengan sedikit keras untuk menghilangkan sisa-sisa air mata meski rasanya sangat sulit ketika menyembunyikan kesedihan.
"Kamu sakit perut lagi?" tanya Arga yang tiba-tiba saja melongok dari balik pintu. Benar saja pria itu ternyata telah kembali dengan lebih cepat.
"Ini aku belikan kamu jamu, aku juga belikan kamu koyo hangat," ucap laki-laki itu memperlihatkan apa yang dia dapatkan dari luar sana.
"Iya, tolong simpan saja di meja nanti aku ambil," ucapku kepadanya. Selesai dengan mencuci muka, aku kembali ke dalam kamar dan mendapati dia yang sedang berbaring di atas kasur. Aku heran dengan dia yang belum bersiap ke kantor.
"Kamu nggak kerja?" tanyaku kepadanya sambil meraih bungkusan yang ada di atas nakas.
"Enggak, ah. Aku khawatir sama kamu kalau terus-terusan sakit perut seperti itu."
"Lho memangnya kenapa harus khawatir? Aku nggak papa kok ditinggal sendirian di rumah lagian juga nggak sendirian banget kan masih ada mbak-mbak di rumah ini," ucapku lagi kepada Arga.
"Aku nggak tenang kalau kamu sakit perut, Yu. Rasanya kalau kamu sedang sakit aku tetap pergi kerja juga tetap aja kepikiran kamu. Kerjaku nggak akan tenang," ungkapnya lagi.
Aku mendekat dan duduk di sampingnya, ikut merebahkan diri di sana.
"Padahal aku tidak apa-apa kok. Ini kan cuma sakit perut biasa aja, normal untuk wanita setiap bulan."
"Ya justru itu, karena kamu merasakannya setiap bulan maka itu aku khawatir," ucapnya lagi. Dia mengubah tidurnya miring menghadap ke arahku. Satu tangannya menopang kepala sedangkan tangan yang lain mengusap perutku dengan lembut.
"Kenapa Tuhan menciptakan wanita dan laki-laki berbeda? Kenapa rasanya tidak adil?" Dia masih mengelus perutku dengan lembut, sangat nyaman sekali aku rasakan di sana.
"Karena wanita itu istimewa," ucapku.
"Iya aku tahu karena wanita adalah makhluk yang sangat istimewa. Tapi kenapa juga kami para kaum laki-laki tidak merasakannya?"
Dia itu sedang mikir apa sih?
"Kamu ini aneh. Kalau aku pikir enak menjadi laki-laki, tidak merasakan sakit setiap bulan, tidak merasakan sakit saat malam pertama, tidak merasakan sakit saat melahirkan. Apalagi wanita tidak hanya melahirkan satu anak. Belum lagi saat dia di masa tuanya nanti sudah tidak bisa mendapatkan menstruasi lagi, aku dengar dari ibu lebih sering merasakan sakit. Jadi aku pikir jadi laki-laki itu enak." Aku menatapnya. Kami saling berpandangan satu sama lain, tapi di dalam pikiranku aku masih bertanya-tanya. Kapan aku bisa seperti itu? Merasakan sakit setiap bulan, merasakan sakit saat malam pertama, tapi aku belum merasakan sakit saat melahirkan.
__ADS_1
Kapan?