
Mobil telah sampai di halaman rumah, seperti biasa sopir Arga sudah sampai di depan pagar. Dia tersenyum dan membantuku membawakan motor ke dalam rumah.
Rasanya dada ini berdebar, ini kali pertama aku dengan terang-terangan diantar Arga tanpa harus berbohong lagi pada Ibu. Arga menunggu di luar sementara aku menemui Ibu dan mengatakan jika Arga ada di luar.
Dengan senyum tipis, Ibu menyuruh aku untuk membiarkan Arga masuk. Ibu bilang ingin sedikit berbincang dengan Arga. Dadaku jadi semakin tidak karuan, apa yang ingin Ibu bicarakan?
Kami bertiga duduk saling berhadapan. Yu Tarni baru saja pulang setelah membuatkan Arga teh hangat. Terlihat Arga duduk dengan tidak tenang, padahal biasanya dia adalah orang yang sangat tenang sekali. Kepalanya tertunduk, tidak dia angkat, sedikit ku lihat wajah dia pucat. Suasana yanga ada di sini membuat aku menjadi takut juga dan berdebar, menunggu Ibu berbicara.
"Nak Arga. Sebelumnya Ibu ingin meminta maaf sama Nak Arga dengan perlakuan Ibu selama ini. Ibu mengaku salah karena menilai Nak Arga hanya dari luar. Terima kasih, atas bantuan Nak Arga tempo hari telah menolong Ibu," ujar Ibu membuka pembicaraan. Aku sedikit lega, Ibu telah benar-benar sadar dengan apa yang Ibu pikirkan selama ini tentang Arga adalah hal yang salah.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah maafkan jauh sebelum ini. Memang saya pernah menjadi orang yang tidak baik, maka wajar jika Ibu menginginkan Ayu dengan orang yang baik pula," jawab Arga.
__ADS_1
Aku hanya diam, mendengarkan Ibu dan Arga berbicara. Tidak ada nada sakit hati yang terdengar pada nada bicara Arga barusan. Aku kagum akan dia sekarang, dia memang sudah jauh berbeda dengan Arga yang dulu, telah membuang sifat egoisnya.
"Ibu izinkan kamu dengan Ayu, karena Ayu menjamin kamu telah menjadi pribadi yang lebih baik. Dan Ibu juga melihat hal itu kemarin saat di rumah sakit. Ibu harap, hal itu bukan hanya sikap kamu untuk mendapatkan Ayu semata."
Arga terkesiap mendengar ucapan Ibu, terlihat raut wajahnya yang berubah, seperti sedikit sedih dari sana. Aku pun sama di kalimat terakhir mendengar ucapan Ibu yang seperti itu, seakan Ibu masih tidak mempercayai Arga.
"Maafkan, Ibu. Ibu hanya ingin Ayu mendapatkan pendamping yang lebih baik dari yang sebelumnya. Ayu pernah mengalami kegagalan di dalam rumah tangga, dan Ayu juga tidak seperti wanita kebanyakan. Kamu mengerti 'kan? Ibu hanya ingin Ayu mendapatkan laki-laki yang bisa menerima Ayu apa adanya," ujar Ibu lagi.
Arga mengangkat kepalanya, terlihat dia seperti sedang menarik napas, seakan sedang menghadapi sidang di dalam ruangan sebuah pengadilan.
"Maaf sebelumnya, Bu. Saya sadar dengan kekurangan saya dulu dan juga kesalahan yang pernah saya perbuat hingga membuat kepercayaan Ibu terhadap saya menghilang. Saya mengerti, Ibu hanya orang tua yang ingin putrinya mendapatkan kebahagiaan, Ibu tidak salah dengan hal itu."
__ADS_1
"Terima kasih, karena Ibu telah memberikan saya kesempatan untuk bersama dengan Ayu. Sebisa mungkin saya akan memberikan banyak perhatian dan tidak akan menyia-nyiakan Ayu sebagai pendamping hidup saya. Itu pun, jika Ibu mengizinkan kami untuk bersama tentunya. Saya terima Ayu apa adanya, semoga Ayu dan juga Ibu juga menerima saya yang sudah memiliki Gara." Arga menunduk, terlihat wajahnya masih pucat, tapi berangsur membaik kini, tidak sepucat tadi.
"Ibu tidak masalah dengan adanya Gara. Justru bagus juga, melihat Gara yang dekat dengan Ayu, Ibu jadi berpikir ada beberapa anak yang sangat sulit untuk menerima orang asing, tapi melihat Gara yang sayang dengan Ayu, Ibu tidak ingin lagi membuat hati kalian jadi sedih. Maafkan sikap Ibu selama ini." Ibu tiba-tiba terisak, menundukkan kepalanya dan menggenggam tangan dengan erat.
Aku menggeserkan dudukku lebih dekat dengan Ibu. Arga juga seketika menatap Ibu dengan khawatir. Arga berdiri, memutari meja dan mendekat pada Ibu, berjongkok di dekat kaki Ibu, dan menggenggam tangan Ibu dengan seksama. Tatapan mata Arga lembut menatap Ibu.
"Tidak apa-apa. Lupakan masa lalu, Bu. Jangan Ibu pikirkan lagi. Saya sangat berterima kasih sekali dengan restu yang Ibu berikan, Gara akan memiliki kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah dia dapatkan sedari dulu," ucap Arga. Ibu mengangkat kepalanya dan mengusap pipi Arga, baru aku sadar jika wajah Arga telah sembab, mata dan hidungnya juga merah.
"Terima kasih, Ibu akan mempercayakan Ayu sama kamu. Asal kamu janji gak akan membuat Ayu menangis dan sakit hati. Ibu akan titipkan Ayu sama kamu dalam ikatan pernikahan." Aku memandang Ibu dengan rasa tidak percaya. Ibu memang sudah mengubah persepsinya terhadap Arga sekarang ini, tapi juga tidak percaya jika dalam waktu yang sangat singkat sekali untuk Ibu mengatakan hal tersebut kepada Arga.
"Saya ... jika Ibu mengizinkan, saya akan mendatangkan orang tua saya secepatnya untuk melamar putri Ibu."
__ADS_1