Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
29. Surgaku Ada Pada Ibu


__ADS_3

Aku melanjutkan perjalananku ke rumah Ibu dari sekolah Gara. rasanya tidak percaya sekali saat tadi Gara mendaratkan ciumannya ke pipiku. Hangat dan juga menyenangkan. Sampai sekarang ini masih terbayang wajah anak itu yang manis dan menggemaskan. Ya Allah, bisakah aku mendapatkan putra setampan dan semanis dia?


Akibat pertemuan dengan Gara tadi, mood di dalam hatiku menjadi sangat baik. Ada untungnya juga aku tadi pergi ke taman dulu sebelum ke rumah Ibu.


Tidak sampai satu jam aku telah sampai di rumah Ibu. Aku masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak tertutup.


"Assalamualaikum, Bu!" Aku berteriak memanggil Ibu seraya masuk ke dalam rumah.


Ibu terlihat sedang berada di dapur, sedang mengiris sesuatu di atas talenan sedangkan Sinta sedang berkutat dengan wajan di atas kompor yang menyala.


"Eh, Ayu!" Ibu berseru, menyimpan pisau yang ia pegang dan mendekat ke arahku, memelukku dengan erat.


"Kamu kesini nggak kasih kabar sama Ibu?" Ibu bertanya setelah melepaskan pelukannya.


"Iya, Bu. Ayu cuma bosen aja di rumah," jawabku.


"Kebetulan Mbak Ayu datang!" Sinta dari belakang Ibu mendekat. Dia membawa sebuah piring di tangannya.


"Coba ini deh Mbak, aku bikin tadi. Budhe bilang ini asin, tapi menurut aku nggak, ah." Sinta terlihat kesal dengan bibir yang mengerucut lucu. Aku mengambil sendok dan mencicipinya sedikit. Memang asin menurutku.


"Asin," ucapku kepadanya.


"Masa, sih?" tanya Sinta dengan tak percaya, "Tadi aku sudah rasain kok. Masa ini asin?" tanyanya lagi.


"Mungkin kamu terlalu banyak masukan garam. Wong dari tadi kamu masak sambil melamun, kok!" Ibu beseru sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku gak melamun kok!" ucap Sinta membela diri.


"Gak melamun apanya? Kamu itu loh dari tadi gak tau ngapain. Masa goreng ikan saja sampai gosong. Tuh ini juga, masak sambal goreng kentang sampai asin kayak gini." Ibu menunjuk ke piring yang ada di tangan Sinta dan juga menunjuk makanan yang ada di atas meja makan dengan menggunakan dagu.


"Apa sih yang kamu pikirin sampe melamun begitu?" tanyaku dengan nada menggodanya.


"Aku gak mikirin apa-apa," tukasnya dengan kesal.


"Kayaknya Ibu tahu deh. Pasti soal di Marwan ya?" tanya Ibu juga dengan senyum jahil di bibirnya.


"Marwan anaknya Pak Soleh?" tanyaku kepada Ibu.

__ADS_1


"Hooh," jawab Ibu dengan tawa kecil.


"Ih, Budhe ini. Jangan ngadi-ngadi deh! Aku gak mikirin si Marwan itu kok! Apaan cowok kayak gitu pakai dipikirin segala!" seru Sinta lalu berbalik dan pergi kembali ke depan kompor yang masih menyala.


Ibu tertawa, terlihat raut wajahnya yang bahagia menggoda Sinta yang sudah dianggap seperti anak sendiri.


"Ada apa sih, Bu?" tanyaku kepo.


"Dah, itu urusan anak muda!" seru Ibu, membuat aku manyun karena tidak diberitahu soal mereka. Aku kan juga penasaran!


"Budhe! Jangan gitu deh! Jangan sebar hoax!" seru Sinta dari sana. Kami tertawa melihat Sinta yang mendumel dari tempatnya.


"Siapa juga yang sebar hoax! Budhe lihat sendiri loh!" ucap Ibu dengan gigih.


"Lihat apa? Orang aku gak ngapa-ngapain. Cuma nolak dia aja!" Seru Sinta. Sadar dengan ucapannya itu, Sinta segera menutup mulutnya dengan malu. Dia kembali berbalik menghadap ke arah masakannya.


Aku dan Ibu tertawa melihat Sinta yang salah tingkah seperti itu. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak berbicara lagi.


"Cieee, yang baru nolak cowok! Marwan anak baik loh. Masa dia ditolak. Kan kasihan Sin!" seruku.


"Mbak ih, apaan sih! Mbak sama Budhe tuh ya. Kompak banget kalau udah bully aku!" Sinta tak kalah brbicara dengan seruan. Wajahnya menjadi merah.


Aku melirik ke arah Sinta. Sinta hanya diam tidak peduli. Suasana hatinya terlihat sedang tidak baik sekarang.


"Gak apa-apa, kok Bu. Cuma mau menengok Ibu dan menginap saja disini. Boleh, kan?" tanyaku. Ibu tersenyum.


"Sudah izin sama suamimu?" tanya Ibu. Aku menganggukkan kepalaku. Memang aku sudah minta izin dia meskipun dia juga tidak mengiyakan.


Sinta terlihat melirik ke arahku setelah Ibu menanyakan hal itu. Tatapan matanya terlihat aneh buatku, seperti tatapan penuh tanya.


"Kita duduk disana." Ajak Ibu.


"Sin, selesaikan masakannya ya. Budhe mau bicara sama Mbak Ayu," ucap Ibu kepada Sinta.


"Hemm!" Sinta hanya menjawab dengan gumaman. Dasar anak itu! Kalau sudah marah ya begitu. Ibu hanya menggelengkan kepalanya dengan tingkah anak itu.


"Awas jangan asin lagi. Nanti dikira kamu kebelet nikah loh!" Aku mengoloknya. Sinta melirik ke arahku, lalu membuang wajahnya dengan cepat ke arah lain. Dia sangat lucu kalau sedang marah seperti itu, ena sekali untuk di bully. Haha!!

__ADS_1


Kami duduk di ruang tamu.


"Bener kamu mau menginap disini dan Hilman mengizinkan?" tanya Ibu sekali lagi.


"Iya, Bu. Ibu ini kenapa sih? Anak sendiri mau menginap kok masih ditanyain," ucapku denan kesal.


"Buka begitu. Kamu kan sudah berumah tangga. Ibu jadi gak enak sama Hilman kalau kamu banyak bolak-balik kesini dan menginap terus," ucap Ibu dengan rasa bersalah.


"Ya ampun, Bu. Ibu ini kan ibuku, apa aku harus pisah sama Mas Hilman dulu supaya hati Ibu enak aku menginap disini?" tanyaku dengan kesal.


"Huss! Kamu itu ngomong apaan sih? Gak baik ngomong seperti itu. Pamali!" seru Ibu tak suka.


Sinta datang dengan membawakan teh hangat seperti biasanya. Aku sudah pernah mengatakan padanya agar dia tidak perlu melakukan ini, tapi anak ini masih tetap saja melakukan hal itu jika aku datang ke rumah. Dia melirik ke arahku saat Ibu berkata seperti itu.


"Terima kasih, Sin."


"Sama-sama, Mbak." Lalu dia kembali ke arah dapur.


"Kamu itu, jangan sekali-kali bilang pisah sama Hilman! Dia itu pria yang baik buat kamu. Kok yo sembarangan aja kamu bilang mau pisah!" seru Ibu dengan pelototan tajam.


"Ya habis Ibu bilang gak enak terus tiap kali Ayu ke rumah dan menginap disini. Ayu kan anak Ibu, Ayu juga kangen sama Ibu," ucapku dengan mendekat ke arah Ibu dan menyandarkan kepala ini ke bahunya.


"Ibu kan hanya takut, kalau Hilman tidak mengizinkan lebih baik jangan. Surga istri ada pada suami," ujar Ibu menasehati.


"Tapi surga anak ada pada Ibunya." Aku tak mau kalah dengan ucapan Ibu tadi.


Ibu menghela napas dengan berat, tangannya yang kurus mengusap lembut rambutku.


"Ya sudah kalau Hilman mengizinnkan ya gak apa-apa. Ibu cuma gak mau kalian kenapa-napa karena Ibu. Ibu takut kalau kamu gak sama Hilman. Dia sudah sabar sama kamu, belum tentu ada yang sesabar dia," ucap Ibu lagi dengan lembut. Aku tahu apa arti dari perkataan Ibu ini, apa yang Ibu maksud dengan sabar.


"Iya, Bu."


"Kamu gak ada masalah sama Hilman kan?" tanya Ibu lagi.


Aku terdiam, lalu menggelengkan kepalaku. "Enggak, Bu. Kami baik-baik saja," jawabku.


Malam ini aku tidur bersama dengan Ibu seperti biasanya. Ibu sudah terlelap sedari tadi.

__ADS_1


Jam kini sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi aku belum bisa menutup mataku. Pembicaraan dengan Ibu tadi membuat aku berpikir keras. Ibu tidak suka aku berpisah dengan Mas Hilman. Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku masih bisa bertahan dengan dia? Jika tidak ada Hana tentu saja aku akan bisa bertahan dengan pria itu, tapi kini dengan adanya anak kecil itu aku jadi merasa tidak nyaman tinggal di rumah. Perlakuan dia kepadaku membuat aku merasa seperti pembantu di rumahku sendiri.


Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus apa nanti? Rasanya aku lelah dan ingin menyerah.


__ADS_2