
Getar dari hp kian terasa saat aku melanjutkan pekerjaanku. Risih karena geli dan juga tidak nyaman. Ku cari tempat yang sedikit sepi untuk mengangkat telepon.
"Ada apa, Bu?" tanyaku pada ibu.
"Kamu masih lembur?" tanya ibu di sana.
"Iya, nanti pulang jam sepuluh lagi kayaknya," ucapku lagi. Memang sudah dua hari ini kami melakukan ekspor dan belum selesai.
"Ya sudah, kamu ada uang gak? Transfer ke ibu ya," ucap ibu lagi. Aku sedikit bingung dengan permintaan ibu. Uang baru seminggu lalu aku transfer ke rekeningnya.
"Buat apa sih, Bu? kan baru seminggu Hilman kasih uang," tanyaku.
"Em ... habis lah. Bayar listrik, arisan, belanja dapur, beli baju Vita. Emang kamu pikir uangnya habis buat apa?" tanya ibu terdengar sedikit sewot. Aku menghela napas sedikit kesal. Di rekeningku memang ada uang, tapi tidak banyak.
"Tiga ratus, cukup?" tanyaku.
"Apaan tiga ratus? Gak akan cukup lah!" seru ibu dengan cepat.
"Terus ibu maunya berapa?" Sedikit kesal, tapi aku tahan saja kekesalan ini pada ibu.
"Tiga juta," ucap ibu.
"Astaghfirullah." Aku terkejut mendengar ucapan ibu. "Tiga juta untuk apa, Bu?" tanyaku kaget. Minggu lalu aku sudah beri uang pada ibu dua juta lima ratus untuk kebutuhan sehari-hari selama satu bulan, sedangkan aku hanya pegang satu setengah juta untuk bekalku dan juga menabung untuk pengobatan Vita. Jaga-jaga jika anak itu harus pergi ke dokter.
__ADS_1
"Ya, untuk kebutuhan yang lain lah. Uang yang kamu kasih itu sudah habis, Hilman. Untuk beli gas, bayar listrik, dan lain-lain. Kamu sih kerja, gak ngurusin yang ada di rumah. Gak tau apa kebutuhan yang dibeli di rumah. Apa lagi sekarang harga pada naik. Mahal!" ucap ibu panjang lebar membuat pusing kepala ini.
"Hem, ya. Oke. Hilman transfer sekarang. Sudah ya. Itu aja, kan?" tanyaku pada ibu.
"Iya, sih. Tapi kalau mau kirim lebih dari tiga juta juga boleh," ucap ibu dengan tawa kecil cengengesan.
"Bu, sudah ya. Hilman mau balik kerja lagi," ucapku, lalu tanpa menunggu jawaban dari ibu telepon aku akhiri. Tidak enak rasanya di saat sibuk seperti ini menerima telepon dari yang lain.
Aku mengirimkan uang yang ibu minta. Biarlah, daripada terus meneleponku dan mengganggu pekerjaan.
Aku bingung, saat aku bekerja jadi kuli pasar dan parkir saja, ibu cukup aku berikan empat puluh ribu sehari. Meski sering mengomel karena katanya uang tidak cukup, tapi jelas ibu bisa mengelola uang yang minim, tapi kenapa sekarang ini jadi boros sekali setelah bekerja di sini?
Ah, Ibu. Untuk apa saja sih uangnya? Arisan satu minggu seratus, jika dalam satu bulan empat ratus ribu, sisa dua juta seratus apakah tidak cukup untuk satu bulan? Jajan Vita aku berikan sepuluh ribu sehari, jika dimana kurangnya juga aku yakin ibu tidak banyak memberi tambahan. Belum lagi jika aku mendapatkan hari libur, ibu membeli masakan dari luar. Alasannya capek masak. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada sekarang ini.
Beras sebagian aku yang membelinya, ibu hanya membeli kurangnya saja di akhir bulan. Belum lagi jika aku pulang mendapatkan gaji, sabun mandi dan sabun cuci serta pampers Vita aku yang beli.
Pernah malam itu saat ekspor bulan kemarin, selesai di jam satu malam dan banyak orang memilih untuk tidur di sini, aku juga sama. Ternyata ibu menelepon dan aku dengar Vita menangis terus. Ibu tidak bisa membujuknya sehingga terpaksa di jam tiga pagi aku pulang dengan mengebut.
Jam sudah menunjuk hampir tengah malam saat aku sampai di rumah. Malam terasa dingin sekali, salahku juga karena aku membawa jaket yang tipis. Keadaan rumah sudah sepi, aku masuk dari pintu samping sambil memasukkan motor. Pintu samping selalu ibu lepas kuncinya agar aku bisa menggunakan kunci sendiri.
Vita sudah tidur di kamarku, ibu seperti biasa tidur di depan tv yang menyala di depan pintu kamar kami. Entah, setelah ibu tahu kenyataan jika ternyata Vita bukan darah dagingku perasaan ibu kepada Vita jadi berubah. Dia jadi sering marah dan membentak Vita. Kadang aku kasihan pada Vita, takut jika ibu tidak baik terhadapnya. Akan tetapi, dulu aku sedikit keras terhadap ibu dan mengancam akan pergi dari sini jika ibu tidak menjaga Vita dengan baik.
...***...
__ADS_1
Tubuhku rasanya pegal sekali setelah dua malam bekerja lembur. Beruntung hari ini kami hanya bekerja setengah hari karena ini adalah hari sabtu. Setelah pulang nanti aku mau minta ibu panggilkan tukang urut kemari.
Siang aku pulang dengan hati yang riang, itu berarti waktu ku untuk Vita sedikit lebih banyak dari hari biasanya yang hanya bertemu saat malam saja. Rencanaku hari ini akan membawa Vita ke taman dekat sini saja, biar dia tidak bosan diam di rumah.
Motor masih melaju, kini sudah dekat dengan rumah. Hanya terhalang beberapa rumah saja. Samar terdengar suara teriakan ibu saat aku membuka gerbang. Aku khawatir, terkejut karena tidak biasanya ibu seperti itu, gegas aku lari dan membuka pintu dengan kasar. Terlihat dua orang laki-laki sedang duduk di sana bersama seorang wanita, entah siapa. Ibu sedang berdiri sambil menatap marah semua yang ada di sana. Mata dan hidungnya merah. Siapa mereka? Aku tidak pernah melihatnya.
"Hil–Hilman?" ucap ibu menatap ke arahku, wajahnya yang tadi terlihat marah kini justru terlihat terkejut dan takut.
"Ada apa, Bu? Kenapa ibu teriak? Siapa ini?" tanyaku pada ibu, menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Ini ... ini hanya tamu Ibu. Ini–."
"Kami korban penipuan yang ibu Mas Hilman lakukan," ucap wanita itu membuat aku membulatkan mata tidak percaya.
"Eh, sebentar. Apa maksudnya ini? Penipuan apa?" tanyaku bingung dan terkejut juga. Helm yang aku pakai, aku lepas dan simpan di atas meja.
"Eh, Hilman. Jangan dengarkan mereka, ini hanya salah paham." Ibu mencoba mendorong lenganku, tapi rasanya aku tidak percaya dengan ucapannya itu. Sedikit aneh memang jika melihat wanita di hadapan kami dengan pakaian yang bagus datang pada kami.
"Maksudnya apa, Bu? Penipuan apa? Saya gak ngerti," tanyaku padanya.
"Ibu Mas Hilman menipu beberapa warga saya dengan investasi emas bodong!"
...***...
__ADS_1
Mampir yuk, cerita temanku nih. Bisa nebak gak nih jalan ceritanya gimana? 🤭 yuk kepoin yuk