Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
280. Sindiran Dari Keluarga


__ADS_3

Aku tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Benar-benar tidak menyangka dengan jalan takdir yang telah Tuhan berikan terhadapku. Mataku kini terasa panas mendengar cerita dan mendapati rezeki yang memang masih menjadi milik kami. Alhamdulillah.


Aku memeluk Arga, menangis di dadanya sambil berucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Tangan besar itu mengusap lembut punggungku dan berkata jika aku tidak boleh menangis karenanya.


"Aku senang, Pa. Aku senang karena Allah sangat sayang sama aku."


"Iya, Alhamdulillah. Aku juga gak nyangka kalau ternyata ini memang takdir kita. Ikhlas dalam menjalani apapun, maka akan kembali pada kita bisa jadi dalam bentuk yang sama atau dalam bentuk yang lain. Aku salut sama kamu, karena kamu telah ikhlas menjalani ujian yang berat dan gak mengeluh," ucapnya masih sambil mengelus punggungku, kini kurasakan ciuman lembut di kepala.


"Sudah, jangan nangis terus. Mamang bilang pengen ketemu kamu kalau kamu dah sampai ke sini. Istirahat dulu sebelum kita nanti ketemu sama mamang dan kakek," ucapnya. Aku mengangguk, mengambil piring kotor yang tadi bekas kami pakai dan mencucinya.


Kamar kami ada di lantai atas, tak henti aku mengagumi interior yang ada di sini. Tangga yang memutar, memperlihatkan ruangan besar yang ada di rumah ... eh, vila ini. Barang-barang dan juga hiasan yang ada di tempat ini aku yakin jika semuanya tidak murah. Lukisan abstrak yang seringkali membuat aku pusing tergantung di dinding ruangan bawah. Guci besar juga terdapat di kanan kiri dekat tangga. Ah, terlalu banyak jika harus aku deskripsikan setiap detailnya. Tempat yang aku tahu dulu hanya sebuah kebun dengan tanaman ubi kayu dan ubi rambat kini berdiri vila besar nan mewah. Ya, vila. Jika disebut rumah ini terlalu besar. Tempatnya juga berada di ujung kampung, enak dan nyaman untuk beristirahat.


Dari balkon kamar aku bisa melihat jauh ke luar, melewati pagar besi yang tinggi bisa aku lihat kehidupan di desa ini. Sore seperti ini masih ramai dengan anak-anak yang bermain di lapangan, juga terlihat beberapa di antaranya bermain sepeda di jalanan kampung yang sepi.


Teringat dengan masa kecilku dulu saat bapak dan ibu membawaku berlibur ke sini, aku tidak mau pulang ke rumah kakek saking serunya bermain dengan teman sebayaku. Menangis saat ibu menggendongku pulang.


"Kenapa senyum-senyum?" Suara Arga membuat aku menolehkan kepala.


"Cuma mengenang masa kecil," jawabku.


"Wah, dulu di sini?" tanyanya.


"Enggak, cuma kalau lagi liburan sekolah aja."


Helaan napas terdengar di hidung Arga, membuat aku menolehkan kepala padanya. Dia menatap ke arah depan, mengikuti pandangan pada sekumpulan anak kecil yang bermain sepeda.


"Enak ya kalau bisa hidup disini, ramai kayaknya," ucapnya. Aku tidak paham apa maksud dia dengan ucapan kalimatnya itu.


"Kalau ke sini rasanya agak malas kembali ke kota, tapi pekerjaanku banyak banget. Gak bisa sembarangan aku oper ke yang lain," ucapnya lagi. Aku baru mengerti, mungkin Arga merasa lelah dengan semua kegiatan yang ada selama ini. Aku juga pernah merasakan jenuh dengan pekerjaanku yang hanya itu-itu saja, apalagi Arga yang memegang tanggung jawab besar.


"Kehidupan di sini juga kelihatan harmonis, ya. Tuh, lihat di sana," tunjuknya pada suatu tempat. Aku mengikuti arah pandang Arga ke tempat yang dia tunjuk. Sepasang nenek dan kakek, belum terlalu tua, sih. Aku perkirakan mereka masih usia enam atau tujuh puluh tahunan, sedang duduk berdua di teras saling tertawa di antara pembicaraan mereka. Sesekali si kakek menyesap minuman yang ada di meja dan si nenek yang menyodorkan piring entah isi apa pada kakek tersebut.


"Aku mau sampai tua nanti kita tetep bersama seperti mereka, Yu. Hidup di sini menikmati hari tua berdua," ucap Arga, tangannya kini mengambil tanganku dan memegangnya erat. Dia tersenyum menatapku. Aku mendekat dan menempelkan kepala pada lengannya.

__ADS_1


"Insyaallah, Pa. Berdoa saja semoga kita diberi kesehatan dan umur yang panjang. Sampai tua nanti kita bisa bersama," ucapku.


"Aamiin."


Kami tidak lama ada di sana, memilih untuk beristirahat sejenak sebelum bertemu dengan kakek dan juga mamang nanti. Azka aku titipkan pada Sari, sedangkan Gara tadi aku dengar dari ibu jika sedang bermain bersama dengan Widi.


Malam hari kami pergi ke rumah kakek, bertemu dengan keluarga yang lain juga, para sepupu bapak yang juga rumahnya masih ada di kampung ini. Demi bertemu dengan kami, mereka datang dan berkumpul di sini. Beberapa di antaranya menangis saat tahu aku datang, rindu katanya. Tidak menyangka aku yang dulu terakhir bertemu saat masih remaja, kini telah memiliki suami dan telah memiliki putra. Untung saja Arga telah menyiapkan oleh-oleh dari kota lumayan banyak sehingga semua mendapatkan bagian. Katanya oleh-oleh sudah disiapkan dan dibawa ibu ke sini. Pantas saja aku tidak tahu ada benda-benda itu.


Azka dan Gara menjadi fokus seluruh keluarga, tampan katanya. Memang kedua anakku tampan sekali.


"Sudah lima bulan belum bisa duduk sendiri, ya?" tanya salah seorang istri sepupu bapak yang diarahkan pada Azka.


"Iya, belum. Mungkin sebentar lagi," ucap ibu yang sedang memangku Azka.


"Asti usia empat bulan sudah bisa duduk sendiri, lima bulan sudah duduk stabil, enam bulan belajar merangkak," ucapnya lagi dengan membanggakan cucunya yang sedang duduk anteng dengan mainan di tangan.


"Ya, kan perkembangan anak beda-beda, belum palingan. Sebentar lagi, Dek," ucap ibu pada wanita itu. Wajah ibu sudah terlihat tidak enak, pasalnya yang aku dengar dari pembicaraan mereka hanya membanggakan cucu masing-masing.


"Eh, iya. Nih." Ibu memberikan Azka kepadaku


"Ayu, kamu lagi hamil lagi, ya?" tanya salah seorang saat aku menggendong Azka.


"Iya, Bi," jawabku.


"Ya ampun, kasihan loh anak kamu masih hitungan bulan kok sudah hamil lagi," tambahnya lagi.


"Gak apa-apa, sudah rezeki ya gak boleh ditolak," ucapku lagi.


"Iya, sih. Tapi ya harusnya tunggu sampai Azka setahun atau minimal sampai merangkak gitu."


"Ya gak apa-apa lah, Nyi. Mau hamil lagi juga gak susah kok, kan Ayu ada yang bantu asuh juga. Gak kayak kita yang mikir kalau banyak anak harus gimana, apalagi semua serba sulit sekarang ini," ucap salah seorang yang lain. Terdengar nadanya sedikit sinis dengan tatapan yang membuat aku tidak nyaman.


"Ya, kalau itu sih bener juga, gak susah kalau banyak tabungan. Usaha sudah enak, suami bos pabrik."

__ADS_1


Aku merasa tak enak hati dengan pembahasan ini, tidak nyaman rasanya. Meski memang pada kenyataannya benar rasanya kami tidak perlu khawatir dengan masa depan mereka, tapi jujur saja pembahasan soal ini aku tidak menghendakinya. Aku tidak mengakui diri ini yang kaya, karena yang kaya adalah suamiku.


"Ayu permisi dulu, ya. Mau kasih minum Azka." Aku pamit pada yang lainnya, sambil berjalan menunduk melewati mereka.


Di ruangan lain aku memberikan ASI pada Azka, benar saja kalau anak ini sedang kehausan sekali, dia meminum ASI dengan sangat kuat. Sesekali menarik ujung dadaku dengan gusinya yang belum terdapat gigi. Aku sedikit meringis kesakitan setiap kali dia melakukan itu akhir-akhir ini. Ibu bilang karena Azka mungkin merasa gatal dengan gusinya, biasanya karena akan tumbuh gigi.


"Sakit, Ka." Ku cubit hidungnya, dia hanya tersenyum, tapi tetap tidak melepaskan mulutnya dari sana. Matanya sedikit sayu, sepertinya dia sudah mengantuk. Tak lama ibu datang dan duduk di dekatku.


"Azka mau tidur?" tanyanya.


"Kayaknya iya."


"Sudah, kasih ASI dulu, sudah ini kita pamit. Ibu capek," ucap ibu. Ku tilik wajahnya, terlihat kesal daripada capek.


"Bukan cape, kan?" tanyaku sedikit dengan nada menggodanya.


"Huh, mereka ngomonginnya anak dan cucu. Iya, lebih pintar karena dikasih makan di usia dini. Bilang Azka juga harusnya diberikan MP-ASI biar cepet lari," ucap ibu dengan kesal, tentunya dengan nada yang pelan karena para wanita saudara bapak tak jauh dari tempat kami duduk.


"Haha, biarin aja. Mereka gak tau dampaknya apa dikasih MP-ASI dini. Aku gak berani kalau belum waktunya," ucapku menatap Azka yang kini sudah menutup matanya, sesekali terbuka dan tersenyum ke arahku, tangannya yang kecil mencolok-colok lubang hidungku hingga terasa geli. Seperti itu yang dia lakukan jika sedang makan dariku.


"Bener, jangan coba-coba kasih Azka makanan kalau belum waktunya. Ibu lebih takut kalau nanti jadinya gawat," ucap ibu menatap Azka dengan iba.


Aku dan ibu serta Arga pamit dari rumah kakek, Gara tidak rela berpisah dengan Widi, sehingga dia mengajak Widi untuk menginap di vila. Widi juga terlihat sangat senang sekali bermalam di vila, dengan membawa dua boneka besar milikku yang aku berikan dulu kepadanya.


"Untung Gara minta pulang, jadi aku ada alasan gak tinggal di rumah kakek," ucap Arga seraya tertawa kecil saat kami sudah berbaring dengan Azka di tengah.


"Eh, mau apa di rumah kakek? Suruh begadang?" tanyaku.


Arga mengangkat bahunya. "Sepertinya gitu. Mamang sudah siapkan catur tadi," ucap Arga sambil tersenyum malu.


"Haha, kamu kayaknya sudah jadi cucu menantu kesayangan kakek."


"Sepertinya." Tawa kami dengan pelan, takut jika akan membangunkan Azka.

__ADS_1


__ADS_2