
Selesai dengan makan siang semua orang yang tadi berada di rumah ini pulang, meninggalkan aku dan Arga serta tumpukkan piring kotor yang mereka tinggalkan. Aku mencuci piring yang kini menumpuk di wastafel, meski ada asisten, kasihan juga jika hanya dia yang melakukan tugas ini sendirian. Bersama dengan pengasuh Gara, dia membereskan meja di ruang tamu yang sangat berantakan. Kami masing-masing menjalankan tugas dengan baik.
"Yu." Suara Arga terdengar di sampingku.
"Hem, ya?" tanyaku seraya menghentikan laju tangan menyabuni piring. Arga menggeser tubuhku dan mengambil alih piring penuh sabun, mulai membilasnya dengan hati-hati.
"Yang tadi ... ucapan Bibi, maaf ya," ucapnya dengan nada yang terdengar bersalah.
"Yang mana?" tanyaku berusaha untuk tersenyum, tidak ingin jika dia merasa bersalah karena hal yang bukan karenanya.
"Yang tadi ucapan bibi soal keturunan," ucapnya lagi. Piring yang ada di tangannya sudah bersih dia bilas dan dia simpan di sisi yang lain wastafel.
"Oh, itu. Ya sudahlah. Mungkin Bibi tidak tau, Ga. Lagi pula aku juga sudah tidak lagi mempermasalahkan itu kok. Aku anggap ucapan Bibi tadi sebagai doa yang terbaik untuk kita," tambahku.
Ku tatap Arga, kini bibirnya menyunggingkan senyum, tapi masih aku rasakan jika senyuman itu mengandung kesedihan.
"Aku jadi gak enak sama kamu soal yang tadi itu."
"Sudah lah, tidak apa-apa. Jangan kamu pikirkan hal itu." Aku mencoba untuk menenangkan dia dengan senyumanku., Berharap jika dia tidak lagi merasa tidak enak hati dengan hal itu.
"Em, Yu. Kamu yakin dengan itu?" tanya Arga, tidak jelas apa yang dia maksud.
"Itu yang mana? Apa?" tanyaku bingung.
"Kamu kan pernah bilang kalau kamu sudah pernah berobat kesana kemari. Em ...." Arga terdiam, mengusap tengkuknya dan terlihat wajah orang itu yang gelisah. Dia seperti yang sulit untuk bicara.
"..., kamu mau gak ikut sama aku ke dokter? Maaf, bukannya apa-apa, tapi aku ingin memastikan saja satu hal. Dari cerita kamu yang dulu Hilman tidak mau ikut ke dokter kandungan, kan?" tanya Arga padaku. Aku mengangguk pelan, membenarkan ucapannya.
"Untuk memastikan lagi, kita periksa bagaimana?" tanya Arga.
"Maaf. Bukan aku mau menyinggung kamu, tapi semua ada kemungkinannya, bukan?" tanyanya lagi saat aku hanya diam belum sempat menjawab.
"Aku pikir, kita harus pergi ke dokter kali ini, jangan hanya kamu saja. Aku juga akan ikut ke sana," ucapnya lagi. dari nada suaranya terdengar dia tidak enak hati.
Aku masih diam, ada perasaan takut dengan hal itu. Memang Mas Hilman tidak pernah ikut denganku ke dokter dengan alasan selalu sibuk bekerja, memang dia tidak pernah ada waktu jika aku mengajaknya ke dokter, karena urusan pekerjaannya yang sangat banyak dan membuat dia tidak ada waktu untuk pergi memeriksakan diri.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Arga lagi.
"Aku takut. Bagaimana kalau memang benar aku yang ...."
"Kangan takut, Yu, Ada aku di sini. Sedari dulu aku sudah jelas terima kamu apa adanya, kan? Aku bicara seperti ini bukan aku gak percaya sama kamu, tapi aku cuma ingin memastikan saja. Bagaimana?" tanya Arga lagi.
Aku masih diam, sedang memikirkan kesiapanku tentang hal ini. Jika benar aku bisa memiliki anak aku akan sangat bahagia sekali, tapi jika tidak ... bukankah aku akan mengungkit rasa kecewaku lagi?
Kulirik wajahnya yang penuh harap. Dia menatapku menunggu jawaban.
Berpikir positif saja, Yu. yang Arga lakukan adalah hal yang baik bukan? Dia sudah bicara dengan sungguh, dan lagi ... apa yang aku takutkan? Dia sudah menjadi suamiku!
"Oke," ucapku pada akhirnya. Arga tersenyum senang, dia menarik pundakku dan mencium keningku dengan sangat lembut. Hangat sekali rasanya. Menyenangkan sekali diperlakukan seperti ini olehnya.
"Terima kasih, Yu. Tapi ... kamu gak marah kan aku minta kamu ikut periksa? Bukan apa-apa, aku hanya gak yakin juga kalau kamu ...."
"Tapi aku minta kamu jangan kecewa jika hasilnya buruk, Ga." pintaku dengan menatapnya.
"Jujur, aku takut kamu kecewa," ucapku. Aku menunduk, tidak berani menatap matanya. Arga, dengan satu tangannya mengambil daguku dan memaksa kepala ini menghadap ke arahnya. Menatapku dengan tatapan matanya yang tajam.
"Papa!" Suara yang lain terdengar membuat aku dan Arga menjauhkan diri kami dengan cepat. Gara terlihat di dekat pintu, sedang mengucek matanya yang masih terlihat merah.
"Ga-Gara, kamu sudah bangun, Nak?" Aku mengelap tanganku yang basah pada lap yang tergantung di dinding dan menghampiri anak itu. Dia menguap dengan lebar masih mengucek matanya.
"Papa, Mama, kenapa tidak ada di kamar?" tanya Gara kecil. Aku melirik Arga, malu rasanya, apakah tadi Gara melihat apa yang kami lakukan? Duh, bagaimana ini?
"Ah, ya. Kan tadi kakek sama para nenek belum pulang, jadi kami turun untuk menemani mereka mengobrol sebentar," ucap Arga terlalu jujur dia kepada anak kecil. Aku melirik Gara, takut jika anak ini akan protes karena kami meninggalkan dia.
"Oh, pantas saja merrlleka tidak ada," ucap anak ini. Aku menghela napas dengan lega, ternyata pikiranku salah. Aku pikir gara akan protes karena kami memilih turun dan meninggalkan dia tadi.
"Iya, maaf, ya." Aku meminta maaf pada Gara.
"Kenapa Mama meminta maaf?" tanya Gara bingung. Dia menggaruk perutnya dan kembali menguap dengan lebar.
"Mama, aku lapar," ucap anak itu. Tanpa sempat aku membalas pertanyaannya.
__ADS_1
"Eh, lapar, ya. Ayo duduk di kursi, Gara mau makan apa?" tanyaku padanya. Ku gendong tubuhnya dan membawanya ke kursi meja makan.
"Yu, jangan suka gendong Gara, Nanti dia kebiasaan, lagi." Protes Arga. Gara mengerucutkan bibirnya, tangannya yang kecil memeluk leherku dengan sangat erat.
"Bilang aja Papa cemburrllu! Wleek!" Gara menjulurkan lidahnya pada sang ayah. Arga melotot, berkacak pinggang sambil menatap anak itu dengan tidak suka.
"Bukan masalah Papa cemburu, Gara. Mama Ayu istri Papa, Ibu kamu juga, nanti kalau Mama sakit gara-gara gendong kamu gimana? Kamu kan sudah besar, berat!" ucap Arga.
Gara terlihat tidak peduli, dia malah menyandarkan kepalanya ke bahuku dengan nyamannya.
"Sesekali boleh kan, Pa. Kan gak tiap harrlli juga. ya kan, Ma?" tanya Gara meminta pembelaan dariku,.
"Iya. Apapun untuk anak Mama tersayang," ucapku sambil menjawil hidungnya dan mencium pipinya yang gembil. lagi-lagi gara menjulurkan lidahnya pada sang ayah mengejek Arga yang kini terlihat tidak terima.
"Ya sudah. Ayo makan. Gara mau makan apa?" tanyaku padanya.
"Tellorrll mata sapi!" seru Gara dengan bersemangat.
"Telur ceplok, Gara." ujar Arga.
"Mata sapi!" teriak Gara.
"Iya, tapi itu kan telur ayam. Mana ada sapi bertelur," ucap Arga lagi.
"Iya, tapi namanya telurrll mata sapi!" Gara mulai merasa kesal karena diganggu sang ayah.
"Kasihan ayamnya gak dianggap," ujar Arga lagi masih mencoba membuat anaknya marah.
"Papa! Sudah! Stop! Jangan ganggu Gara terus!"
Ya ampun, kedua orang ini apakah sebelumnya memang suka berdebat?
***
yuk mampir juga ke karya temanku yang satu ini..masih baru. Lepaskan Aku Tuan, karya Gorga Hamonangan 😉
__ADS_1