
Semakin lama sikap Hana menjadi berlebih. Dia tidak lagi seperti dulu. mungkin karena hormon kehamilan atau memang sifat aslinya yang seperti itu. Dia tidak pernah lagi mau membantuku dalam urusan pekerjaan di rumah. Setiap aku pulang dari mencari pekerjaan rumah selalu tidak rapi, ada saja kelakuan dia yang membuat aku merasa kesal. Cucian menumpuk lah, piring kotor, dapur berantakan, lantai tidak disapu.
Aku merasa lelah dan aku protes kepada Mas Hilman. Akhirnya Mas Hilman lah yang melakukan tugas membantuku membereskan rumah. Meski dia lelah setelah pulang bekerja, tapi dia melakukan hal itu juga. Dia hanya bilang padaku, 'Hana kan sedang hamil, maklumi saja.'
Enak saja dia bilang seperti itu. Tidak tahu apa aku juga lelah, terutama menghadapi sikapnya yang seperti itu.
"Hana, bisa tidak kamu membantu aku sedikit saja. Setidaknya untuk beres-beres rumah kamu bisa kan pegang yang ringan-ringan saja?" tanyaku saat Hana mengambil air minum di dapur. Aku sedang memasak untuk makan malam nanti.
"Iya Mbak, kalau Hana bisa Hana juga akan melakukan pekerjaan rumah untuk membantu Mbak, tapi sekarang ini Hana sedang merasa tidak enak badan," ucapnya menjawab perkataanku tadi.
Aku melirik ke arahnya dengan kesal. bagaimana dia akan merasa enak badannya jika setiap hari hanya berbaring saja.
"Kalau kamu setiap hari hanya tiduran saja di kamar tentu saja badan kamu tidak kan enak, badan kamu juga harus gerak lah. Itu juga akan menguatkan kandungan kamu," ucapku mengingatkan. Aku memang belum pernah hamil, tapi aku ingat dengan perkataan beberapa temanku dulu. Orang hamil itu tidak boleh aleman. Tidak boleh manja. Meskipun aku tidak suka dengan Hana, tapi aku juga perlu mengingatkan dia untuk menjaga kesehatannya. Ada anak dari Mas Hilman yang ada di dalam kandungannya.
"Iya Mbak, besok Hana gak akan tiduran terus kok, tapi hari ini Hana mau izin untuk istirahat lagi," ucapnya lalu dengan cepat kembali masuk ke dalam kamar sebelum aku berkata lagi.
Aku menghembuskan napas dengan kesal, entah aku harus mengatakan apa lagi kepada dia. Sudah beberapa kali aku katakan hal yang seperti itu, tapi dia seperti yang tidak mau mendengarkan.
Tidak lama Hana kembali lagi ke dapur, dia mendekat ke arahku sambil mencuci gelas bekas dia pakai tadi.
"Mbak aku lapar," ucapnya setelah selesai mengeringkan gelas dan menyimpannya di rak piring.
"Lapar ya tinggal makan, apa susahnya?" tanyaku dengan sinis. Satu macam sayur sudah selesai aku masak dan terhidang di atas meja makan.
"Tapi ... aku nggak mau itu, Mbak."
__ADS_1
"Terus?" tanyaku sambil melirik ke arahnya, mencium bau-bau sesuatu.
"Aku mau yang lain." Terlihat tangannya mengusap perut yang kini sedikit membuncit.
"Aku tadi lihat di hp, ada orang yang makan spaghetti, kayaknya enak tuh," ucapnya lagi.
Tuh kaaann ....
"Kalau mau ya bikin lah, gak perlu laporan. Bahan sudah ada."
"Nggak bisa Mbak, aku nggak bisa bikin kayak gituan. Mbak mau kan bikinkan buat aku?" tanyanya yang sukses membuat aku melotot kepadanya.
"Mbak gak mau, ya?" Dia bertanya lagi dengan wajah yang sedih, matanya berkaca-kaca. Satu tangannya tidak berhenti mengelus perutnya.
Dia sangat mengesalkan sekali, tapi jika memang ini anaknya yang mau aku bisa apa? Bagaimanapun juga ini adalah keinginan anak Mas Hilman. semoga saja kelak jika aku hamil aku tidak harus merepotkan siapapun.
Wajahnya berbinar senang saat aku menyodorkan sepiring spaghetti kepadanya, lengkap dengan bongkahan daging sapi yang aku potong kotak kecil. Aku buatkan seperti yang setiap kali aku buat untuk Mas Hilman.
Hana duduk di meja makan dan tersenyum melihat makanan itu. Dia menepuk kedua tangannya dengan mata yang berbinar menatap spaghetti di depannya. Wajahnya terulur ke depan mendekatkan hidungnya ke atas piring, merasai aroma yang menguar dari sana. Akan tetapi, tiba-tiba saja dia mendorong piring itu hingga ke tengah meja.
Aku menatapnya dengan bingung.
"Maaf Mbak, Hana ... sudah tidak mau lagi," ucapnya. Mendengar hal itu membuat aku marah. Aku sedang repot memasak untuk Mas Hilman, tapi tiba-tiba saja dia datang untuk meminta spageti dan sekarang dia bilang tidak mau lagi? Sepertinya dia ingin aku cekik!
"Maaf ya Mbak, habisnya gimana. Ini juga bukan mauku. Padahal tadi aku ingin sekali, tapi sesudah menghirup aromanya aku tidak mau lagi." ucapnya dengan raut wajah yang tidak selera.
__ADS_1
Enteng sekali dia berbicara seperti itu!
Aku ingin berkata, tapi dia sudah bangkit dan berjalan meninggalkanku di dapur dengan rasa kekesalan ku.
Malam harinya aku berbicara dengan Mas Hilman tentang Hana. Mungkin jika Mas Hilman yang berbicara kepada anak kecil itu dia mau menurut. Ucapanku tadi seakan masuk ke dalam telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.
"Mas tolong deh kamu bilangin sama Hana, tidak baik kalau dia terus-terusan hanya berbaring saja. Dia sama sekali tidak mau membantuku untuk membereskan rumah." Aku mengadu pada Mas Hilman saat setelah kami selesai makan malam. Mas Hilman sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya. dia menghentikan tangannya dari keyboard dan mengalihkan pandangannya kepadaku.
"Mungkin dia sedang tidak enak badan." Mas Hilman berkata singkat lalu dia kembali pada pekerjaannya.
"Tidak enak badan apanya, aku lihat dia baik-baik saja kok," ujarku.
"Namanya juga orang hamil, Yu. Hormonnya kan berubah-ubah. Kamu maklumi saja dia. Aku dengar dari beberapa temanku memang orang yang sedang hamil banyak keluhannya." Mas Hilman berkata tanpa menoleh kepadaku. Aku menatapnya tidak percaya, mungkin memang benar jika seperti itu kenyataannya, tapi kenapa ini sangat parah sekali? Sungguh sangat menyebalkan jika hal itu terus-terusan terjadi.
"Aku juga nggak mau Mas terus-terusan cucikan baju dia, hanya mencuci di mesin cuci saja apa dia tidak bisa?" tanyaku kepada Mas Hilman. Sudah hampir satu minggu ini dia pernah mencuci baju nya, tumpukan baju kotor menggunung di ruang pencucian. Biasanya Mas Hilman yang mencucikan bajunya, tapi beberapa hari ini dia sangat sibuk sekali dengan pekerjaannya sehingga tidak bisa mencuci baju milik Hana.
"Hana mual dengan bau deterjen," jawabnya.
"Bau minyak juga?" tanyaku kepadanya. "Sekarang ini hampir setiap hari aku yang masak lo. Mending kalau dia tidak rewel, aku pusing Mas, tadi dia bilang ingin makan spaghetti setelah jadi dia tidak mau," ucapku dengan kesal. Ingat dengan tadi sore saat dia berkata ingin makan spaghetti. Aku sudah membuatkannya seperti apa yang dia minta, tapi dia sama sekali tidak mau menyentuhnya. Hanya mencium aromanya seperti kucing yang membaui makanan.
"Sabar Yu, menghadapi orang hamil memang tidak mudah," ucapnya lagi.
"Kamu bisa bilang kalau aku harus sabar? Sampai kapan, Mas?" tanyaku dengan geram. Aku berpikir, kami hidup dalam satu rumah tugas pun seharusnya kami bagi bersama. Tidak peduli apakah dia sedang hamil atau tidak. Aku juga tidak akan memberatkan kepadanya, cukup dia melakukan pekerjaan yang ringan saja itu sudah cukup membantu buatku.
Mas Hilman menghela napasnya.
__ADS_1
"Aku minta maaf kalau Hana terus merepotkan kamu. Nanti aku akan bicara sama Hana. Maafkan aku tidak bisa mengurus dia dengan baik."