Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
228. Ingat Apa Kata Dokter!


__ADS_3

Semua keluarga senang mendengar berita gembira ini. Mereka mengucap syukur dan juga sangat bersuka cita dengan apa yang telah kami dapatkan. Rezeki yang tiada tara membuat kami semua sangat bahagia sekali.


Pukul sepuluh malam, semua orang telah benar-benar pulang dari rumah ini. Gara sudah tidur sedari tadi setelah lelah bermain bersama dengan cucu bibi. Tinggal kami berdua yang masih ada di ruangan keluarga sedang bersandar pada sofa dan Arga yang sedang merebahkan kepalanya di atas pangkuanku.


Rambutnya yang selalu lembut aku elus dengan pelan.


"Alhamdulillah, semua senang mendengarnya, Yu," ucap Arga. Dia tidak berhenti mengusap perutku yang masih rata.


"Iya, alhamdulilah. Aku gak nyangka antusias mereka tadi sangat besar sekali."


"Haha, tentu saja. Untuk papa, ini adalah cucu keduanya, dan untuk keluarga besar, anak kita ini akan menjadi cucu tertua kedua setelah Gara."


Aku mengerutkan kening, bingung dengan apa yang dia katakan barusan.


"Bingung ya?" tanyanya dengan sambil tertawa kecil.


"Papa kan anak tertua di keluarga ini, jadi keturunannya otomatis akan menjadi anak atau cucu tertua di keluarga besar Ramayudha," ucapnya menerangkan.


"Oh." Aku baru paham. Tidak pernah mengerti akan hal itu sebelumnya dan tidak pernah memikirkannya sama sekali meski aku sudah tahu jika papa adalah anak pertama keluarga ini.


"Mama sudah diberitahu belum? Aku belum ketemu mama sedari pagi," ucapku dengan rasa bersalah. Terlalu sibuk pergi ke rumah sakit dan pergi ke rumah ibu serta istirahat membuat aku sedikit abai terhadap mama hari ini.


"Belum. Aku tadi ke kamar Mama, tapi Mama sedang tidur," ucap Arga.


"Hei, anakku. Kapan kamu keluar? Papa sudah tidak sabar ingin jumpa dengan kamu," ucap Arga lalu mencium perutku dengan sangat lembut.


"Abang Gara juga, dia pasti gak sabar pengen cepet ketemu sama kamu," ucap Arga pelan.

__ADS_1


Menyebutkan nama Gara aku jadi teringat dengan anak itu. Betapa kesalnya tadi Arga kepada dia karena membuka rahasia yang seharusnya belum terungkap. Baru aku tahu saat bibi dan yang lainnya membuka bungkus kado tersebut isinya adalah rangkaian kata-kata yang jika dirangkai dengan benar akan menunjukkan keterangan jika aku sedang mengandung. Juga di sana ada gambar foto USG.


"Pa, kamu tidak boleh marah kepada Gara, ya soal yang tadi," pintaku pada Arga dengan pelan. Aku tidak menghentikan usapan lembut di kepalanya.


"Eh? Marah kenapa?" tanya Arga, dia menatapku dengan kening mengerut.


"Tadi, karena Gara gagalkan kejutan yang kamu buat," ucapku dengan takut. Akan tetapi, tidak aku sangka jika Arga tertawa setelahnya.


"Haha, kamu ini aneh. Aku gak akan marah, lah. Kenapa juga hanya karena itu aku marah?" Syukurlah, aku kira dia akan marah karena Gara tadi yang menggagalkan kejutan yang telah dia buat.


"Ya kali aja, Pa."


"Gak, lah. Kamu ini kok berpikiran ke sana, aku gak akan marah sama Gara."


"Ya kali aja. Kan kamu udah capek bikin semua tadi buat kejutan itu kan? Aku malah gak tau kamu bikin itu. Kapan?" tanyaku ingin memastikan.


"Aku gak akan marah, lah. Apa yang Gara lakukan tadi pasti karena dia sangat senang sekali mendapatkan seorang adik."


"Memang kamu gak kasih tau Gara untuk gak bilang isinya apa?" tanyaku penasaran. Aku pikir tadi mereka sudah kerja sama.


"Sudah, sih. Tadi Gara bilang iya, dia gak akan bicara. Mana tau kalau ternyata anak itu ... ah. Sudah lah. Bikin kesal," ucapnya lalu kembali melingkarkan tangannya di pinggangku dan melesakkan wajahnya di perut, membuat ku merasa geli.


"Tapi aku gak marah kok, cuma kesel aja!" ucapnya lagi dengan suara yang tertahan di perutku.


Aku tertawa kecil, bersyukur jika memang Arga tidak marah.


Arga kembali memutar tubuhnya dengan wajah yang kini menghadap ke atas. "Gara sangat senang sekali makanya dia bilang kayak gitu sama semua orang."

__ADS_1


"Iya."


Kami terdiam sejenak. "Ma," panggil Arga.


"Hem?"


"Kata dokter, kapan kita bisa ...." Arga terdiam tidak melanjutkan ucapannya.


"Kapan apa?"


"Itu," ucap Arga lagi.


"Apa?" tanyaku bingung.


"Pengen nengokin dedek bayi."


"Hus! Inget kata dokter. Tahan!" ucapku sambil menepuk keningnya.


Wajah Arga tertekuk kini dengan bibir yang mengerucut lucu.


"Yaaah, tega sekali tuh dokter larang buat nengokin dedek bayi."


Aku tertawa kecil melihat Arga yang seperti itu.


"Sabar. Lagian apa yang dibilangin dokter bener juga, Ga. Usia aku ini sudah gak muda untuk hamil, jadi ya ada resiko lain kalau gak bisa jaga kehamilan ini dengan baik," ucapku mengulang apa yang dokter katakan tadi. Arga mengangguk pasrah, dia berputar kembali menghadapkan wajahnya ke arah perut dan menciumnya beberapa kali.


"Papa akan ikut jaga kamu dengan baik, sampai kamu lahir ke dunia ini. Yuk, berjuang bersama dengan kami. Yang kuat kamu di sana, Nak."

__ADS_1


__ADS_2