My Secret Love

My Secret Love
103


__ADS_3

Azzam segera memberikan bimbingan untuk kedua anak bimbingan nya itu. Dia juga memberikan beberapa pertanyaan untuk mengetes pengetahuan kedua nya terkait proposal mereka. Husna sendiri dia sibuk memperbaiki penelitian nya itu sesuai dengan saran yang di berikan oleh suami nya. Kedua nya memang bersikap professional saat bekerja atau saat sedang serius. Mereka bisa membedakan mana waktu nya untuk serius dan mana waktu nya untuk bercanda.


Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya Azzam selesai memberikan bimbingan untuk Betty dan Andita.


“Terima kasih pak atas bimbingan nya. Semoga kami bisa menjawab semua pertanyaan penguji dengan baik. Kami akan berusaha untuk tidak mengecewakan bapak yang sudah selama ini membimbing kami.” ucap Andita tulus. Azzam pun hanya mengangguk saja.


“Ohiya, bagaimana perkembangan proposal yang lain?” tanya Azzam.


“Siapa maksud bapak?” tanya Andita bingung.


“Gilang sama yang lain nya.” timpal Azzam.


“Ouh mereka juga sedang berusaha agar bisa mendaftar sebelum pendaftaran proposal ini di tutup pak.” Jawab Andita.


“Kalau Ratna bagaimana?” kali ini Husna yang bertanya.


“Dia masih menyusun bab tiga Na.” jawab Betty.


Husna pun mengangguk, “Syukur lah jika memang begitu. Ohiya jika kalian butuh sesuatu atau ingin menanyakan sesuatu terkait proposal bisa bertanya kepada saya dan juga Azarine.” Ucap Azzam.


“Baik pak. Kami tidak akan sungkan nanti.” Ucap Betty.


“Tidak perlu sungkan. Bukan kah kau juga memang biasa nya begitu Bet.” Timpal Husna.


“Ouh ayo lah Na. Apa kau tidak ingin melihatku melakukan pencitraan sedikit. Aku juga ingin di kenal sebagai wanita baik.” ucap Betty.


“Emang seperti apa definisi wanita baik versimu?” tanya Husna.


“Hum, wanita baik itu tentu saja wanita yang lembut, rajin sholat, tidak suka bergosip dan rajin menabung.” Jawab Betty.


Ketiga orang di ruangan itu pun segera tertawa, “Oh God Betty kenapa di akhir ada rajin menabung sih seperti apa yang kita pelajari saja saat SD ketika di minta jadi anak yang baik.” ucap Husna tertawa.


Betty pun tersenyum mendengar ucapan Husna itu, “Na .. aku senang kalian tertawa dengan apa yang aku katakan. Sejujur nya saat aku sebelum ke sini aku sedih loh, takut nanti jika aku tidak akan terlihat ceria seperti biasa nya tapi ternyata apa yang aku khawatirkan itu tidak terjadi. Aku justru bisa membuat kalian tertawa.” Ucap Betty.


Husna segera menghentikan tawa nya begitu juga dengan Andita dan Azzam yang ikut diam. Husna mendekati Betty, “Ada apa? Apa kau ada masalah? Ayo cerita.” Ucap Husna.


Betty menatap Husna lekat lalu dia menggeleng dan di sertai senyum di bibir nya, “Bohong jika aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Bohong juga jika aku mengatakan bahwa aku tidak memiliki masalah hanya saja saat ini aku belum siap untuk membagi nya dengan kalian. Jika aku sudah siap nanti, aku janji akan cerita pada kalian. Bukan kah aku adalah orang paling tidak suka menyimpan sebuah informasi sendiri. Jadi tidak perlu khawatir, aku pasti akan menceritakan nya pada kalian.” ucap Betty masih dengan senyum di bibir nya.


Husna pun diam saja lalu mengangguk karena dia juga tidak mungkin memaksa Betty untuk bercerita jika anak itu belum siap bercerita. Bukan kah seseorang ketika dalam masalah memang butuh menenangkan diri nya sendiri dulu sebelum nanti membagi nya dengan yang lain.

__ADS_1


“Aku harap kau melakukan itu. Tidak perlu menyembunyikan apapun dari kami. Katakan saja masalahmu siapa tahu saja kami bisa membantu kan. Jika pun tidak bisa membantu setidak nya kami akan jadi pendengar yang baik.” ucap Andita.


Betty pun terharu mendengar itu lalu dia memeluk Andita dan juga Husna, “Baru bertemu kalian aku merasa memiliki teman yang sebenar nya. Kenapa kita baru semester ini dekat ya.” Ucap Betty.


“Tidak masalah dengan hal itu. Bukan kah waktu itu hanya sebagai alat ukur untuk menghitung sesuatu. Maka tidak perlu memikirkan hal itu, yang penting adalah bagaimana kita yang akan membina hubungan pertemanan ini agar tidak akan lepas dan tetap selalu bersama selalu.” Ucap Husna.


“Ahh aku menyukai hal ini. Tapi aku tidak suka menangis.” Ucap Betty menahan air mata nya agar tidak jatuh.


Husna pun tersenyum, “Hmm … kita makan siang bersama saja hari ini. Panggil juga yang lain.” Ucap Azzam tiba-tiba.


Ketiga wanita itu pun segera memandang Azzam lalu mereka mengangguk, “Idemu sangat bagus mas.” Ucap Husna menyetujui.


“Tapi emang bapak bisa ikut? Apa tidak ada kelas mengajar?” tanya Andita.


“Astaga Dita kenapa bertanya seperti itu? Bukan kah waktu makan siang itu arti nya waktu nya makan dan tidak ada untuk hal lain. Kenapa kau tidak paham konsep makan siang.” Ucap Betty.


“Aku paham.” Ucap Andita.


“Hey, apakah kau tersinggung?” tanya Betty.


“Hm, sedikit.” Balas Andita tersenyum.


“Ouh ayolah aku bercanda.” Ucap Betty.


Husna yang melihat itu ikut tersenyum lalu kemudian dia menatap suami nya.


“Ya sudah jika begitu kami serahkan menghubungi mereka kepada kalian untuk memberitahukan hal ini.” ucap Azzam.


“Beres pak. Biarkan ini jadi urusan kami.” ucap Betty dengan tangan nya membentuk hormat.


“Apa restoran nya bisa kami pilih sendiri juga pak?” sambung Betty bertanya tapi langsung mendapat kode dari siku dari Andita.


“Aish sakit Dit.” Ucap Betty meringis.


Azzam dan Husna yang melihat itu pun tersenyum, “Akan aneh jika kau tidak bertanya itu Betty. Aku pikir kau tidak akan menanyakan nya tapi ternyata hal itu sudah melekat. Jadi aku dan mas Azzam menyerahkan keputusan itu pada kalian. Nanti beritahu saja lewat chat di mana tempat nya. Kami percayakan semua nya pada kalian.” ucap Husna.


“Okay, baik lah nona muda Azarine sekaligus bu dosen.” Ucap Betty.


“He’ehh jangan panggil dia Azarine seperti itu. Cukup saya yang memanggil nya seperti itu. Saya tidak ingin ada orang lain yang memanggil nya seperti itu. Saya posesif.” Ucap Azzam.

__ADS_1


Betty dan Andita yang mendengar itu hanya bisa menganga lalu kemudian mengangguk. Mereka lupa bahwa suami dari teman sekaligus dosen mereka itu adalah pria dan suami yang posesif pada orang yang dia sayangi.


“Jangan lupa ajak Zahra juga ya.” Ucap Husna.


“Tentu saja Na. Mana mungkin kami melupakan si adik kecil itu.” balas Betty.


“Sudah cukup Bet. Ayo kita pulang. Kita sudah membuat kehebohan. Ayo kita segera lakukan apa yang harus kita lakukan.” Ajak Andita.


“Tunggu sebentar Dita, aku belum selesai.” Tahan Betty.


“Masih apa lagi sih?” tanya Andita.


Betty hanya tersenyum lalu menatap Husna dan juga Azzam kembali, “Apa masih ada yang ingin kamu katakan? Katakan saja. Tidak perlu ragu.” Ucap Azzam.


“Ahh itu begini pak. Hm, bisa tidak bapak menghubungi kedua asisten bapak itu untuk ikut bergabung makan siang juga. Agar saya dan Ratna ada teman pak. Masa iya kami tidak ada pasangan gitu. Kan sangat kasihan pak.” Ujar Betty.


Andita yang mendengar itu pun hanya bisa menepuk kening nya karena tidak menyangka Betty akan meminta hal itu, “Hum, tentu saja bisa. Eh tapi tunggu kenapa tidak kalian yang menghubungi saja.” ucap Azzam yang hendak mengambil ponsel nya.


“Itu pak kami takut jika mereka menolak nanti. Jika bapak kan pasti mereka patuh kan atasan mereka. Kalau kami mereka pasti menolak pak.” Ucap Betty.


“Alasan itu pak. Dia tidak punya nomor ponsel nya.” timpal Andita.


Betty yang mendengar ucapan Andita pun hanya bisa menatap tajam ke arah Andita tapi Andita mah bodoh amat dengan semua itu.


“Apa iya seperti itu?” tanya Husna tidak percaya bahwa Betty gagal dalam mendapatkan nomor seseorang padahal selama ini dia di kenal sebagai orang yang paling bisa di andalkan terkait hal seperti itu. Semua informasi dia ketahui.


Betty mengangguk dan menunduk, “Itu kegagalan pertamaku. Aku sudah mencoba tapi mereka menolak memberi dengan alasan itu adalah privasi dan mereka di larang memberikan nomor ponsel pada sembarang orang karena dapat mengganggu hasil kerja mereka.” jawab Betty.


Azzam pun terkekeh mendengar ucapan anak bimbingan nya itu, “Peraturan dari mana itu. Mereka hanya mencari alasan saja. Tidak perlu khawatir, saya akan meminta mereka untuk datang. Yah … walaupun untuk Abrar seperti nya perlu sedikit pemaksaan.” Ucap Azzam.


“Kenapa begitu?” tanya Andita refleks.


“Dia itu asisten bayangan saya. Dia hanya datang saat saya butuhkan saja. Selama ini dia bekerja di balik layar. Dia itu orang nya sangat mager. Jadi groomsmen di pernikahan saya saja itu karena di paksa.” Jelas Azzam.


“Jadi saya tidak bisa menjanjikan jika dia bisa ikut.” Lanjut Azzam.


“Mas hubungi saja dulu. Aku akan mencoba bicara dengan nya.” ucap Husna yang mengerti bahwa ada sesuatu yang sedang di rencanakan oleh kedua teman nya itu. Dan dia ingin ikut sedikit berpartisipasi dalam hal itu.


Azzam pun mengangguk lalu segera menghubungi Abrar dan dengan cepat langsung di jawab karena itu memang sudah menjadi kebiasaan nya karena dia tahu Azzam hanya menghubungi di saat genting, “Ada apa bos? Apa ada yang bisa saya bantu?” terdengar suara dari seberang.

__ADS_1


“Itu istri saya mau bicara denganmu.” Ucap Azzam.


“Hah? Istri bos? Maksud nya nona Husna?”


__ADS_2