
Kei kekeh ingin bertemu dengan putranya dan Addrian tidak ada alasan untuk menolak keinginan istrinya yang kondisinya sedang sakit itu.
Addrian keluar ruangan dan hanya melihat pada Akira yang duduk di sana. Akira seolah mengetahui jika dia di perbolehkan masuk ke dalam kamar mommynya.
"Mommy."
"Akira, kamu datang ke sini, Nak? Mommy sangat merindukan kamu, Akira."
Akira memeluk wanita cantik yang sedang terbaring lemas di atas ranjang. "Bagaimana keadaan Mommy sekarang?" tanya Akira dengan wajah bahagia bercampur sedih. Akira sangat takut jika terjadi apa-apa dengan mommynya itu.
"Mommy baik-baik saja. Kamu jangan mengkhawatirkan keadaan mommy, mommy akan sehat karena mommy ingin melihat cucu mommy lahir ke dunia ini." Wanita cantik itu tersenyum.
"Mommy akan sangat senang karena mommy tidak hanya akan mendapat satu cucu, tapi dua cucu sekaligus."
"Du-dua? Maksud kamu?"
"Nala hamil anak kembar, Mom. Aku akan menjadi ayah dari bayi kembarku."
"Oh Tuhan! Apa itu benar?" Mommy Kei tampak benar-benar terkejut. "Tapi bagaimana bisa kalian akan memiliki bayi kembar?"
"Aku sendiri tidak tau, dalam keluarga Nala dia tidak memiliki keturunan anak kembar."
Kei terdiam sejenak, dia seolah mengingat sesuatu. "Mommy ingat, Akira. Daddy kamu memiliki adik kembar."
"Apa? Daddy anak kembar? Tapi kenapa aku tidak pernah tau?"
"Ceritanya panjang. Daddy kamu sudah sangat lama tidak bertemu bahkan berkomunikasi dengan adik kembarnya itu. Dia seolah-olah menyembunyikan hal itu dari kalian."
"Menyembunyikan dari kita? Kenapa?" Akira tampak penasaran.
Namun, sebelum Kei menjawab pertanyaan Akira, seorang suster masuk ke dalam kamar Kei dan mengatakan jika sekarang waktunya pasien untuk beristirahat dan jam untuk membesuk sudah habis.
Akira memeluk mommynya sekali lagi dan mengecup kening mommynya kemudian dia keluar dari dalam kamar mommynya.
"Dad, kalau Daddy mau pulang untuk beristirahat, aku akan menjaga mommy di sini."
Pria paruh baya itu tidak menjawab sama sekali ucapan putranya. Dia kemudian berjalan pergi meninggalkan Akira di sana. Akira akan menunggu kedatangan Rhein di sana. Mungkin lusa dia akan kembali setelah memastikan semua baik-baik saja.
__ADS_1
Sore itu di rumah Seno, bibi Anjani sedang khawatir karena Nala dari tadi belum kembali dari pasar untuk membeli kue khas daerah perkampungan itu yang Nala sangat menyukainya.
"Tadi kenapa kamu biarkan Nala sendirian Anjanji?" tanya bibi Sekar yang sama bingungnya.
"Tadi aku sudah bilang sama Nala, biar aku saja yang membelikan kue itu, tapi Nala itu tidak suka berdiam diri di rumah. Katanya dia sekali ingin jalan-jalan ke pasar dan melihat-lihat apa saja yang bisa dia beli."
Tidak lama Seno datang dengan Ayu dari berkeliling kampung mencari Nala. "Maaf, aku tidak menemuka Nala, Bi. Di pasar juga sudah sepi kalau sudah menjelang sore begini," jelas Seno.
"Aduh! Lalu di mana Nala berada?" Bibi Anjani semakin cemas.
"Kamu tenang dulu, aku jadi ikutan cemas kalau begini?" Bibi Sekar memeluk sahabatnya.
"Seno, coba kamu minta tolong pihak berwajib begitu?"
"Tidak akan di proses, Bu. Lagian ini belum 24 jam, bisa saja mereka mengira Nala pergi dengan siapa."
"Oh ... kalau begitu coba tanya pada Radit, siapa tau bertemu dengan Nala."
"Radit, kan, sedang ada di cafenya, Bu. Aku akan coba beritahu dia, semoga Radit bisa menolong mencari tau di mana Nala."
Radit mencoba menghubungi ponsel Radit, tapi yang punya ponsel tidak menjawab. "Bagaimana, Seno?" tanya Ibunya cepat.
Saat mendengar itu seketika bibi Anjani ingat akan tawaran yang tadi pagi di kirimkan untuk Nala lewat pria suruhannya.
"Apa benar tuan besar Addrian sampai tega melakukan hal itu?" Bibi Anjani berpikir sebentar.
"Bisa juga, Anjani. Namanya juga dia tidak suka dengan Nala, dan malu jika semua orang tau jika putranya menikah dengan gadis biasa seperti Nala."
"Kalau begitu, Bibi hubungi saja Akira, siapa tau dia bisa menemukan Nala."
"Tapi Seno--. Akira sedang menjenguk ibunya yang sedang sakit. Apa tidak akan menimbulkan masalah baru lagi?"
"Ini juga hal penting, Anjani! Ingatlah kalau Nala sedang hamil, kamu mau terjadi apa-apa dengan keponakan dan cucu kamu?"
"Tentu saja tidak mau, Sekar."
"Ya sudah kalau begitu kamu cepat hubungi Akira, biar Akira tau tentang istrinya," desak bibi Sekar.
__ADS_1
Akira yang sedang duduk di depan kamar mommynya terkejut menerima telepon dari Bibi Anjani, dari tadi dia mencoba menghubungi Nala, tapi tidak bisa.
"Halo, Bi."
"Akira, Bibi mau bicara sama kamu, apa kamu sekarang ada di dalam kamar dengan ibu kamu?" suara bibi Anjani terdengar serius.
"Bi, ada apa? Kenapa terdengar suara Bibi yang terdengar cemas?"
"Akira, kamu tidak sedang bersama ibu kamu, kan?" tanya bibi Anjani memastikan, bibi Anjani tidak mau kalau sampai nanti ibunya Akira ada apa-apa mendengar hal ini."
"Aku sedang di luar kamar mommyku, Bi, katakan sebenarnya ada apa? Apa Nala baik-baik saja?"
"Itu yang mau bibi katakan sama kamu. Akira, Nala dari tadi jam sepuluh belum kembali dari pasar. Seno dan Ayu tadi mencari di sekitar pasar dan Nala tidak ada, bahkan sampai di cari keliling perkampungan juga tidak ada."
"Apa? Apa Nala pergi sendiri? Apa bibi sudah bertanya pada orang-orang di sekitar sana?"
"Tidak ada Akira. Nala juga tidak mungkin tersesat, dia sudah bolak-balik jalan ke pasar, jadi dia sangat hafal jalan menuju rumah Seno ke pasar."
"Oh, Tuhan! Kenapa ini bisa terjadi?" Akira langsung terlihat frustasi. Dia berpikiran apa ini perbuatan Silvia atau orang lain.
"Akira, bibi tau kamu sedang menghadapi masalah yang juga sedang terjadi, tapi masalah tentang Nala ini juga kamu harus tau."
"Bi, apa bibi sudah mencari di rumah Radit? Entah kenapa aku curiga sama dia."
"Radit? Seno tadi sudah menghubungi Radit, tapi tidak bisa, jadi Seno langsung ke tempat Radit, dia sedang ada di cafenya dari tadi."
"Bi, bibi tenang dulu, aku akan menghubungi beberapa orang kepercayaanku untuk ke sana mencari Nala."
"Akira, sebenarnya ada yang bibi curigai menculik Nala," ucap Bibi Anjani agak takut.
"Siapa yang bibi curigai menculik Nala?" tanya Akira serius.
"Daddy kamu," ucapnya masih pelan dan ada ketakutan terdengar pada suaranya.
"Apa? Daddyku? Tapi kenapa bibi bisa mencurigai daddyku?"
"Sebenarnya tadi pagi ada orang yang datang ke sini mencari Nala dan dia bilang dia adalah orang kepercayaan dari daddy kamu. Namanya pak Surya."
__ADS_1
"Pak Surya?" Akira berpikir sebentar. Sepertinya dia pernah mendengar nama itu?"