My Secret Love

My Secret Love
Insiden Part 2


__ADS_3

Kedua orang tua Anabella melihat dengan tatapan tajam dan marah pada Rhein. “Jaga bicara kamu Rhein, atau aku lupa jika kamu adalah anak dari sahabatku!” ancam maminya Anabella.


“Kenapa, Tante? Apa Tante sebagai maminya Anabella tidak tau kelakuan putri tercinta Tante itu? Dia bahkan pernah tidur denganku agar aku


mau bekerja sama untuk peluncuran produk terbaru milikku waktu itu.” Rhein tersenyum miring.


“Kakakku masih lebih baik, Rhein. Setidaknya dia bukan pelayan yang mau tidur dengan kakak kamu agar hidupnya menjadi lebih baik


daripada dia menjadi pelayan selamanya.”


“Jaga bicara kamu, Albert!” Tatapan dingin dan seolah ada api menyala di dalam mata Rhein, dia tujukan pada pria di depannya.


“Aku jadi penasaran dengan kakak ipar kamu itu, jangan-jangan dia mau denganku jika aku memberinya beberapa receh uang sebagai


bayaran dia menemani aku tidur.”


Tangan Rhein tanpa permisi langsung mencengkeram kra baju Albert dengan kasar. “Sudah aku bilang kalau Nala itu wanita terhormat, dia tidak akan tertarik meskipun kamu memberinya uang sebanyak yang kamu punya. Jadi jaga bicara kamu, Albert si pecundang!” Rhein menekankan kata-katanya.


“Lepaskan tangan kamu, Rhein! Kenapa kamu marah? Atau jangan-jangan kamu dan kakak ipar kamu itu juga menjalin hubungan di belakang kakak kamu?”


Hantaman sangat keras melayang tepat di wajah Albert. Pria dengan tinggi hampir setara dengan Rhein itu jatuh tersungkur di lantai.


“Albert!” teriak mamanya.


“Bangun!” Rhein menarik lagi baju Albert dan mereka akhirnya terlibat baku hantam. Rhein juga terkena pukulan dari Albert.


Kedua orang tua Akira dan Akira yang berdiri di


tengah-tengah acara tampak terkejut dan langsung bersama-sama menuju ke tempat


kerumunan orang-orang.  Mereka sangat


terkejut saat melihat Rhein dan Albert terlibat perkelahian.


“Rhein, ada apa ini?” tanya Kei ketakutan.


“Bi, tolong bawa Ara dan Aro pergi dari sini, mereka belum waktunya melihat hal ini,” ucap Nala cepat meminta tolong pada bibi Anjani.

__ADS_1


“Iya, Nala. Ayo sayang ikut nenek pergi dari sini.” Mereka berdua menurut dan ikut dengan bibi Anjani.


“Rhein sudah! Hentikan!” Akira mencoba melerai perkelahian mereka berdua.


“Lepaskan, Akira! Aku akan menghabisi pria brengsek yang tidak tau diri ini!”


“Rhein, cukup!” Bentak Addrian mencoba memegangi putranya. Albert yang mukanya sudah babak belur juga di pegangi oleh orang-orang di sana.


“Ada apa ini, Rhein? Kenapa kamu berkelahi dengan Albert? Apa soal wanita?” tanya Kei.


Rhein mendengus kesal menatap Albert. “Tanya saja sama pria brengsek itu. Dia sama brengseknya dengan kakaknya Anabella.” Rhein menghapus darah pada tepi bibirnya.


“Anabell? Memangnya apa yang dilakukan oleh Anabell?” tanya Akira heran.


“Tidak ada, Anabell hanya menceritakan tentang keburukan istri kamu dan si bodoh ini tidak sadar jika kakaknya lebih bobrok dari apa


yang dikatakan Anabella tentang Nala. Dia bahkan menghina dengan sangat buruk


tentang istri kamu.”


“Apa yang dia katakan tentang Nala?” tanya Akira dan sekarang gantian wajah Akira tampak marah, kedua rahang Akira seketika


“Dia mengatakan--.” Rhein tidak jadi melanjutkan kata-katanya karena di sana banyak orang-orang yang jelas nantinya akan


memandang Nala buruk, dan Rhein tidak mau Nala mendapat malu.”


“Apa, Rhein?” desak Akira.


“Yang jelas bukan hal yang sebenarnya tentang Nala. Namun, mulut pria ini malah berbicara yang tidak-tidak.


Akira mendekat ke arah Albert yang dipegangi oleh papinya. “Akira.” Nala mencoba menahan tangan Akira, tapi Akira malah melepaskan tangan istrinya.


“Aku bisa tau apa yang kamu katakan tentang istriku. Rhein tidak akan semarah ini jika kamu tidak berbicara yang keterlaluan tentang Nala.”


Ya! Bagaimanapun juga Akira tau sifat adiknya, apalagi jika ada orang yang menjelekkan wanita yang pernah dia cintai.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya tentang pelayan itu,” ucap Albert.

__ADS_1


“Akira, tolong maafkan anakku, Albert. Dia hanya mengatakan hal yang dia dengar,” mohon papinya Albert.


“Aku akan pastikan kamu menangis setelah ini, Albert. Aku akan hancurkan perusahaan seumur jagung milik kamu sampai tidak tersisa. Dan jika ada yang mau membantu kamu, dia akan bernasih sama dengan apa yang terjadi dengan kamu.” Akira melepaskan cengkaram tangannya.


“Kei, suruh kedua teman kamu ini pergi meninggalkan pesta ini,” ucap Addrian.


Kedua orang tua dan adik laki-laki Anabella langsung pergi dari sana. Acara pesta tampak tidak baik. Kebetulan sekali acara memang mau berakhir. Beberapa dari para tamu akhirnya pulang satu persatu hingga yang di sana hanya tinggal keluarga Akira.


“Oma, Opah, mereka tadi siapa? Dan kenapa orang itu berkelahi dengan Paman Rhein?”


Kei memberikan senyuman pada cucunya. “Tidak ada apa-apa, Sayang. Hanya terjadi salah paham saja antara mereka. Paman kamu dan orang itu sudah kembali baikkan,” bohonganya Kei.


“Paman Rhein apa mengalahakan orang tadi?” tanya Aro.


“Tentu saja paman menang, Paman paling tidak suka ada orang jahat yang berkata kasar dengan wanita, apalagi menyakiti wanita.”


“Rhein, sebenarnya apa tadi yang terjadi?” tanya Kei lirih sambil mengobati luka pada bibir putranya itu.


Rhein melihat ada dua keponakannya di sana. Kei yang tau tentang hal itu meminta tolong salah satu pelayan di sana membawa kedua cucunya menikmati kue tart yang masih ada.


“Albert dan kedua orang tuanya tau jika Nala adalah bekas pelayan di rumah kita, dan mereka seolah menghina Nala yang kenapa bisa menjadi istri dari Akira. Dan hal yang membuat aku emosi dan marah adalah saat Albert mengatakan jika Nala memang sengaja merayu Akira agar dia bisa merubah


nasibnya. Albert juga bisa memberi Nala banyak uang jika Nala mau tidur dengannya.”


Nala sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kei pun sama. “Berengsek! Aku akan benar-benar membuat dia menyesal telah berpikiran seburuk itu dengan istirku. Aku akan hancurkan keluarga mereka sampai mereka


menyesal dan memohon padaku.” Sekali lagi kedua rahang Akira mengeras.


“Aku tidak mau mengatakan hal itu di pesta tadi karena aku harus menjaga nama baik keluarga kita dan juga Nala.” Rhein melihat ke arah Nala.


“Maaf, karena diriku pesta ini berakhir dengan tidak baik.”


“Jangan berkata seperti itu Nala. Ini semua bukan salah kamu, aku benar-benar tidak menyangka jika Albert anak dari sahabatku itu bisa berbicara seburuk itu.” Kei sangat kesal dan marah dengan Albert.


“Sudahlah, Nala, sebaiknya kamu tidak perlu memikirkan hal ini. Ini adalah hari yang istimewah untuk kamu dan Akira. Daddy juga tidak mempunyai maksud apa-apa dengan merayakan pesta ini. Daddy ingin mengenalkan


kamu sebagai menantu keluarga Danner.

__ADS_1


Nala mengangguk perlahan, Akira memeluk istirnya itu, dan Rhein tidak melepaskan pandangannya pada Nala.


__ADS_2